Senin, Juni 1, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaGreenland: Antara Ambisi Politik dan Krisis Iklim

Greenland: Antara Ambisi Politik dan Krisis Iklim

Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Greenland hari ini bukan sekadar pulau berlapis es di ujung dunia, tetapi cermin tarik‑menarik antara ambisi geopolitik dan tanggung jawab iklim global. Pulau seluas lebih dari 2,1 juta kilometer persegi ini tiga kali luas Kalimantan dihuni hanya sekitar 56.000 jiwa, mayoritas Inuit, namun menyimpan cadangan mineral strategis dan lapisan es raksasa yang menjadi salah satu penentu masa depan iklim bumi.​

Greenland dan obsesi Amerika

Minat Amerika Serikat atas Greenland bukan ledakan sesaat di era Donald Trump, melainkan babak terbaru dari sejarah panjang upaya pembelian sejak 1867 dan 1946 yang selalu berakhir dengan penolakan Denmark. Kini, dengan Donald Trump kembali berkuasa dan retorika “Greenland demi keamanan nasional” menguat, motifnya lebih telanjang: mencegah Rusia dan China memperkokoh pengaruh militer dan ekonominya di Arktik, sekaligus mengamankan posisi AS di jalur strategis GIUK Gap dan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik yang menjadi garda peringatan dini rudal dan pengawasan ruang angkasa. Greenland, dalam logika Washington, adalah benteng es yang harus dikuasai sebelum lawan melangkah lebih jauh.​

Kekayaan mineral yang menggoda

Di bawah es dan batuan Greenland tersimpan logam tanah jarang dari neodimium hingga lanthanum yang menjadi nadi teknologi kendaraan listrik, turbin angin, ponsel pintar, dan sistem senjata canggih. Kajian geologi menyebut Greenland memiliki beberapa deposit besar, termasuk eudialit skala raksasa di selatan dan kawasan Kvanefjeld yang total sumber dayanya diperkirakan mencapai miliaran ton bijih dengan kandungan unsur tanah jarang, meski banyak yang masih berstatus sumber daya tersirat dan sangat sulit diolah. EU dan AS sudah menandatangani kerja sama untuk mengamankan pasokan ini, menjadikan Greenland simpul penting dalam rantai pasok energi bersih ironis, karena cara mendapatkannya berpotensi sangat kotor.​

Baca juga :  Menganggap Pengkritik 'Tidak Patriotik': Presiden Gagal Paham Konstitusi

Eksploitasi yang mengacaukan iklim

Lapisan es Greenland adalah massa es terbesar kedua di dunia, menutupi sekitar 80 persen daratannya, dengan ketebalan di beberapa bagian lebih dari 3.000 meter. Jika seluruh lapisan es ini mencair, permukaan laut global diperkirakan naik sekitar 7,4 meter cukup untuk menenggelamkan banyak kota pesisir dunia dan memaksa eksodus manusia dalam skala belum pernah terjadi. Saat ini saja, Greenland menyumbang sekitar seperlima kenaikan permukaan laut, dan laju pencairannya melompat tajam dalam dua dekade terakhir, menandakan sistem es ini kian keluar dari keseimbangan.​

Eksploitasi besar‑besaran atas mineral Greenland akan memperburuk situasi ini. Untuk menambang logam tanah jarang dari batuan kompleks seperti eudialit, dibutuhkan proses kimia intensif yang kerap melibatkan bahan beracun dan risiko ikut terbawanya unsur radioaktif seperti uranium dan thorium. Di wilayah dengan infrastruktur minim, pengawasan lemah, dan ekosistem rapuh, kebocoran limbah akan merusak tanah, air, dan laut Arktik yang selama ini menjadi rumah bagi flora dan fauna yang sangat khusus.​

Penjaga masa depan, bukan ladang tambang

Mencairnya es Greenland membuka jalur pelayaran dan memudahkan akses tambang, tetapi sekaligus mempercepat krisis yang mengancam semua negara, termasuk Amerika Serikat yang mengklaim bertindak atas nama keamanan nasional. Ketika lapisan es yang selama ini memantulkan radiasi matahari menyusut, albedo bumi menurun, lautan menyerap lebih banyak panas, dan lingkaran setan pemanasan global berputar kian cepat.​

Rakyat Greenland dan Denmark sudah jelas menyatakan: Greenland tidak untuk dijual. Penolakan itu bukan sekadar soal kedaulatan politik, tetapi juga penegasan bahwa pulau ini bukan papan catur untuk ambisi adidaya, melainkan salah satu penopang terakhir stabilitas iklim planet. Jika Greenland pada akhirnya diperlakukan hanya sebagai sumber mineral yang harus diperas, dunia mungkin akan memperoleh magnet dan baterai murah tetapi dengan harga hilangnya garis pantai, kota, dan masa depan iklim yang layak huni bagi generasi berikutnya.

Baca juga :  Kekerasan Oknum Tentara di Tangsel: Ketika Prinsip Negara Hukum Dikangkangi

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments