Energi Juang News, Wonogiri– Kereta sore rute panjang menuju Jakarta selalu punya cerita, tetapi hari itu, kisahnya akan jauh lebih heboh daripada drama TV yang suka bersuara lebih keras dari speaker masjid. Di antara gelombang penumpang yang berdesakan bak ikan pindang dalam keranjang, seorang pemuda bengal bernama Petong (nama samaran) berdiri gagah (menurut dirinya sendiri) membawa ransel, harapan besar, dan riwayat pencarian `parno` di ponsel yang nggak mau dia hapus-hapus.
Ia merantau dari Wonogiri menuju Jakarta demi mengubah nasib. Tapi, selain niat yang mulia itu, Petong juga punya kebiasaan `bermimpi indah` sambil menonton hal-hal yang membuat pipi orang normal merona kalau ketahuan. Kebiasaan itu tentu saja mencetak bias tersendiri dalam otaknya otomatis menilai setiap perempuan yang dilihatnya seperti juri kontes kecantikan.
Kisah ini bermula ketika Petong tiba di kursi yang sudah ia pesan, tetapi mendapati seorang gadis duduk di sana. Gadis itu bernama Surti, pekerja asal desa yang hendak kembali ke Semarang setelah cuti. Wajahnya manis, posturnya sederhana, dan gaya bicaranya kalem seperti iklan obat batuk tanpa efek samping, kecuali punya `sampingan`.
Karena duduk berdampingan bukan pilihan, melainkan takdir, mereka pun mulai mengobrol `ngalor-ngidul`. Petong, dengan gaya sok ramahnya, mencoba membuka percakapan. Surti yang polos hanya menjawab apa adanya. Mereka kadang tertawa kecil, kadang saling melempar pandang sopan.
Ketika malam turun, suhu gerbong mendadak dingin seperti kulkas warung kopi di gunung. Lelah dan ngantuk tanpa sadar, saat kereta menikung, lengan mereka bersentuhan. Kejadian sepele ini membuat keduanya sedikit kaget, tapi karena tidak enak saling menjauh, keduanya bertahan di posisi awal seperti dua anak kucing kedinginan yang pura-pura tegar.
Petong pun melihat peluang. Ia mengeluarkan jurus khasnya `Ajian Sikut Kencono`, yaitu teknik menyikut perlahan dengan gaya pura-pura tidak sengaja tetapi niatnya sangat sengaja. Sikut itu perlahan merambah wilayah-wilayah yang menurutnya “memerlukan survei demografis pribadi”. Surti yang polos awalnya bingung, lalu kikuk, lalu… ya, hanya bisa menahan diri sembari bertanya-tanya apakah ini normal di kereta jarak jauh?…
Melihat respons Surti tidak melayangkan tamparan sakti, Petong makin percaya diri. Ia mulai melancarkan gombal tingkat pesulap acara TV malam minggu. Hingga makin lama, Petong merasakan getaran sentolop yang tak bisa ia alihkan. Ia pun mencoba ide yang bakal membuat kita pun geleng-geleng kepala, mengajak Surti berbincang lebih privat di toilet gerbong.
Toilet kereta itu sudah terkenal sebagai “toilet laknat”. Penyebabnya sederhana tempat itu bau mistis, pintu seret, lampu remang-remang, dan suara tek-tek-tek yang tidak pernah jelas sumbernya. Masuk ke sana saja sudah cukup membuat iman seseorang goyah, apalagi kalau berniat hal lain.
Tapi demi alasan “kepingin ngomong pribadi tanpa batas”, Petong tetap mencoba. Surti yang polos dan mungkin sedikit terpengaruh suasana malam akhirnya ikut.
Mereka masuk bergantian agar tidak mencolok. Rencana yang, bagi mereka, terasa jenius. Tapi bagi siapa pun yang pernah naik kereta ekonomi, itu jelas ide bodoh.
Lambat laun di dalam toilet sempit dan bergoyang itu, suara-suara aneh mulai terdengar.
Kadang suara sandal kepleset, suara Petong yang panik karena kepalanya nyundul gantungan jaket bahkan suara Surti yang bilang “sssst!” karena takut ketahuan berpadu suara deru laju kereta.
Saking berisiknya penumpang yang di luar toilet mulai terbangun.“Mas, itu suara apa?”tanya ke penumpang sebelahnya.“Kayak ada kucing berantem.” jawabnya.
“Apa ada setan toilet?”tanya yang lainnya.“Wah, jangan-jangan ada yang pingsan!”
Saat penasaran sudah mencapai puncak, salah satu penumpang mengetuk pintu dengan keras. “hallloo….ada orang????”
Pintu `toilet laknat` pun terbuka… perlahan… seperti adegan horror.
Dan di sana terlihat penumpang kaget memergoki Petong dan Surti dalam posisi super kikuk, rambut berantakan, wajah merah, dan ekspresi seperti tikus got basah.
Melihat kejanggalan itu, penumpang langsung memanggil sekuriti. Petong berusaha menjelaskan dengan gugup bahwa mereka “hanya terpeleset bersama di toilet”. Penjelasan itu terdengar seperti alasan murid SD yang ketahuan membawa petasan ke kelas.
Surti hanya menunduk malu, menyesali semua keputusan dalam hidup lima jam terakhir. Sekuriti kereta geleng-geleng kepala seperti guru BK yang baru saja menemukan muridnya tidur di kolong meja. Mereka digiring kembali ke kursi, diberi teguran keras, dan menjadi tontonan gratis seluruh gerbong sampai kereta berhenti. Kadang, petualangan paling memalukan adalah guru terbaik.
Redaksi Energi Juang News



