Energi Juang News, Bengkulu- Sungai di Desa Batu Ampar, Bengkulu, terlihat tenang pada siang hari. Airnya jernih, mengalir perlahan di antara bebatuan dan pepohonan besar yang menaungi tepian sungai.
Namun dibalik keindahannya berdiam pula salah satu makhluk penghuni air yang berasal dari Bengkulu yang disebut Hantu Dunguak.
Walaupun di sebut hantu, sosok ini lebih cenderung menyerupai sosok siluman, dikarenakan, wujud dari mahkluk ini menyerupai seekor ular dengan kepala manusia dengan rambut panjang.
Anak-anak desa sering bermain di sana. Ada yang memancing, ada yang berenang, dan ada pula yang sekadar duduk di tepi air sambil bercanda. Namun bagi warga tua desa itu, sungai tersebut menyimpan kisah yang tidak pernah mereka ceritakan kepada anak-anak.
Terutama saat senja mulai turun.
Pak Ridwan, seorang nelayan tua yang tinggal tidak jauh dari sungai, selalu mengingatkan cucunya dengan suara tegas.
“Kalau sudah hampir magrib, jangan pernah main di sungai,” katanya suatu sore.
Cucunya yang bernama Arga tertawa kecil seakan tak mengindahkan petuah orang tua.
“Kenapa, Pak? Airnya kan tenang.”
Pak Ridwan hanya menggeleng pelan.
“Yang bahaya bukan airnya…”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“…tapi yang tinggal di dalamnya.”
Arga hanya menganggap itu cerita orang tua untuk menakut-nakuti anak kecil. Namun beberapa minggu kemudian, sebuah kejadian membuat seluruh desa kembali membicarakan makhluk yang sudah lama menjadi bisikan warga.
Keesokan hari nya sekelompok remaja desa pergi ke sungai untuk berenang. Di antara mereka ada Arga, Dimas, Rendi, dan Yudi.
Cuaca sore itu sangat panas.
“Airnya dingin banget!” teriak Dimas sambil meloncat ke sungai.
Rendi tertawa.
“Makanya sering-sering mandi di sini!”
Mereka berenang sambil bercanda, saling menyiram air.
Sementara itu Arga duduk di batu besar di tepi sungai.
Tiba-tiba mereka mendengar suara samar dari arah tikungan sungai.
“Tolong… tolong…!”
Semua langsung berhenti.
“Eh… kalian dengar?” tanya Yudi.
Dimas mengangguk.
“Iya… kayak orang minta tolong.”
Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.
“Tolong… saya tenggelam…”
Arga berdiri.
“Sepertinya ada orang hanyut!”
Tanpa pikir panjang, mereka berlari ke arah suara itu.
Di balik semak-semak, mereka melihat sesuatu di tengah sungai.
Seseorang terlihat berusaha mengapung sambil menggerakkan tangan lemah.
“Tolong…!”
“Cepat! Kita bantu!” teriak Rendi.
Dimas langsung melompat ke air dan berenang mendekat.
Namun ketika jaraknya hanya beberapa meter, sesuatu yang aneh terjadi.
Tubuh orang itu tiba-tiba berhenti bergerak.
Air di sekitarnya beriak aneh.
“Mas… pegangan!” teriak Dimas.
Tiba-tiba kepala orang itu perlahan terangkat dari air.
Namun wajah yang muncul membuat Dimas membeku.
Itu bukan wajah manusia.
Kulitnya pucat kehijauan, matanya hitam pekat tanpa cahaya.
Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan gigi runcing seperti ikan predator.
Makhluk itu tersenyum.
Dalam satu gerakan cepat, tubuhnya berubah bentuk.
Bagian punggungnya seperti sisik ikan besar, sementara ekornya mengibas kuat di dalam air.
Dimas menjerit.
“AAAA! Apa itu?!”
Makhluk itu tiba-tiba menyelam dan menciptakan pusaran air yang kuat.
Dimas langsung terseret ke tengah sungai.
“Dimas!” teriak Arga panik.
Rendi dan Yudi mencoba menariknya, namun air tiba-tiba bergolak keras seperti ada sesuatu yang bergerak besar di bawah permukaan.
“Cepat keluar!” teriak Yudi.
Beberapa detik yang terasa sangat lama berlalu.
Tiba-tiba tubuh Dimas muncul kembali di permukaan sungai.
Ia batuk keras sambil merangkak ke tepi.
Wajahnya pucat seperti mayat.
“Ada… ada sesuatu di bawah…” katanya gemetar.
Kejadian itu membuat warga desa geger.
Malamnya, para orang tua berkumpul di rumah Pak Ridwan untuk mendengar cerita anak-anak.
Arga masih terlihat ketakutan.
“Wajahnya bukan manusia,” katanya pelan. “Matanya hitam semua.”
Seorang warga bernama Pak Hasan langsung menghela napas panjang.
“Saya sudah duga…”
“Duga apa?” tanya Jamal, kepala desa.
Pak Hasan menatap ke arah sungai yang terlihat dari kejauhan.
“Makhluk itu muncul lagi.”
Seorang ibu langsung bertanya dengan suara pelan.
“Yang di sungai itu…?”
Pak Ridwan mengangguk.
“Iya… itu dia.”
Ia lalu berkata dengan suara berat.
“Dunguak.”
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa orang tua saling berpandangan.
Makhluk itu memang sudah lama menjadi cerita turun-temurun di Bengkulu. Konon ia adalah siluman air yang bisa berubah bentuk menjadi berbagai makhluk sungai. Kadang seperti ikan raksasa,kadang seperti buaya dan bahkan sosok seperti ular besar. Ada pula yang percaya bentuk aslinya seperti naga air.
Pak Ridwan melanjutkan ceritanya.
“Dunguak sering menipu manusia dengan suara orang minta tolong.”
Seorang pemuda bertanya.
“Kenapa dia melakukan itu?”
Pak Hasan menjawab pelan.
“Untuk menarik korban.”
Ia menatap anak-anak yang duduk di pojok ruangan.
“Biasanya yang jadi sasaran adalah anak-anak dan remaja.”
“Kenapa?” tanya Arga.
“Karena mereka mudah percaya.”
Namun ada satu hal lain yang dipercaya warga desa.
Makhluk itu tidak menyerang sembarang orang.
Menurut cerita para tetua, ia sering muncul kepada orang yang mengotori sungai.
Orang yang membuang sampah atau merusak alam sungai.
“Dunguak adalah penjaga sungai,” kata Pak Ridwan.
“Kalau sungai dihormati, dia tidak akan muncul.”
Seorang warga tiba-tiba berkata pelan.
“Dua minggu lalu ada orang luar desa yang buang sampah plastik di sana…”
Semua orang langsung saling memandang.
Pak Ridwan mengangguk perlahan.
“Mungkin itu sebabnya dia muncul lagi.”
Redaksi Energi Juang News



