Energi Juang News, Iran – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, akhirnya menyampaikan sikap resminya terkait kesepakatan damai yang dicapai antara Iran dan Amerika Serikat. Meski mengaku sempat memiliki pandangan berbeda, ia memberikan persetujuan setelah mendapat jaminan dari pemerintah Iran terkait perlindungan kepentingan nasional.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Mojtaba mengungkapkan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Teheran dan Washington telah ditandatangani oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Mojtaba Khamenei Nilai Trump Sangat Membutuhkan Kesepakatan
Mojtaba menyampaikan apresiasi kepada para pejabat Iran yang terlibat dalam proses perundingan hingga tercapainya kesepakatan tersebut. Namun, ia juga menilai Trump berada dalam posisi yang sangat membutuhkan tercapainya perjanjian dengan Iran.
“Dalam proses mencapai tahap ini, para pejabat, tentu dengan belas kasih dan niat baik, telah melakukan banyak upaya. Dan tentu saja, Presiden AS-lah yang, karena putus asa, menggunakan berbagai titik tawar untuk tujuan ini,” ujar Mojtaba dalam pernyataan yang dirilis Kamis (18/6/2026).
Pernyataan tersebut menjadi komentar publik pertama Mojtaba setelah penandatanganan kesepakatan damai Iran-AS yang dilakukan secara jarak jauh oleh Pezeshkian dan Trump pada Rabu (17/6/2026).
Isi Kesepakatan Damai Iran dan AS
Kesepakatan tersebut mencakup penghentian permusuhan secara permanen di berbagai front konflik, termasuk Lebanon. Selain itu, kedua negara menyepakati gencatan senjata selama 60 hari.
Perjanjian itu juga memuat pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap Iran, pemulihan aktivitas perdagangan di Selat Hormuz, pembahasan program rekonstruksi senilai US$300 miliar, hingga rencana pencabutan sejumlah sanksi ekonomi.
Jika seluruh komitmen dalam perjanjian dipenuhi, Iran berpeluang kembali terintegrasi ke dalam perekonomian global.
Alasan Mojtaba Memberikan Persetujuan
Mojtaba mengakui bahwa pada awal pembahasan dirinya tidak sepenuhnya sejalan dengan isi nota kesepahaman tersebut. Namun, ia memutuskan memberikan izin setelah Presiden Pezeshkian dan anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran berkomitmen menjaga hak-hak rakyat Iran serta kepentingan Front Perlawanan.
“Pada prinsipnya, saya memiliki pandangan yang berbeda, tetapi saya memberikan izin saya karena komitmen yang diberikan oleh Presiden yang terhormat, sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan,” katanya.
Menurut Mojtaba, Pezeshkian juga memastikan pemerintah Iran tidak akan menerima tuntutan yang dianggap berlebihan dari pihak Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa rencana perundingan tatap muka pada masa mendatang tidak berarti Iran akan mengikuti atau menerima pandangan yang diinginkan pihak lawan.
“Jelas bahwa negosiasi tatap muka yang akan berlangsung di masa mendatang tidak akan berarti menerima sudut pandang musuh,” tegas Mojtaba.
Redaksi Energi Juang News



