Senin, Mei 18, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaAktivis 1998 di Kursi, Mahasiswa 2026 di Tepi Jalan

Aktivis 1998 di Kursi, Mahasiswa 2026 di Tepi Jalan

Minggu, 18 Mei 2026, tepat 28 tahun telah berlalu sejak mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR. Peristiwa 18 Mei 1998 menjadi ikon heroik gerakan reformasi, ketika sekitar 50 ketua lembaga kemahasiswaan dari Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) memimpin ribuan massa menerobos masuk dan menginap di gedung parlemen, menolak pulang hingga Soeharto benar-benar mundur.

Pada sore itu, Harmoko Ketua DPR/MPR saat itu menyerukan pengunduran diri Soeharto. Namun malam harinya, Jenderal Wiranto menyebut seruan itu “tidak konstitusional”, dan isu penyerbuan tentara mengancam para mahasiswa yang bertahan. “Komitmen akhir seluruh kontingen adalah tetap bermalam, apa pun yang terjadi,” demikian tekad mereka. Tiga hari kemudian, 21 Mei 1998, Soeharto lengser. Mahasiswa menceburkan diri ke kolam halaman DPR sebagai simbol kemenangan.

Kini, 28 tahun setelah api reformasi membakar Jakarta, pertanyaan yang sama menggema: Di mana mahasiswa hari ini?

Pada Hari Buruh 1 Mei 2026, massa buruh dan elemen mahasiswa berdemo di depan Gedung DPR Senayan. Namun berbeda dengan 1998, mereka diterima perwakilannya. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyambut perwakilan buruh, berjanji membahas UU Ketenagakerjaan baru paling lambat akhir tahun. Tidak ada pendudukan, tidak ada ketegangan penyerbuan tentara.

Pada peringatan Hardiknas 2-4 Mei 2026, BEM SI dan BEM PTMAI menggelar demo di depan Gedung Kemdiktisaintek dan kawasan Monas, menyuarakan 10 tuntutan: audit anggaran pendidikan Rp660 triliun, kesejahteraan guru honorer, rehabilitasi sekolah rusak, hingga revisi UU Sisdiknas agar wajib belajar 16 tahun. Mereka memberi ultimatum: jika tuntutan tak direspons, akan turun dengan eskalasi lebih besar.

Sebuah transformasi yang kontras. Mahasiswa 1998 adalah “pengguling rezim”: menghadapi tembakan, tank, dan ancaman mati. Mereka berani menduduki gedung negara karena musuh jelas: otoritarianisme Soeharto. Kini, mahasiswa 2026 adalah “aktivis sektoral”: demo di trotoar, diterima aparat, menyuarakan isu teknis seperti anggaran dan kesejahteraan guru. Mereka tidak menduduki DPR—mereka hanya berdiri di depannya, menunggu waktu audiensi dengan Komisi X.

Baca juga :  Tragedi Bekasi Timur: Nyawa Dikalahkan oleh Logika Profit?

Data menunjukkan fragmentasi gerakan mahasiswa. Ketika pada 1998 isu tunggal “Soeharto mundur” menyatukan seluruh kampus, kini isu terpecah: ada yang fokus pada UU Cipta Kerja, ada yang pada krisis iklim, ada pula pada pendidikan. Media sosial menjadi medan perang utama mahasiswa saat ini dan celakanya, seringkali aktivisme berhenti di linimasa (slacktivism), tidak sampai ke jalanan apalagi ke pendudukan gedung negara.

Faktor kedua adalah skeptisisme politik yang meluas. Mahasiswa hari ini tumbuh di era demokrasi prosedural yang penuh oligarki, dinasti politik, dan KKN yang terus berulang. Mereka “muak pada politik”, sehingga memilih menarik diri ke isu-isu yang lebih aman seperti pendidikan, lingkungan, atau buruh. Ini bukan salah mereka sepenuhnya itu adalah warisan kegagalan reformasi itu sendiri.

Namun, apakah ini berarti gerakan mahasiswa mati? Tidak. Ini hanya menunjukkan perubahan bentuk perjuangan. Mahasiswa 1998 hidup di era represi fisik, sehingga perlawanan harus heroik dan radikal. Mahasiswa 2026 hidup di era demokrasi prosedural yang represif secara halus (kriminalisasi, UU ITE, politik uang), sehingga perlawanan harus cerdas dan terukur menggunakan jalur hukum, litigasi kebijakan, serta aliansi dengan masyarakat sipil.

Yang menjadi catatan kritis: Koridor keberanian menyempit. Mahasiswa 2026 memang tidak dihadang tank, tetapi mereka dihadang dengan kriminalisasi lewat UU ITE, pencabutan izin kegiatan kampus, dan pembungkaman ruang digital. Ini bentuk represi baru yang lebih licin dan lebih sulit dilawan dengan aksi turun ke jalan biasa.

Maka, pertanyaan bukan “di mana mahasiswa”, melainkan: apa yang telah dilakukan oleh elite reformasi yang dulu mahasiswa 1998 sehingga generasi penerusnya kini enggan berjuang di garis depan?

18 Mei adalah pengingat bahwa mahasiswa bisa menjadi game changer ketika institusi politik gagal. Namun di tahun 2026, beban perubahan tidak boleh hanya dipikul mahasiswa yang letih dan skeptis. Ini saatnya eks-aktivis 1998 yang kini duduk di kursi kekuasaan introspeksi: apakah mereka telah menutup jalan bagi lahirnya “mahasiswa 1998 versi 2.0”?

Baca juga :  Pegawai SPPG Jadi ASN PPPK: Ketidakadilan Yang Nyata!

Jika jawabannya iya, maka jangan salahkan mahasiswa hari ini jika mereka hanya teriak dari trotoar, bukan dari atas kursi parlemen yang diduduki.

Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments