Energi Juang News, Sri Jayawardenepura Kotte- Ketegangan global kembali meningkat setelah sebuah kapal perang milik Iran tenggelam di perairan dekat Sri Lanka. Insiden ini terjadi ketika konflik di Timur Tengah semakin memanas dan melibatkan kekuatan militer dari berbagai negara.
Kapal tersebut dilaporkan tenggelam setelah diserang torpedo dari kapal selam Amerika Serikat pada Rabu (4/3/2026). Peristiwa itu menewaskan puluhan awak kapal dan memicu operasi pencarian besar-besaran di laut lepas.
Serangan Kapal Selam AS di Dekat Sri Lanka
Peristiwa ini terjadi di perairan internasional sekitar 40 kilometer selatan kota Galle, Sri Lanka. Kapal perang Iran yang menjadi sasaran diketahui tengah berlayar setelah mengikuti latihan militer di pelabuhan Visakhapatnam, India.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan kapal selam AS meluncurkan torpedo yang langsung menghantam target.
“Sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional. Sebaliknya, kapal itu ditenggelamkan oleh torpedo,” kata Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dikutip dari AFP, Rabu (4/3/2026).
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik Timur Tengah setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari.
Serangan Torpedo Pertama Sejak Perang Dunia II
Hegseth menyebut operasi tersebut menjadi momen langka dalam sejarah militer Amerika Serikat.
Baca juga : Drone Iran Tabrak Kapal Induk USS Abraham Lincoln
Menurutnya, ini merupakan pertama kalinya AS menenggelamkan kapal musuh menggunakan torpedo sejak berakhirnya Perang Dunia II.
“Seperti dalam perang itu, kita berjuang untuk menang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketegangan militer antara pihak-pihak yang terlibat kini telah memasuki tahap yang lebih serius.
87 Pelaut Tewas, Puluhan Masih Hilang
Angkatan laut Sri Lanka menemukan sedikitnya 87 jenazah pelaut dari lokasi kejadian di sekitar perairan Galle. Namun hingga kini, 61 awak kapal lainnya masih belum ditemukan.
Seorang pejabat angkatan laut Sri Lanka mengatakan tim penyelamat masih terus melakukan pencarian di area laut sekitar lokasi kapal tenggelam.
“Pencarian terhadap yang lainnya masih terus dilakukan,” kata seorang pejabat angkatan laut kepada AFP dengan syarat anonim.
Di sisi lain, tim penyelamat berhasil mengevakuasi 32 pelaut dari fregat Iran bernama IRIS Dena yang mengalami kerusakan berat akibat serangan tersebut.
Sebagian besar korban selamat mengalami luka-luka dan kini menjalani perawatan medis di rumah sakit di kota Galle.
Kapal Sempat Kirim Sinyal Darurat
Sebelum tenggelam, kapal perang Iran sempat mengirimkan sinyal darurat pada waktu fajar. Namun ketika kapal penyelamat tiba sekitar satu jam kemudian, kapal tersebut sudah hilang dari permukaan laut.
Juru bicara angkatan laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, mengatakan tim penyelamat hanya menemukan bercak minyak di lokasi kejadian.
Hal itu menunjukkan kapal tenggelam dengan cepat setelah terkena serangan torpedo.
Sri Lanka Tegaskan Sikap Netral
Pemerintah Sri Lanka menegaskan bahwa negaranya tetap bersikap netral dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar tersebut.
Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, menyebut operasi penyelamatan dilakukan sebagai bagian dari kewajiban maritim internasional.
“Ini berada di dalam area pencarian dan penyelamatan kami di Samudra Hindia,” jelas dia.
Sri Lanka sendiri memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Lebih dari satu juta warganya bekerja di wilayah tersebut dan menjadi sumber devisa penting bagi negara yang baru pulih dari krisis ekonomi pada 2022.
Sementara itu, hingga saat ini pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait tenggelamnya kapal perang tersebut. Duta Besar Iran di Kolombo, Alireza Delkhosh, juga belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar.
Redaksi Energi Juang News



