Kamis, Mei 28, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 72

Makan Makan Menunya Bukan Paha Ayam Goreng, Tapi Paha Mentah

Pertengkaran di kamar hotel
Pertengkaran di kamar hotel

Energi Juang News,Pacitan- Sudah lama Bendot, 40, nginceng Minthul, 36, bini tetangganya. Wajah Minthul yang sering melintas pikiran Bendot , dan pertemuan tak sengaja mengundang penasaran. Sementara suami Minthul yang kerja di luar negri, anggapan bendot Minthul ini merpati yang jarang dibelai pemiliknya. Sayang kalo dibiarkan tak terurus, mending Bendot yang ngurus, pikirnya. Siasatpun dirangkai, dengan ditemani Peni, 38, istri Bendot mengajak Minthul wisata kuliner di Pantai Pacitan

Bendot seorang lelaki melihat barang bagus milik tetangga langsung nafsu,berlanjut eksekusi, kisah seperti ini  banyak terjadi. Cuma otak yang mampu mengendalikan nafsu. Jika otak Bendot jalan, terhenti sampai gagasan saja.

Tapi jika otaknya sudah doll seperti Bendot, apapun resikonya siap menerima. Padahal nantinya, enaknya nggak seberapa, tapi bakal berujung ke konsekuensi hukum. Soalnya suami tetangga itu pasti tidak terima istrinya diobok-obok orang.

Bendot warga Pacitan Jatim itu, adalah lelaki yang naluri syahwatnya luar biasa kuat. Setiap melihat perempuan cantik,  batinnya mengatakan, “Ini enak dikeloni dan perlu!” Begitu pula pada Minthul istri tetangganya. Karena bini Penyok, 49, ini memang cantik dan punya bodi seksi, otak ngeresnya selalu bekerja, “Kapan ya saya bisa ngencani Minthul.”

Dan setiap hari pula dia bikin rekayasa, kapan bisa mengajak Minthul main kwik-kwik.

Ternyata setan memberi jalan. Pura-puranya Bendot mengajak istrinya dan Minthul makan-makan di Pntai Pacitan. Karena ada istrinya, Minthul pun mau. Mereka boncegan motor bertiga.

Mereka bertiga jalan sambal kulineran seolah tak terjadi apa apa. Setelah mereka kenyang, istri bendot yang punya penyakit gula, mendadak ngantuk dan ingin istirahat. Merekapun sepakat mencari hotel dekat pantai itu.

Setelah dapat hotel istri Bendotpun langsung tertidur pulas. Disaat itulah setan Bendot yang sedari tadi bisik bisik, ngajak Minthul cari angin diluar kamar. Tak dinyana ternyata Bendot memesan lagi satu kamar tak jauh dari kamar istrinya tidur. Dan sesuai arahan setan segera Minthul dibujuk paksa ngamar, meladeni nafsu bejat Bendot yang sudah memuncak.

Walhasil, tadinya mau diajak wisata kuliner, di hotel ini Minthul diajak wisata ranjang paksa alias diperkaos.

Saat Peni terbangun dari tidur nynyaknya, ia tak mendapati Bendot dan Minthul dikamar itu. Peni mulai curiga, tapi sudah telat. “Wisata kulinernya, sekarang berubah wisata ranjang antara Bendot dan Minthul.” Kecurigaan Peni ke Bendot..

Bergeser ke kamar Bendot dan Minthul asik melampiaskan syahwatnya, setelah selesai barulah Minthul kemudian diajak gabung bersama istrinya lagi dan minum es kelapa di pinggir pantai. Tapi Minthul sudah tak selera lagi.

Sepulang dari acar makan-makan itu, barulah Minthul mengadu ke suaminya bahwa habis diperkosa oleh Bendot. Tentu saja suami tidak terima, sehingga Bendot dilaporkan ke Polsek Pacitan.

Kesimpulan kisah ini bisa jadi judul film layer tancap “Makan makan, menunya bukan paha ayam goreng, tapi paha mentah”. 

Redaksi Energi Juang News

Mojtaba Khamenei Koma, Siapa Pimpin Iran?

Mojtaba Khamenei Koma, Siapa Pimpin Iran?

Energi Juang News, Teheran— Laporan terbaru menyebutkan kondisi kesehatan pemimpin tertinggi Iran menjadi sorotan di tengah eskalasi konflik kawasan. Informasi ini muncul saat situasi geopolitik memanas dan komunikasi dari pucuk pimpinan negara tersebut dinilai sangat terbatas.

Kondisi Kritis Terungkap dari Memo Diplomatik

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan tidak sadarkan diri dan menjalani perawatan intensif di Qom. Informasi ini, seperti dilansir The Times of India, Selasa (7/4/2026), bersumber dari memo diplomatik yang juga ditinjau oleh The Times serta penilaian intelijen Amerika Serikat dan Israel.

Dalam dokumen tersebut, pemimpin berusia 56 tahun itu disebut berada dalam kondisi “parah” dan “tidak dapat terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim” di Teheran.

Memo itu sekaligus menjadi yang pertama mengungkap lokasi perawatan Mojtaba ke publik, yakni di kota Qom.

Luka Serius Pasca Serangan

Iran sebelumnya mengakui Mojtaba mengalami luka akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada 28 Februari lalu. Serangan itu menewaskan ayahnya, Ali Khamenei, bersama sejumlah anggota keluarga dekat.

Meski demikian, pemerintah Iran tetap menyatakan Mojtaba masih memimpin negara.

Minimnya Kemunculan Publik Picu Spekulasi

Sejak konflik dimulai, Mojtaba belum pernah tampil langsung di hadapan publik. Tidak ada rekaman video atau audio yang terverifikasi. Pernyataan resmi hanya disampaikan melalui televisi pemerintah dalam bentuk teks, bahkan disertai klip berbasis kecerdasan buatan.

Kondisi ini memicu spekulasi luas. Kelompok oposisi mengklaim ia berada dalam kondisi koma di rumah sakit, meski belum ada konfirmasi independen.

Beberapa laporan lain yang belum terverifikasi juga menyebutkan adanya cedera serius, termasuk patah tulang dan luka di wajah.

IRGC Disebut Berpotensi Ambil Kendali

Ketidakjelasan kondisi pemimpin tertinggi memunculkan pertanyaan besar soal rantai komando di Iran. Dalam sistem pemerintahan negara tersebut, posisi ini memegang otoritas tertinggi, baik secara politik maupun keagamaan.

Situasi ini memicu dugaan bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mulai memainkan peran dominan, yang berpotensi menggeser peran Mojtaba menjadi simbolis.

Sinyal dari Trump Perkuat Dugaan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memperkuat persepsi tersebut. Ia menyebut tengah bernegosiasi dengan pejabat Iran lainnya, bukan langsung dengan pemimpin tertinggi.

Di sisi lain, ketegangan terus meningkat. Trump berulang kali mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, serta menetapkan tenggat terkait tuntutan atas Selat Hormuz.

Iran menolak proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat dan menegaskan tidak akan mengambil keputusan di bawah tekanan.

Redaksi Energi Juang News

Misteri Hilangnya Pendaki di Gunung Guntur yang Memanggil dari Kegelapan

gunung guntur
gunung guntur

Energi Juang News,Garut- Kabut tipis turun perlahan menyelimuti jalur pendakian Gunung Guntur sore itu. Angin berhembus dingin, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Di Pos 3, sekelompok pendaki muda tampak sibuk mendirikan tenda sambil bercanda, seolah gunung ini hanyalah tempat rekreasi biasa. Namun seorang warga tua yang kebetulan melintas hanya menggeleng pelan. “Kalian terlalu berisik… gunung ini tidak suka itu,” ucapnya lirih, sebelum pergi tanpa menoleh lagi.

Gibran, bocah 14 tahun yang ikut dalam rombongan itu, hanya diam mendengar ucapan tersebut. Malam semakin pekat, dan suara gemuruh samar terdengar dari kejauhan. “Ah, paling suara batu jatuh,” kata salah satu temannya. Namun warga sekitar percaya itu bukan sekadar suara alam. “Itu tanda… mereka sedang bangun,” bisik seorang penjaga warung di kaki gunung kepada pendaki lain malam sebelumnya.

Pukul 04.00 WIB, rombongan bersiap melanjutkan perjalanan ke puncak. Udara sangat dingin, dan kabut semakin tebal. Gibran memilih tetap di tenda. “Gue di sini aja, badan nggak enak,” katanya pelan. Temannya hanya mengangguk tanpa curiga. Mereka meninggalkan Gibran sendirian di tengah sunyi yang terasa semakin menekan.

Beberapa jam kemudian, saat rombongan kembali dari puncak, suasana berubah drastis. Tenda masih berdiri, tetapi Gibran sudah tidak ada. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, tidak ada jejak kaki yang jelas. “Gibran! Bran!” teriak mereka panik. Namun yang menjawab hanyalah gema suara mereka sendiri yang terdengar aneh, seolah ditiru oleh sesuatu di balik pepohonan.

Warga yang membantu pencarian mulai berdatangan. Salah satu di antara mereka berkata dengan wajah serius, “Kalau hilang di sini… belum tentu dia pergi sendiri.” Kalimat itu membuat suasana semakin mencekam. Mereka mencari hingga sore, namun hasilnya nihil. Hutan seolah menelan Gibran tanpa sisa.

Malam hari, salah satu relawan mengaku mendengar suara anak kecil menangis di dekat aliran air. “Aku dengar dia manggil… tapi suaranya jauh… terus tiba-tiba dekat banget di telinga,” katanya dengan wajah pucat. Warga lain langsung memperingatkan, “Jangan diikuti! Itu bukan manusia lagi.”

Hari kedua hingga keempat pencarian berlangsung tanpa hasil. Tim SAR mulai menyisir area lebih luas, termasuk ke arah Curug Cikoneng. Di sana, seorang warga tiba-tiba berhenti dan berkata pelan, “Tempat ini… sering jadi pintu.” Yang lain saling berpandangan, merasakan bulu kuduk berdiri tanpa alasan yang jelas.

Pada hari kelima, akhirnya kabar datang. Seorang warga menemukan Gibran di dekat Curug Cikoneng, sekitar 750 meter dari Pos 3. Namun kondisi bocah itu sangat lemah, tubuhnya penuh luka ringan, dan matanya kosong. Dari mulutnya terucap kata kata aneh yang tak ada hubungan dengan rasa penasaran warga yang bertanya. Saat ditanya, ia hanya berbisik, “Aku diajak… mereka bilang jangan pulang.”

Dalam perjalanan evakuasi, Gibran sempat berkata sesuatu yang membuat semua orang terdiam. “Di atas… ada kampung… tapi bukan untuk manusia.” Seorang warga tua langsung menunduk dan berucap, “Sudah saya bilang… gunung ini ada yang menjaga.” Tak ada yang berani menanggapi lebih lanjut.

Sejak kejadian itu, masyarakat kembali mengingatkan pentingnya menjaga sikap saat berada di Gunung Guntur. “Jangan sombong, jangan bicara sembarangan,” ujar seorang warga. Karena bagi mereka, gunung ini bukan sekadar alam—melainkan rumah bagi sesuatu yang hidup di antara dunia yang tak terlihat, yang bisa saja memanggil siapa pun… dan tidak mengembalikannya dalam keadaan yang sama.

Redaksi Energi Juang News

Peredaran Narkoba Karaoke Jakarta Utara Terbongkar

Peredaran Narkoba Karaoke Jakarta Utara Terbongkar

Energi Juang News, Jakarta – Bareskrim Polri mengungkap praktik ilegal yang terjadi di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Jakarta Utara. Aparat menangkap enam orang yang diduga terlibat dalam jaringan distribusi zat terlarang yang beroperasi secara tersembunyi di dalam ruang karaoke.

Modus Terselubung di Balik Ruang Karaoke

Kasus ini terungkap setelah tim kepolisian menerima laporan dari masyarakat. Petugas kemudian menyelidiki dengan menyamar sebagai pengunjung. Strategi tersebut membuka jalan untuk membongkar aktivitas transaksi narkotika yang berlangsung di dalam ruangan karaoke.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Eko Hadi Santoso menjelaskan, operasi penyamaran dilakukan secara langsung di lokasi. “Tim masuk ke dalam room untuk melakukan kegiatan undercover buy,” kata Eko dalam keterangan tertulis, Senin, 6 April 2026.

Jaringan Terorganisir dan Terstruktur

Penyelidikan yang dilakukan pada Jumat, 23 Januari 2026, mengungkap bahwa peredaran narkoba di lokasi tersebut berjalan secara sistematis. Polisi menemukan adanya pembagian peran yang jelas dalam jaringan tersebut, mulai dari peracik hingga kurir.

Petugas kemudian memperluas pengusutan ke enam titik berbeda di dalam gedung, termasuk ruang karaoke, area basement, dan beberapa ruangan lain.

Enam Tersangka dan Perannya

Dalam pengungkapan ini, polisi mengamankan enam orang dengan peran berbeda. Heru Yulianto diduga meracik happy water sekaligus menjadi penghubung antara tamu dan pengedar. Linda Siryani alias Ipeh berperan sebagai pengedar.

Ahmad Rivaldi juga bertugas menghubungkan tamu dengan jaringan. Sementara itu, Jeni Sahroni alias Obet alias Ribeth diduga menjadi pengendali utama distribusi narkoba. Yeni Souza berperan membawa ekstasi, dan Hendra bertindak sebagai kurir.

Barang Bukti Beragam Disita

Dari tangan para tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti. Barang tersebut meliputi puluhan butir ekstasi, paket ketamin, happy water, serta pil high five (H5). Selain itu, petugas juga menemukan alat bantu konsumsi narkoba dan perangkat komunikasi yang digunakan dalam transaksi.

Pengembangan Kasus Masih Berlanjut

Setelah penangkapan, polisi membawa seluruh tersangka ke Gedung Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Penyidik kini terus memburu pihak lain yang diduga ikut terlibat dalam jaringan ini.

Kasus ini menunjukkan bahwa praktik peredaran narkotika masih menyusup ke berbagai tempat hiburan. Aparat menegaskan akan terus memperketat pengawasan untuk menekan peredaran narkoba di wilayah perkotaan.

Redaksi Energi Juang News

Kemenhan Bantah Kontrak Jet PC-24

Pesawat jet Pilatus PC-24 yang dikaitkan dengan rencana pengadaan Kementerian Pertahanan

Energi Juang News, Jakarta – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) akhirnya buka suara terkait kabar pembelian pesawat jet Pilatus PC-24 yang sempat menjadi sorotan publik.

Isu tersebut mencuat setelah muncul klaim penandatanganan kontrak pengadaan dalam laman resmi produsen pesawat. Namun, pemerintah menegaskan informasi tersebut belum sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Kemenhan Sebut Pengadaan Masih Dikaji

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait menyatakan rencana pengadaan 12 unit pesawat Pilatus PC-24 masih berada pada tahap pembahasan awal.

“Belum ada alokasi anggaran,” kata Rico melalui pesan teks, Senin (6/4/2026).

Menurut Rico, pembahasan saat ini masih berfokus pada analisis kebutuhan operasional.

Karena itu, pemerintah belum mengambil keputusan akhir terkait rencana pembelian pesawat tersebut.

“Masih dalam kajian kebutuhan operasional dan belum merupakan keputusan final,” ujarnya.

Klaim Kontrak Jet PC-24 Jadi Sorotan

Sebelumnya, laman resmi Pilatus Aircraft menyebut telah terjadi penandatanganan kontrak antara Kementerian Pertahanan dan PT E-System Solutions Indonesia untuk pengadaan 12 unit PC-24 pada 31 Maret 2026.

Dalam keterangan tersebut, pesawat direncanakan mendukung pelatihan pilot transportasi, misi transportasi udara, serta kebutuhan penghubung di lingkungan TNI Angkatan Udara.

Berdasarkan penelusuran Tempo, harga satu unit PC-24 diperkirakan berkisar US$11,2 juta hingga US$13 juta atau sekitar Rp178 miliar sampai Rp200 miliar, bergantung pada spesifikasi.

Pesawat Pilatus PC-24 dikenal sebagai jet multiguna yang mampu mendarat di landasan pendek, termasuk area yang belum beraspal.

Selain itu, pesawat tersebut memiliki jangkauan penerbangan sekitar 3.704 kilometer.

Rencana pengadaan ini juga memunculkan pertanyaan dari kalangan pengamat pertahanan.

Analis pertahanan Alman Helvas menilai penggunaan PC-24 sebagai pesawat latih pilot bukan praktik yang umum dilakukan.

“Kalau untuk pesawat latih pilot, itu kurang lazim,” kata Alman.

Ia menilai Pilatus PC-24 lebih sesuai untuk kebutuhan penerbangan VIP.

Padahal, menurutnya, TNI Angkatan Udara telah memiliki armada tersendiri untuk kebutuhan tersebut.

Redaksi Energi Juang News

Rapor Merah: Mengapa Indonesia “Juara” Penyakit Menular?

Rapor Merah: Mengapa Indonesia "Juara" Penyakit Menular?

Indonesia kembali mencatatkan namanya di panggung global, namun sayangnya bukan karena prestasi yang membanggakan. Di awal tahun 2026, sebuah kabar mengejutkan datang dari sektor kesehatan: Indonesia menduduki peringkat kedua dunia untuk kasus campak. Fenomena ini seolah melengkapi “koleksi” rapor merah kesehatan kita yang kian mengkhawatirkan.

Jika kesehatan adalah sebuah kompetisi, Indonesia saat ini berada di zona degradasi yang mematikan. Mari kita lihat faktanya:

  • TBC: Kita berada di posisi pertama dunia jika dihitung per jumlah penduduk, dan posisi kedua secara absolut.
  • Difteri: Konsisten naik-turun di peringkat dua dunia selama 15 tahun terakhir.
  • Kusta: Masih tertahan di posisi tiga besar dunia.
  • Hepatitis B & Dengue: Juara bertahan, setidaknya di level Asia Tenggara.

Teranyar, lonjakan kasus campak di akhir Februari 2026 membuat dunia menoleh ke arah kita. Ironisnya, isu ini baru meledak ke permukaan bukan karena kepedulian internal, melainkan setelah pemerintah Australia merilis nota resmi karena warga negaranya tertular campak usai berwisata ke Indonesia.

Ironi Pasca-Pandemi

Mengapa ini terjadi? Para ahli menunjuk pada penurunan cakupan imunisasi rutin yang drastis. Selama pandemi, fokus kita tersedot ke Covid-19. Namun, setelah pandemi mereda, penyakit-penyakit “klasik” yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I) justru mengganas.

Ada perbedaan kontras yang nyata. Kita sukses besar dalam vaksinasi Covid-19 karena adanya komitmen politik dan mobilisasi massa yang masif. Namun, untuk imunisasi rutin seperti campak, difteri, dan polio, semangat itu seolah menguap dan hanya menjadi tumpukan laporan administratif di atas meja birokrasi.

“Alergi” Status Kejadian Luar Biasa (KLB)

Salah satu hambatan terbesar adalah keengganan pemerintah daerah menetapkan status KLB. Meskipun kasus meningkat dan kematian mulai bertambah, banyak pemimpin daerah yang merasa status KLB adalah “noda hitam” politik.

Padahal, menyembunyikan data tidak menghentikan virus. Tanpa status KLB, anggaran darurat tidak cair, dan BPJS tidak bisa menanggung biaya pengobatan. Akibatnya, daerah harus menanggung beban logistik yang besar sendirian di tengah pemangkasan anggaran pusat. Ini adalah dilema yang mengorbankan keselamatan nyawa demi citra politik.

Tantangan Media Sosial dan Narasi Antivaksin

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi gempuran narasi antivaksin yang masif dari media sosial. Isu-isu usang seperti kaitan vaksin dengan autis kembali digoreng, seringkali mengacu pada gerakan antivaksin di Amerika Serikat. Tanpa intervensi pemerintah yang kuat di ruang digital, edukasi kesehatan akan selalu kalah cepat dibanding hoaks yang menyebar dalam hitungan detik.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan berencana melakukan imunisasi tambahan serentak. Ini adalah langkah pendek yang efektif untuk memutus rantai wabah. Namun, untuk jangka panjang, kuncinya adalah stamina.

Menurunkan peringkat buruk ini bukan tentang memenangkan satu pertempuran, melainkan memenangkan perang panjang melawan ketidakpedulian. Kita butuh transparansi data, penguatan program imunisasi di lapangan (bukan hanya di kertas), dan kesadaran masyarakat bahwa satu suntikan kecil bisa menyelamatkan satu generasi.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi “juara dunia” untuk penyakit yang seharusnya sudah punah. Kemanusiaan harus ditempatkan di atas kepentingan politik, karena nyawa tidak bisa menunggu perbaikan administrasi.

Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Bigmo Minta Maaf ke Azizah Salsha, Kasus Berakhir Damai

Bigmo Minta Maaf ke Azizah Salsha, Kasus Berakhir Damai

Energi Juang News, Jakarta- Polemik dugaan pencemaran nama baik yang menyeret selebgram Azizah Salsha memasuki babak baru setelah pertemuan langsung antara pihak-pihak terkait berlangsung hangat.

Pertemuan Langsung Jadi Titik Balik

Azizah Salsha akhirnya menerima permintaan maaf dari Adimas Firdaus alias Resbob dan Muhammad Jannah alias Bigmo. Permintaan maaf itu disampaikan secara langsung dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Andre Rosiade dan keluarga.

Momen tersebut dibagikan oleh Bigmo melalui akun Instagram pribadinya. Ia datang bersama ibundanya untuk menemui Azizah dan keluarganya.

Dalam unggahan itu terlihat suasana yang cair. Mereka berbincang santai dan sempat berfoto bersama. Salah satu momen menunjukkan Azizah merangkul ibu Bigmo, menandakan suasana yang sudah mencair.

Permintaan Maaf Disampaikan Terbuka

“Terima kasih kak @azizahsalsha_ & Pak @andre_rosiade atas waktu dan kelapangan dadanya untuk membuka pintu untuk saya dan bunda saya. Saya mewakilkan abang dan bunda saya meminta maaf setulus-tulusnya atas kegaduhan yang abang saya buat. Semoga ini juga jadi pelajaran untuk kita semua agar berkonten dan ber-sosmed ke arah lebih positif dan bermanfaat,” tulis Bigmo dalam unggahannya, seperti dilihat Selasa (7/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, mereka kompak mengenakan pakaian putih. Mereka juga berfoto dengan gestur tangan di dada sebagai simbol permohonan izin dan penghormatan.

Pengakuan dan Janji Tidak Mengulangi

Sebelumnya, Bigmo telah lebih dulu menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial. Ia mengakui kesalahan atas konten yang dibuat bersama Resbob.

“Saya Bigmo, dan dalam kesempatan ini saya atas nama pribadi dan juga atas nama abang saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang setulus-tulusnya kepada kak Nurul Azizah Rosiade atau kak Zize, yang terhormat Pak Andre Rosiade beserta seluruh keluarga besarnya, atas terjadinya hal yang melukai atau mencemarkan nama baik kak Zize dan keluarga,” ucapnya.

Baca juga : Azizah Salsha Pertimbangkan Berdamai Dengan Resbob dan Bigmo

Ia juga menegaskan bahwa informasi yang disampaikan sebelumnya tidak sesuai fakta. Bigmo berjanji akan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran penting.

“Hal ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya pribadi maupun abang saya, dan atas kejadian ini saya dan abang saya berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan akan terus mencoba menjadi pribadi yang lebih dan menjunjung tinggi nilai nilai kesopanan dan kesantunan yang ada dalam bernegara,” katanya.

Awal Kasus: Hoaks di Media Sosial

Kasus ini bermula dari keresahan Azizah Salsha terhadap berbagai informasi yang dinilai tidak benar dan terus beredar di media sosial.

Pada Agustus 2025, ia melaporkan akun TikTok @ibaratbradpittt dan kanal YouTube Niceguymo ke Bareskrim Polri. Laporan itu didampingi oleh kuasa hukumnya.

Akun-akun tersebut, yang diketahui dikelola oleh Bigmo dan Resbob, diduga menyebarkan isu tidak benar terkait kehidupan pribadi Azizah, termasuk tudingan perselingkuhan.

Redaksi Energi Juang News

Fakta Motor Listrik BGN Viral 70 Ribu Unit

Fakta Motor Listrik BGN Viral 70 Ribu Unit

Energi Juang News, Jakarta- Video yang memperlihatkan ribuan kendaraan roda dua berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) ramai dibicarakan di media sosial. Narasi yang beredar menyebut jumlahnya mencapai puluhan ribu unit dan dikaitkan dengan operasional SPPG di Jawa Barat.

Video Viral Picu Spekulasi Jumlah Motor

Dalam video tersebut, tampak deretan motor listrik tersusun di sebuah gudang besar. Pembuat konten menyebut jumlah kendaraan mencapai 70 ribu unit dan seluruhnya dialokasikan untuk wilayah Jawa Barat.

“Ini yang saya spill semua motor ada 70 ribu motor untuk wilayah Provinsi Jawa Barat doang, nah kira-kira semua karyawannya atau kepala dapur SPPG-nya saya kurang paham, saya nggak berani nyebarin berita hoax, tapi yang jelas ini untuk Provinsi Jawa Barat doang, ada 70 ribu unit motor,” ucap pembuat konten itu.

Rekaman lain juga menunjukkan sejumlah motor yang telah dimuat ke atas truk. Pada bodinya terpasang stiker bertuliskan ‘Badan Gizi Nasional Republik Indonesia’.

BGN Beri Klarifikasi Resmi

Menanggapi video tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memberikan penjelasan. Ia menegaskan bahwa pengadaan motor listrik itu merupakan bagian dari rencana anggaran tahun 2025.

“Pengadaan motor ini memang masuk dalam anggaran 2025. Fungsinya untuk mendukung operasional Kepala SPPG,” ujar Dadan dalam siaran pers, Selasa (7/4/2026).

Motor tersebut akan digunakan untuk menunjang Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama dalam mendukung mobilitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Belum Didistribusikan, Masih Proses Administrasi

Dadan memastikan kendaraan tersebut belum disalurkan ke lapangan. Saat ini, seluruh unit masih menunggu penyelesaian administrasi sebagai Barang Milik Negara (BMN).

“Motor tersebut belum dibagikan. Setelah seluruhnya lengkap, akan dicatat terlebih dahulu sebagai BMN sebelum didistribusikan,” jelasnya.

Baca juga : Isu APBN 2 Pekan Dibantah Menkeu

Ia juga menyebut proses pengadaan dilakukan secara bertahap sejak Desember 2025.

Klaim 70 Ribu Unit Dipastikan Hoaks

BGN membantah keras informasi yang menyebut jumlah motor mencapai 70 ribu unit. Menurut Dadan, angka tersebut tidak sesuai dengan data resmi.

“Informasi 70 ribu unit itu tidak benar. Realisasi total motor listrik sebanyak 21.801 unit dari 25 ribu unit yang dipesan di tahun 2025,” sebut Dadan.

Imbauan agar Publik Tidak Mudah Terpengaruh

BGN mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menerima informasi di media sosial. Setiap informasi sebaiknya diverifikasi sebelum dipercaya atau disebarkan kembali.

Pemerintah menegaskan bahwa pengadaan ini bertujuan mendukung kelancaran program MBG di berbagai daerah, bukan seperti yang dinarasikan dalam video viral.

Redaksi Energi Juang News

Pejuang Kebhinekaan itu bernama Gugun Gumilar

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Pembukaan segel Yayasan dan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika di Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Banten oleh Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Gugun Gumilar layak dibaca sebagai tindakan politik-etik yang penting dalam konteks kehidupan kebangsaan Indonesia.

Di tengah meningkatnya kasus pembatasan kebebasan beribadah, langkah tersebut bukan sekadar tindakan administratif, melainkan pernyataan nilai: bahwa negara tidak boleh tunduk pada tekanan intoleransi, dan bahwa hak beribadah adalah bagian tak terpisahkan dari martabat warga negara.

Dalam kerangka teoretis, tindakan Gugun dapat dijelaskan melalui perspektif multikulturalisme seperti yang dikemukakan Will Kymlicka. Kymlicka menegaskan bahwa negara demokratis berkewajiban melindungi hak-hak kelompok minoritas, termasuk hak menjalankan keyakinan agama.

Pembukaan segel rumah doa tersebut menunjukkan keberpihakan pada prinsip bahwa keadilan tidak hanya bersifat mayoritarian, tetapi juga harus menjamin ruang hidup kelompok-kelompok yang rentan.

Lebih jauh, jika merujuk pada teori tindakan komunikatif dari Jürgen Habermas, tindakan Gugun dapat dimaknai sebagai upaya memulihkan rasionalitas publik yang sempat terganggu oleh tekanan sosial berbasis prasangka. Dalam masyarakat demokratis, keputusan yang menyangkut ruang publik—termasuk rumah ibadah—seharusnya didasarkan pada dialog rasional, bukan pada tekanan massa atau sentimen eksklusif.

Dengan membuka segel tersebut, Gugun mengirim pesan bahwa negara harus kembali pada prinsip deliberasi yang adil dan inklusif.

Dari perspektif sosiologi kekuasaan, sebagaimana diuraikan Michel Foucault, praktik penyegelan rumah ibadah dapat dipahami sebagai bentuk relasi kuasa yang menormalisasi dominasi kelompok tertentu atas yang lain. Dalam konteks ini, pembukaan segel menjadi tindakan resistensi terhadap praktik kuasa yang diskriminatif.

Gugun, dengan demikian, tidak hanya bertindak sebagai pejabat, tetapi juga sebagai agen yang mengoreksi penyimpangan dalam praktik kekuasaan negara.

Karena itu, tidak berlebihan jika Gugun Gumilar disebut sebagai pejuang kebhinekaan. Tindakannya mencerminkan komitmen terhadap nilai-nilai dasar bangsa—yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945—yang menjamin kebebasan beragama dan beribadah.

Dalam konteks ini, kebhinekaan bukan sekadar slogan, melainkan prinsip yang harus terus diperjuangkan melalui tindakan nyata, terutama ketika ia terancam oleh intoleransi.

Namun demikian, apresiasi terhadap langkah Gugun tidak boleh berhenti pada satu peristiwa. Justru di sinilah ujian sesungguhnya.

Komitmen terhadap kebhinekaan menuntut konsistensi. Kasus-kasus pelanggaran kebebasan beribadah masih terjadi di berbagai daerah—mulai dari penolakan pendirian rumah ibadah hingga intimidasi terhadap kelompok minoritas.

Jika Gugun ingin benar-benar meneguhkan dirinya sebagai pejuang kebhinekaan, maka keberpihakan serupa harus ditunjukkan secara sistematis dan berkelanjutan dalam kasus-kasus lain.

Dalam perspektif etika politik, sebagaimana dirumuskan John Rawls, keadilan mensyaratkan prinsip kesetaraan kebebasan dasar bagi semua warga negara. Artinya, pembelaan terhadap satu kelompok tidak boleh bersifat selektif.

Negara, melalui para pejabatnya, harus menjamin bahwa setiap warga—tanpa memandang agama atau keyakinan—memiliki hak yang sama untuk beribadah tanpa rasa takut.

Dengan demikian, tindakan Gugun Gumilar membuka segel rumah doa di Teluknaga adalah langkah progresif yang patut diapresiasi sebagai manifestasi keberpihakan pada kebhinekaan.

Namun, langkah tersebut sekaligus menjadi titik tolak untuk tuntutan yang lebih besar: konsistensi dalam membela kebebasan beragama di seluruh penjuru negeri. Sebab, kebhinekaan sejati tidak diukur dari satu tindakan simbolik, melainkan dari keberanian untuk berdiri tegak di setiap medan di mana toleransi diuji.

Redaksi Energi Juang News

Isu APBN 2 Pekan Dibantah Menkeu

Isu APBN 2 Pekan Dibantah Menkeu

Energi Juang News, Jakarta- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap adanya isu yang menyebut kondisi kas negara dalam tekanan serius. Isu tersebut bahkan menyebut anggaran negara hanya mampu bertahan dalam waktu sangat terbatas. Namun, ia menegaskan kabar itu tidak benar dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Isu Internal Kemenkeu Picu Kebingungan

Purbaya menyampaikan bahwa kabar mengenai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) muncul saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR. Rapat tersebut membahas kinerja penerimaan negara pada triwulan I tahun anggaran 2026.

“Kalau APBN nggak naik, apakah APBN kita kuat sepanjang tahun? Karena ada orang bilang uang saya tinggal 2 minggu saja sudah habis, bahkan bukan dari luar tapi dari orang Kementerian Keuangan itu sendiri yang sebarkan isu-isu seperti itu, saya baru tahu, padahal menterinya saya, jadi saya agak bingung,” kata Purbaya di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Ia mengaku terkejut karena informasi tersebut justru berasal dari internal kementerian yang dipimpinnya.

Simulasi Harga Minyak Sudah Disiapkan

Purbaya menjelaskan, isu tersebut muncul di tengah gejolak harga minyak dunia. Meski begitu, pemerintah telah lebih dulu melakukan simulasi terhadap berbagai skenario kenaikan harga energi global.

Baca juga : Fakta Motor Listrik BGN Viral 70 Ribu Unit

“Tapi gini, begitu harga minyak naik ke level yang tinggi, kami di kementerian langsung exercise untuk masing-masing harga, harga sampai 80 dolar (per barel) kondisi APBN berapa, 90 dolar seperti apa, sampai 100 dolar seperti apa, dan mitigasinya seperti apa,” ucap dia.

Simulasi ini menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah antisipasi agar kondisi fiskal tetap stabil.

Defisit Dijaga di Bawah 4 Persen

Purbaya juga menegaskan bahwa pemerintah telah memperhitungkan dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN. Arahan Presiden Prabowo Subianto, menurutnya, sudah berbasis pada perhitungan matang.

“Jadi langkah-langkah yang disebutkan Bapak Presiden dan anggota kabinet yang lain di pengumuman sebelumnya itu sudah dipertimbangkan, dia mungkin nggak omongin, kita sudah hitung asumsi harga minyak dunia 100 dollar per barel rata-rata sepanjang tahun 2026 dan dengan exercise tertentu anggaran bisa kita tekan masih di 2,92% dari PDB,” jelasnya.

“Jadi sepanjang 2026 ini dengan harga rata-rata 100 aman,” lanjut dia.

Dengan perhitungan tersebut, pemerintah memastikan defisit APBN tetap terkendali dan berada di bawah ambang batas 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Redaksi Energi Juang News