Rabu, Juni 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaSaat 'Sayang' Berubah Jadi Peluru Rakitan

Saat ‘Sayang’ Berubah Jadi Peluru Rakitan

Cinta seharusnya menjadi pelabuhan bagi kasih sayang dan rasa aman. Namun, bagi seorang mahasiswi di Samarinda, cinta justru berubah menjadi mimpi buruk yang berujung pada ancaman nyawa. Jumat (12/6/2026) malam, ia menjadi korban penembakan oleh mantan kekasihnya sendiri menggunakan senjata api rakitan. Luka di kepala yang ia derita bukan sekadar cedera fisik; ini adalah bukti nyata dari eskalasi perilaku posesif yang berujung pada tindak kriminal brutal.

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa perilaku “posesif” sering kali disalahartikan sebagai bentuk perhatian berlebih atau tanda cinta. Padahal, keinginan untuk terus memantau aktivitas pasangan, bahkan dengan cara-cara manipulatif seperti menggunakan akun palsu, adalah bentuk kontrol yang tidak sehat. Sebagaimana yang dialami korban, rasa tidak nyaman dan perasaan terkekang yang muncul bukanlah hal yang harus dimaklumi. Itu adalah “lampu kuning” yang menandakan adanya potensi bahaya dalam sebuah relasi.

Kekerasan dalam pacaran (dating violence) bukanlah masalah privat yang bisa disepelekan. Fenomena ini nyata, sistematis, dan mengintai kaum muda. Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan betapa masifnya kasus kekerasan terhadap perempuan, di mana remaja menjadi kelompok yang sangat rentan. Banyak tindakan kontrol dan dominasi yang justru dianggap “wajar” oleh sebagian orang dalam dinamika pacaran, padahal menurut para ahli seperti Latzman dan Vivian (2005), perilaku tersebut jelas merupakan bentuk kekerasan yang bertujuan untuk menyakiti dan mengendalikan pasangan.

Dampak yang ditimbulkan pun sangat destruktif. Secara fisik, korban berisiko mengalami cedera berat. Namun secara psikologis, luka yang ditorehkan jauh lebih dalam. Korban kekerasan dalam pacaran cenderung mengalami trauma jangka panjang, mulai dari kecemasan, depresi, penurunan harga diri, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Lebih jauh lagi, jika kekerasan dianggap normal, ada risiko siklus ini terus berulang. Korban yang trauma mungkin kesulitan menjalin hubungan sehat di masa depan, atau dalam skenario terburuk, perilaku agresif tersebut justru terinternalisasi dan dianggap sebagai “bumbu” dalam menjalin hubungan.

Baca juga :  Intervensi ke Venezuela: 'Buah Cinta' Trump dan Energi Fosil

Kita tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan agar terhindar dari hubungan yang toksik. Diperlukan edukasi masif mengenai apa itu hubungan sehat dan batasan (boundaries) yang harus dihormati. Pemerintah dan institusi pendidikan harus berperan lebih aktif dalam menyediakan layanan intervensi dan ruang konseling yang mudah diakses bagi remaja.

Lebih dari sekadar kebijakan, masyarakat perlu mengubah cara pandang. Menghentikan normalisasi perilaku posesif adalah langkah awal untuk mencegah kekerasan lebih lanjut. Cinta tidak pernah tentang menguasai, memantau, atau menyakiti. Jika hubungan sudah membuat seseorang merasa terkekang hingga terancam, saatnya untuk berani melangkah pergi sebelum peluru atau kekerasan fisik benar-benar terjadi. Sudah saatnya kita memutus rantai kekerasan ini demi masa depan hubungan yang lebih manusiawi dan aman bagi semua orang.

Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments