Energi Juang News, Trenggalek– Pada suatu sore berkabut di lereng Watu Kandang, suasana syuting dokumenter tentang kesenian tradisi berubah mencekam ketika angin berembus membawa aroma bunga melati yang tiba-tiba menyengat. Ayu, salah satu kru yang awalnya hanya bertugas membantu koreografi, mendadak terlihat pucat. Warga sekitar mulai berbisik, mengatakan bahwa tempat itu memang sering menunjukkan tanda-tanda kehadiran makhluk tak terlihat. “Mbakyu, kayaknya kamu ga enak badan?,” ujar seorang warga bernama Pak Karyo yang mendekat dengan raut khawatir.
Sesaat kemudian, tubuh Ayu terguncang hebat dan matanya memandang kosong, seolah ada jiwa lain yang perlahan mengambil alih kesadarannya. Warga yang menonton dari kejauhan langsung merapat, sementara seorang ibu tua memejamkan mata sambil bergumam doa. “Ini bukan penyakit biasa,” bisik seorang pemuda desa. Aura di sekitar Ayu berubah, udara menjadi lebih dingin, seolah sosok tak kasatmata merambat masuk ke tubuhnya. Rara, sahabat dekat Ayu, memegang bahunya sembari berkata, “Yu, sadar, tolong lihat aku.”
Beberapa detik kemudian, Ayu membuka mata dengan tatapan yang bukan miliknya. Senyumnya melengkung lambat dengan cara yang membuat bulu kuduk meremang. Dari bibirnya keluar suara halus namun berat, nada khas seorang wanita Jawa tempo dulu. “Siapa sing mencela aku?” Suara itu membuat warga makin panik. Pak Karyo menarik Rara menjauh sambil berucap, “Ini enggak baik, ada yang merasuki tubuhnya.” Keheningan merayap, seolah seluruh bukit menahan napas.
Saat itulah Mbah Pri, sesepuh Desa Pandean, datang dengan langkah mantap meski wajahnya tampak serius. Ia menatap Ayu yang kini telah dikuasai sosok misterius, lalu bertanya dengan suara rendah yang tetap berwibawa. “Siapa kamu!!, sosok apa yang masuk kedalam tubuh Ayu?” Sosok dalam tubuh Ayu tersenyum tipis sebelum menjawab dengan nada datar, “Aku sudah lama bersemayam disini, tak semua orang mau menerima kehadiranku.” Warga bergidik, menyadari bahwa yang berbicara bukan lagi Ayu.
Mbah Pri kembali bertanya, suaranya kali ini lebih menekan. “Disini ada yang mengambil batu Jimat, kenapa kamu memilih dia? Malah memilih tubuh gadis ini?” Jawaban sosok itu membuat suasana kian gelap. “Yang mencuri tak layak jadi wadahku. Aku milih yang hatinya lebih bening.” Kalimat itu menimbulkan gumaman warga, beberapa tampak saling menatap penuh tanya.
Ketika Mbah Pri mencoba mendekat, tubuh Ayu menegang keras dan suara itu kembali berbicara, mengungkapkan identitasnya. “Namaku Sarinten, sinden dari Bayuwangi yang memilih tinggal di Watu Kandang ini.” Kalimat itu membuat beberapa warga mundur selangkah. Seorang ibu berbisik pada tetangganya, “Aku pernah dengar cerita ini, tapi tak disangka beneran muncul.” Aura dingin semakin pekat, seakan sosok itu membawa dunia lamanya ke hadapan mereka.
Salah seorang warga, Pak Jati, memberanikan diri bertanya, “Kalau kamu sinden, kenapa milih Ayu? Apa yang kau inginkan?” Sosok Sarinten yang menempati tubuh Ayu menoleh perlahan, matanya berkilat lirih. “Aku bukan cuma mencari wadah, aku mencari suara. Suara dan jiwa yang bisa menjadi tempat persemayamanku, mengucap tembang yang belum selesai.” Kata-kata itu membuat banyak orang tak berani lagi berdiri terlalu dekat.
Rara mencoba mendekat, namun tiba-tiba pandangan Ayu yang kerasukan Sarinten memandangnya dengan tatapan gelap. “Jangan mendekat, kau menggangguku,” ujarnya dengan nada tajam. Rara tersentak dan mundur, menutupi mulutnya yang bergetar. “Aku cuma mau bantu Ayu…” katanya lemah. Sosok itu kemudian tertawa tipis dan menambahkan, “Aku tak suka kedekatanmu. Rasa iri ini masih ada, meski aku aku tak punya raga lagi.”
Warga sekitar yang menyaksikan kejadian itu mulai berusaha menenangkan Rara, sementara Mbah Pri melakukan doa untuk menetralisir energi yang menguasai Ayu. “Kau harus keluar, ini bukan tempatmu!!” ujar Mbah Pri sambil menaburkan bunga setaman. Namun sosok itu menjawab dengan suara yang bergetar marah, “Aku sudah lama bergentayangan, ini tubuh yang aku pilih. Siapapun tak bisa mengusirku.”
Proses penarikan arwah berlangsung lama, penuh teriakan dan suara tembang lirih yang terdengar seperti berasal dari masa lampau. Beberapa warga menutup telinga karena merasakan nyeri ketika suara itu mengalun. Setelah berjuang dengan bacaan doa dan mantra, tubuh Ayu akhirnya rubuh dalam pelukan Rara. Warga menarik napas lega, namun Mbah Pri hanya menatap Watu Kandang dengan sorot berat. “Cerita belum usai. Sarinten bakal balik lagi kalau ada yang mengganggu.” Dan malam itu, seluruh desa sepakat untuk tidak lagi meremehkan tempat yang menyimpan sejarah dan arwah yang belum usai perjalanannya.
Redaksi Energi Juang News



