Minggu, Maret 15, 2026
spot_img
BerandaInternasionalRibuan Loyalis Mengguncang Libya, Iringi Pemakaman Saif Al Islam

Ribuan Loyalis Mengguncang Libya, Iringi Pemakaman Saif Al Islam

Energi Juang News, Tripoli- Ribuan warga Libya memadati kota Bani Walid untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Saif Al Islam, putra mendiang Muammar Khadafi, usai penembakan mematikan di rumahnya di Zintan. Suasana duka bercampur kemarahan mewarnai prosesi pemakaman yang menandai memori pahit konflik berkepanjangan di negara Afrika Utara itu.

Prosesi pemakaman di Bani Walid

Ribuan pendukung setia menghadiri pemakaman Saif Al Islam yang tewas ditembak mati oleh geng bersenjata tak dikenal di kediamannya di Zintan. Pemakaman berlangsung pada Jumat (6/2) di Bani Walid, sekitar 175 kilometer di selatan Tripoli, dan menjadikan kota itu lautan massa berkabung.

Hampir 15 tahun setelah Muammar Khadafi digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan yang didukung NATO pada 2011, kehadiran massa ini menunjukkan basis loyalis keluarga Khadafi masih bertahan. Banyak di antara mereka melihat Saif Al Islam sebagai sosok harapan yang terputus oleh peluru di tengah kekacauan politik yang belum berakhir.

Detik-detik penembakan di Zintan

Saif Al Islam tewas pada Selasa (3/2) di rumahnya di Zintan, wilayah barat laut Libya. Kantornya menyebut ia meninggal dalam “konfrontasi langsung” dengan empat penembak tak dikenal yang menerobos masuk ke kediamannya.

Kantor jaksa agung Libya menyatakan penyelidik dan dokter forensik telah memeriksa jenazah pria berusia 53 tahun itu dan memastikan penyebab kematian berasal dari luka tembak. Pihak kantor Saif Al Islam kini berupaya mengidentifikasi para pelaku penembakan tersebut.

Suara para pendukung setia Khadafi

Salah satu loyalis yang hadir di pemakaman adalah Waad Ibrahim, perempuan 33 tahun asal Sirte yang menempuh perjalanan hampir 300 kilometer menuju Bani Walid. Ia menggambarkan pemakaman itu sebagai momen perpisahan sekaligus perlawanan batin bagi para pendukung Khadafi.

Kami di sini untuk mendampingi orang yang kami cintai, putra pemimpin kami yang kami harapkan dan masa depan kami,” katanya, dikutip dari Aljazeera pada Jumat (6/2). Bagi sebagian massa, kepergian Saif Al Islam memutus garis harapan politik yang pernah mereka gantungkan pada keluarga Khadafi.

Jejak politik dan citra reformis Saif

Saif Al Islam pernah mendapat julukan sebagai perdana menteri de facto pada masa pemerintahan otoriter ayahnya yang berlangsung sekitar 40 tahun, meski secara formal ia tak memegang jabatan resmi. Ia membangun citra sebagai tokoh moderat dan reformis di tengah rezim yang dikenal keras.

Dengan mengusung peran reformis, ia memimpin pembicaraan yang membawa Libya menghentikan program senjata pemusnah massal serta menegosiasikan kompensasi bagi keluarga korban ledakan pesawat Pan Am Flight 103 di atas Lockerbie, Skotlandia, tahun 1988. Langkah ini sempat mengubah persepsi internasional terhadap Libya sebelum revolusi 2011 meletus.

Citra runtuh dan kasus di Mahkamah Kriminal Internasional

Reputasi Saif Al Islam runtuh drastis ketika ia mengancam akan “mengalirkan darah” sebagai respons terhadap pemberontakan 2011. Pernyataan itu menjadi titik balik yang menempel kuat dalam ingatan publik internasional.

Pada tahun yang sama, ia ditangkap berdasarkan surat perintah Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Status hukumnya menambah kompleksitas sosok Saif di mata dunia, antara reformis dan terdakwa pelanggar HAM.

Ambisi maju presiden dan politik Libya yang terbelah

Pada 2021, Saif Al Islam mengumumkan niat maju sebagai calon presiden Libya dalam pemilu yang diharapkan bisa menyatukan negara di bawah perjanjian PBB. Namun pemilu itu akhirnya ditunda tanpa batas waktu dan membuka ruang ketidakpastian politik yang berlarut-larut.

Hingga kini, Libya tetap terpecah antara pemerintah yang didukung PBB di bawah Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibah yang berkantor di Tripoli dan administrasi di timur yang disokong Khalifa Haftar. Di tengah duopoli kekuasaan itu, banyak pihak memandang Saif Al Islam sebagai alternatif yang kini telah tiada.

Pembunuhan dan dinamika kekuasaan terbaru

Pembunuhan Saif Al Islam terjadi kurang dari sepekan setelah pertemuan pada 28 Januari di Istana Elysee, Prancis, yang mempertemukan putra Khalifa Haftar dan penasihat Abdul Hamid Dbeibah. Momentum ini memicu spekulasi baru mengenai peta kekuasaan dan kompromi politik di Libya pasca kematiannya.

Di mata para pendukung, kematian Saif Al Islam bukan hanya akhir perjalanan seorang tokoh politik, melainkan juga simbol pudarnya satu opsi jalan keluar dari kebuntuan politik yang menjerat negara tersebut. Namun bagi lawan-lawannya, peristiwa ini justru bisa menggeser ulang kalkulasi kekuatan di panggung politik Libya.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments