Rasa was-was mulai menyelimuti kembali ruang publik Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang baru-baru ini menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS membuat banyak orang bergidik mengingat episode kelam 1998. Kekhawatiran itu makin menjadi ketika harga kebutuhan sehari-hari mulai merangkak naik, seolah mengulang sejarah kelam 28 tahun silam.
Namun, benarkah kondisi ekonomi Indonesia saat ini merupakan pengulangan krisis moneter 1998? Mari kita bedah data dan fakta di balik kegalauan ini.
Gema 1998: Trauma yang Tak Terlupakan
Tahun 1998 meninggalkan luka mendalam. Diawali dari krisis moneter Asia, Rupiah yang semula stabil di kisaran Rp2.400 per dolar AS harus terpuruk hingga menyentuh titik terendah sekitar Rp16.900 per dolar AS pada pertengahan 1998 . Dampaknya dahsyat: inflasi melonjak tak terkendali hingga 77%, dan ekonomi nasional terkontraksi hingga minus 13% .
Yang lebih parah, krisis ini bukan hanya ekonomi. “Instability social-politic” terjadi setelah setahun Indonesia resesi, seperti yang diingatkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa .
Realita 2026: Mahal, Tapi Bukan Krisis
Saat ini, Rupiah memang tertekan dan harga-harga naik. Tiket pesawat terbang mahal, harga minyak goreng serta daging ayam ikut melambung . Namun, fondasi ekonominya berbeda jauh. Perbedaan paling krusial terletak pada inflasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 hanya tercatat sebesar 2,42% . Angka ini sangat jauh dari hiperinflasi 77% tahun 1998, dan bahkan masih dalam kisaran target pemerintah. Pertumbuhan ekonomi pun masih solid di atas 5%.
“Sekarang beda. Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda,” tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Selasa (19/5/2026) .
Pelemahan saat ini murni dipicu oleh faktor eksternal global: kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS (The Fed) serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia . Ini berbeda dengan 1998 yang dipicu oleh rapuhnya fundamental domestik seperti rasio hutang swasta yang tinggi dan sistem perbankan yang runtuh. Saat ini, cadangan devisa Indonesia aman di kisaran US$146 miliar dan rasio kredit macet (NPL) perbankan terkendali di 2,17% .
Jalan Keluar: Kembali ke Kemandirian
Meski bukan krisis, tekanan ini menjadi alarm bagi kita untuk serius membangun kemandirian. Ketergantungan pada impor membuat kita rentan terhadap gejolak global.
Pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto pun mulai gecep (gerak cepat) fokus pada ketahanan pangan. Baru-baru ini, dilaksanakan panen raya jagung nasional di Tuban yang dipimpin langsung oleh Presiden sebagai bukti nyata upaya menjaga stok dalam negeri .
“Sekarang, krisis apapun di luar negara kita, kita relatif lebih aman, lebih siap menghadapi cobaan,” ujar Prabowo saat meresmikan Koperasi Merah Putih di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026) .
Untuk masyarakat, langkah kecil seperti memulai berkebun di pekarangan rumah atau beralih ke produk lokal adalah bentuk nyata kemandirian. Indonesia negara kaya; sudah saatnya kita tidak lagi bergantung pada kondisi geopolitik dunia untuk memenuhi kebutuhan pokok sendiri. Jangan panik, tapi waspada dan mandiri.
Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Mahasiswa)
Redaksi Energi Juang News



