Rencana dua perusahaan komponen otomotif yang akan memindahkan sebagian lini produksinya dari Indonesia ke Vietnam seharusnya dibaca sebagai alarm keras bagi pemerintah. Ini bukan sekadar perpindahan investasi biasa, melainkan sinyal bahwa daya saing Indonesia, khususnya dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV), sedang menghadapi tantangan serius dari negara-negara tetangga yang bergerak lebih cepat dan lebih agresif.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa terdapat dua perusahaan komponen otomotif yang akan memindahkan sebagian lini produksinya ke Vietnam. Kedua perusahaan tersebut beroperasi di wilayah Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur.
Dampaknya tidak kecil. Perpindahan ini berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerja yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor manufaktur otomotif.
Yang lebih mengkhawatirkan, perpindahan tersebut bukan disebabkan oleh penurunan permintaan pasar, melainkan oleh perubahan arah industri global. Prinsipal otomotif dunia kini semakin fokus pada kendaraan listrik, dan dalam proses transformasi itu mereka mencari lokasi investasi yang menawarkan ekosistem EV paling kompetitif.
Fakta bahwa Vietnam menjadi pilihan menunjukkan bahwa Indonesia mulai kehilangan momentum yang selama beberapa tahun terakhir dianggap sebagai keunggulan strategis. Padahal, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik. Cadangan nikel yang melimpah, pasar domestik yang besar, serta posisi strategis dalam rantai pasok global seharusnya menjadi daya tarik utama bagi investor.
Namun, keunggulan sumber daya alam saja tidak cukup. Investor modern tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, tetapi juga kepastian regulasi, kualitas infrastruktur, kemudahan berusaha, biaya logistik, ketersediaan energi, serta konsistensi kebijakan pemerintah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Vietnam menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam membangun ekosistem industri kendaraan listrik. Negara itu bergerak cepat menyediakan berbagai insentif investasi, menyederhanakan proses perizinan, memperkuat infrastruktur industri, dan secara aktif membangun rantai pasok EV yang terintegrasi. Hasilnya, Vietnam semakin dipandang sebagai destinasi investasi manufaktur berteknologi tinggi di kawasan Asia Tenggara.
Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar yang kerap dikeluhkan pelaku usaha. Salah satunya adalah masalah keandalan pasokan energi. Kamar Dagang dan Industri Indonesia telah mengingatkan bahwa pemadaman listrik yang berulang di sejumlah wilayah Jawa berpotensi mengikis kepercayaan investor sektor manufaktur. Peringatan ini tidak boleh dianggap sepele.
Bagi industri manufaktur modern, terutama industri otomotif dan kendaraan listrik yang mengandalkan sistem produksi presisi dan otomatisasi tinggi, stabilitas pasokan listrik merupakan kebutuhan mutlak. Gangguan listrik beberapa menit saja dapat menghentikan proses produksi, merusak jadwal pengiriman, meningkatkan biaya operasional, dan mengurangi produktivitas.
Dalam iklim persaingan investasi yang semakin ketat, persoalan seperti ini dapat menjadi faktor penentu bagi investor untuk memilih negara lain.
Karena itu, pemerintah perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengembangan industri kendaraan listrik nasional.
Fokus tidak boleh hanya pada hilirisasi mineral dan pembangunan fasilitas baterai, tetapi juga pada penciptaan ekosistem investasi yang benar-benar kompetitif. Kepastian hukum harus diperkuat. Regulasi yang tumpang tindih perlu disederhanakan. Infrastruktur energi dan logistik harus ditingkatkan.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa berbagai insentif investasi dapat diakses secara mudah dan konsisten oleh pelaku usaha.
Di saat yang sama, pengembangan sumber daya manusia juga harus menjadi prioritas. Transformasi menuju industri kendaraan listrik membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan baru di bidang teknologi baterai, elektronika, perangkat lunak, dan manufaktur canggih. Tanpa kesiapan tenaga kerja, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan baku, sementara nilai tambah industri dinikmati negara lain.
Perpindahan sebagian lini produksi dua perusahaan komponen otomotif ke Vietnam memang belum menjadi eksodus besar-besaran industri nasional. Namun, peristiwa ini harus dibaca sebagai peringatan dini.
Dalam dunia investasi, keputusan satu atau dua perusahaan sering kali menjadi indikator yang diamati oleh investor lain. Jika pemerintah gagal merespons sinyal ini dengan cepat dan tepat, bukan tidak mungkin perpindahan serupa akan terjadi pada sektor-sektor lainnya.
Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menjadi pusat industri kendaraan listrik di kawasan. Namun peluang tersebut tidak akan datang dengan sendirinya. Persaingan investasi kini berlangsung sangat ketat, dan negara-negara tetangga bergerak cepat menawarkan berbagai kemudahan bagi investor.
Oleh karena itu, pemerintah harus menjadikan kabar perpindahan investasi ini sebagai alarm keras untuk segera berbenah. Masa depan industri nasional, jutaan lapangan kerja, dan posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif, lebih pasti, dan lebih andal daripada yang ada saat ini.
Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Redaksi Energi Juang News



