Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
BerandaOjo LaliKelewat Gaya Hedon, Sejoli Berakhir di "Hotel Prodeo"

Kelewat Gaya Hedon, Sejoli Berakhir di “Hotel Prodeo”

Energi Juang News, Depok– Kisah perbuatan Sejoli ini terkadang tidak lahir dari niat kriminal kelas berat, melainkan dari keinginan tampil hedon yang tidak sesuai dengan isi dompet. Begitu pula cerita tindakan tercela yang menimpa dua sejoli asal Depok, sebut saja Pelor dan Peni (bukan nama sebenarnya), Peni pengangguran yang gaya hidupnya bak sosialita, dan Pelor yang kondisi finansialnya mirip dompet kantong kresek, tampak tipis, ringkih, dan mudah sobek. Mereka seperti Pasangan Romi dan Juli versi `ruwet` yang siap liburan ke Bali tiap akhir pekan; padahal, untuk sekedar urusan perut pun masih harus ` ngutang segunung` di banyak warteg.

Pelor, lelaki dengan mimpi setinggi gedung SCBD tapi pekerjaan sebagai juru parkir ilegal minimarket, tak mungkin mengejar mimpi. Setiap hari ia berdiri sambil meniup peluit, seakan tengah mengatur parkiran pesawat jet pribadi. Orang bilang mimpi itu gratis, tapi ternyata gaya hidup mengikuti mimpi itulah yang mahal. Sementara itu, Peni mantan pegawai restoran Padang yang dipecat karena keterampilan menyembunyikan duit setoran lebih lihai daripada koki menyembunyikan rahasia bumbu rendang. Dan sekarang ia hidup dengan `nebeng` di kontrakan sahabatnya, Weni.

Nah, Weni ini berbeda level. Ia seperti versi “download premium” dibanding Peni yang masih “trial 7 hari”. Rumah kontrakan Weni penuh barang mewah yang berserakan seolah katalog showroom berjalan: iPhone terbaru, perhiasan emas, hingga motor mentereng yang tampak selalu siap diajak healing dadakan.

Dari kesenjangan inilah masalah Peni bermula, perpaduan antara gaya hidup hedon, dompet tipis, dan godaan barang mewah di depan mata adalah resep bencana yang lebih cepat bekerja daripada mie instan tiga menit. Seperti pepatah lama: kesempatan datang bukan hanya sekali, tapi pikiran setan selalu datang berkali kali. Ia tahu persis kapan Weni biasanya pergi dan berapa lama rumah kosong. Dengan bekal informasi itu, ia merekrut Pelor menjadi partner in crime meski sebenarnya Pelor lebih pantas disebut partner in kere.

Saat hari eksekusi tiba, mereka masuk ke rumah Weni dengan wajah yang lebih serius daripada penjaga ujian nasional. Mereka menjarah apapun yang bernilai tinggi: iPhone, perhiasan emas, motor, hingga barang-barang kecil yang sebenarnya tidak penting tapi lumayan dijual.

Begitu rampasan terkumpul, mereka kabur ke Cibinong kampung halaman Peni seolah daerah itu zona bebas dosa. Di sana, hasil jarahan mereka dijual satu per satu. Ketika uang mulai mengalir, gaya hidup berubah drastis. Pelor yang biasanya minum kopi sasetan, tiba-tiba nongkrong sambil pesan kopi susu literan. Peni membeli sandal baru model kekinian, meski ukurannya kebesaran dua nomor. Mereka menikmati hidup seperti raja dan ratu versi KW super.

Namun sebagaimana hukum alam, kejahatan itu seperti sandal jepit di musim hujan, cepat atau lambat pasti hilang atau terpeleset. Yang mereka tidak sadari Weni ternyata tak tinggal diam. Begitu melihat rumahnya porak-poranda, ia langsung curiga. Dan seperti dalam sinetron investigasi, ia mengikuti jejak digital, gerak-gerik mencurigakan, dan kabar dari tetangga, hingga berhasil menemukan keberadaan mereka. Tapi Weni tidak datang sendirian; ia membawa polisi yang sudah siap menggulung dua sejoli itu.

Ketika polisi muncul, drama berlangsung singkat. Pelor, yang biasanya lihai mengatur parkir, mendadak kaku seperti kerucut lalu lintas. Peni mencoba tersenyum seolah semua ini salah paham, tapi polisi tetap menggiring mereka tanpa ampun. Tidak ada baku hantam, tidak ada aksi kejar-kejaran.

Berdasar bukti bukti akhirnya pasangan itu meringkuk di balik jeruji besi, merasakan dinginnya lantai `hotel prodeo` .Jika ada pelajaran yang bisa diambil, mungkin ini: gaya hidup hedon tanpa pasokan dompet kuat hanyalah jalan pintas menuju masalah. Pelor dan Peni memilih jalan pintas yang terlihat indah dari jauh, tapi ternyata penuh kerikil tajam. “Hidup memang keras, Bro, tapi jangan ditambah keras kepala.” Barangkali itulah adegan terakhir dari Aktor Pelor with Peni berakhir penyesalan.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments