Minggu, Maret 8, 2026
spot_img
BerandaEkonomi & BisnisRial Jatuh Bebas: Nilai Tukar Iran Tembus 1,45 Juta per Dolar AS

Rial Jatuh Bebas: Nilai Tukar Iran Tembus 1,45 Juta per Dolar AS

Energi Juang News, Teheran- Pada awal 1979, ketika revolusi Iran mengguncang negeri itu, satu dolar AS hanya setara dengan 70 rial. Kini, empat dekade berlalu, lonjakan angka mengejutkan dunia nilai tukar menembus 1.457.000 rial per dolar AS (14/1/2026). Kejatuhan ini menegaskan betapa dalamnya krisis ekonomi yang menimpa Iran di tengah gejolak politik dan tekanan global.

Sanksi dan Inflasi Mencekik Ekonomi

Menurut laporan Euro News (14/1/2026), sanksi internasional, inflasi ekstrem, serta keterisolasian diplomatik menjadi faktor utama di balik keruntuhan mata uang Iran. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memberlakukan sanksi berat pada September 2025 setelah Dewan Keamanan gagal memperpanjang keringanan sebelumnya. Embargo senjata, pembatasan program rudal, serta pembekuan aset dan larangan perjalanan kini kembali menghantam ekonomi Teheran.

Baca juga : Iran Tegang! Wilayah Udara Ditutup Total di Tengah Krisis dan Ancaman AS

Uni Eropa pun memperketat langkah serupa, terutama terkait catatan pelanggaran HAM dan peran Iran dalam memasok drone ke Rusia selama invasi Ukraina.

Pendapatan Minyak Iran Terpuruk

Proyek nirlaba Iran Open Data mencatat, “Iran kehilangan sekitar 20 persen potensi pendapatan ekspor minyak karena upaya menghindari sanksi AS, meski penjualan ke China dan Malaysia meningkat.” Jalur distribusi minyak yang semakin rumit membuat biaya melonjak dan pemasukan negara kian menurun.

Sepanjang 2025, rial sudah kehilangan sekitar 45 persen nilainya. Dampaknya, daya beli masyarakat terus anjlok, tabungan tergerus, dan kepercayaan pada sistem perbankan domestik menghilang.

Inflasi Meninggi, Harga Makin Tak Terkendali

Data resmi menunjukkan inflasi tahunan Iran mencapai 42,2 persen pada Desember 2025. Harga pangan, sewa rumah, dan barang impor naik tajam. Banyak keluarga kini beralih menabung dalam dolar AS, emas, atau properti sebuah upaya melindungi nilai yang justru semakin menekan mata uang nasional.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan inflasi Iran bertahan di kisaran 42 persen untuk 2025, naik dari 33 persen tahun sebelumnya. Kenaikan tajam ini otomatis melemahkan nilai tukar, karena lebih banyak rial dibutuhkan untuk membeli barang impor yang sama. Tekanan terbesar dirasakan sektor-sektor yang bergantung pada bahan dari luar negeri, seperti pangan dan farmasi.

Jalan Terjal Pemulihan

Para ekonom menilai, masa depan rial ditentukan oleh kemampuan pemerintah Iran menekan inflasi, menarik arus devisa, dan mengembalikan kepercayaan publik. Tanpa langkah nyata, siklus melemahnya mata uang akan berulang mendorong biaya hidup semakin tinggi dan memperdalam luka ekonomi rakyat Iran.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments