Kamis, Mei 28, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 73

Trump Ancam Hancurkan Iran dalam Semalam

Donald Trump menyampaikan pernyataan terkait Iran dan ketegangan Timur Tengah

Energi Juang News, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran. Trump menyebut Iran dapat “dihancurkan dalam semalam” di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat memberikan ultimatum kepada Teheran terkait kesepakatan yang diminta pemerintah Amerika Serikat.

Trump Ultimatum Iran soal Kesepakatan

Trump sebelumnya menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk menyepakati gencatan senjata atau menghadapi serangan yang lebih luas terhadap infrastruktur penting.

Pemerintah Amerika Serikat juga kembali menuntut Iran menghentikan program senjata nuklir serta membuka kembali jalur transit minyak di Selat Hormuz.

“Seluruh negara itu dapat dihancurkan dalam semalam, dan malam itu mungkin besok malam,” kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, dikutip dari AFP, Selasa (7/4/2026).

“Saya harap saya tidak perlu melakukannya,” lanjut Trump.

Pernyataan tersebut memicu kritik dari sejumlah pihak.

Beberapa pengamat menilai serangan terhadap infrastruktur sipil dapat menimbulkan persoalan hukum internasional.

Namun demikian, Trump menolak pandangan tersebut.

“Saya tidak khawatir tentang itu. Tahukah Anda apa itu kejahatan perang? Memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyebut operasi militer terhadap Iran terus ditingkatkan.

Ia juga memperingatkan potensi eskalasi lanjutan dalam waktu dekat.

Ketegangan Iran dan Selat Hormuz Memanas

Di tengah meningkatnya konflik, Iran tetap mempertahankan sikap terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia.

Pejabat komunikasi Kantor Presiden Iran Massoud Pezeshkian, Mehdi Tabatabaei, menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada mekanisme yang menurut Iran dapat mengakomodasi dampak perang.

Pernyataan tersebut muncul setelah meningkatnya ketegangan menyusul operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran juga menyampaikan bahwa kondisi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelumnya.

Iran bahkan menyatakan rencana penerapan sistem tarif bagi kapal yang melintas di jalur strategis tersebut.

Situasi ini menambah kekhawatiran pasar global mengingat Selat Hormuz menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.

Redaksi Energi Juang News

Kapolda Maluku Utara Tegaskan Bentrokan di Halmahera Tengah Tak Terkait SARA

Kapolda Maluku Utara memberikan pernyataan terkait bentrokan di Halmahera Tengah

Energi Juang News, Jakarta – Kapolda Maluku Utara Irjen Pol Waris Agono menegaskan bentrokan antar desa yang berawal dari kasus pembunuhan di Halmahera Tengah tidak berkaitan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Menurutnya, peristiwa tersebut dipicu oleh provokasi serta penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

“Kami tegaskan bahwa ini bukan konflik SARA. Ada indikasi kejadian ini dipengaruhi oleh provokasi dan penyebaran informasi yang belum tentu benar,” ujar Waris Agono di Ternate, Senin (6/4).

Polisi Dalami Penyebab Bentrokan

Penyidik kepolisian saat ini masih mendalami kasus tersebut dengan mengumpulkan berbagai fakta di lapangan.

Selain itu, aparat juga menggali keterangan dari korban yang selamat untuk membantu proses penyelidikan.

“Kami akan menelusuri seluruh fakta, termasuk keterangan dari korban selamat yang memiliki nilai penting karena mengalami langsung kejadian tersebut,” katanya.

Kapolda menegaskan hingga saat ini kepolisian belum menemukan indikasi keterlibatan kelompok tertentu dalam kasus tersebut.

“Kami tegaskan, belum ada petunjuk yang mengarah ke sana,” ujarnya.

Polisi juga mendalami dugaan adanya provokasi yang dapat memperburuk kondisi keamanan di masyarakat.

“Siapa pun yang mencoba memecah belah dan memperkeruh situasi akan kami tindak sesuai hukum yang berlaku,” kata Waris.

Dalam upaya pengungkapan kasus, Mabes Polri direncanakan menurunkan tim untuk membantu proses penyidikan di lapangan.

Masyarakat Diminta Tidak Terprovokasi

Kapolda Maluku Utara mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya.

“Jangan sampai isu yang tidak jelas justru memperkeruh situasi dan menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ia juga meminta masyarakat menahan diri serta mempercayakan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi. Berikan kami waktu untuk bekerja secara maksimal dalam mengungkap kasus ini,” kata Waris Agono.

Hingga saat ini, aparat kepolisian terus memantau kondisi keamanan di wilayah tersebut guna memastikan situasi tetap aman dan kondusif.

Redaksi Energi Juang News

Kasus Pembunuhan Remaja Mandeg, Gus Falah Desak Penyidik Polres Tual Diperiksa

Energi Juang News, Jakarta- Anggota Komisi III DPR RI Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) mendesak penyidik Kepolisian Resor (Polres) Tual diperiksa atas pelanggaran kode etik, terkait mandegnya penyidikan kasus pembunuhan Komar Renngur (15), pelajar SMP asal Kecamatan Dullah Selatan, Kota Tual pada Agustus 2025 lalu.

Gus Falah menilai, penyidik Polres Tual tak profesional dalam menyidik kasus tersebut.

Desak Pemeriksaan Etik Penyidik Polres Tual

Hal itu ditegaskan Gus Falah dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi III DPR dengan Justitian Law Firm atau Kuasa Hukum korban serta orang tua korban di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Ketidakprofesionalan atas nama penyidik, saya minta proses pemeriksaan pelanggaran kode etik dilakukan,” tegas Gus Falah.

Baca juga : Gus Falah Ingatkan Jangan Ada ‘Abuse of Power’ dalam RUU Perampasan Aset

Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu juga menduga, letak Tual secara geografis juga turut mempengaruhi ‘macetnya’ penyidikan kasus ini.

Letak Tual yang jauh, menurut Gus Falah bisa memunculkan ‘raja-raja kecil’, termasuk di kalangan aparat penegak hukum.

“Bisa saja hal seperti ini sudah sering terjadi di Tual, dan menjadi alat untuk mengalihkan perhatian,” ujar Gus Falah.

Berkas Diminta Naik ke Polda Maluku

Gus Falah menegaskan agar proses pemberkasan kasus ini dilakukan di Polda Maluku.

Gus Falah pun mendesak Polda Maluku agar dalam proses pemeriksaan lanjutan, melibatkan kuasa hukum korban.

Saya juga meminta dalam persidangan (Komisi III) kedepannya, Polda Maluku, kejaksaaan dan Polres dihadirkan karena ini menyangkut nyawa anak muda, generasi bangsa. Dan ketidakadilan ini harus kita ungkap,” pungkasnya.

Redaksi Energi Juang News

Tragedi Dogiyai: Kekerasan Negara yang Berulang di Papua

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Insiden penembakan terhadap warga sipil di Kabupaten Dogiyai, Papua, pada 31 Maret dan 1 April 2026 kembali menegaskan satu pola lama yang belum juga terputus: kekerasan oleh aparat negara terhadap warga di wilayah yang secara historis telah mengalami marjinalisasi struktural. Peristiwa ini tidak dapat dipandang sebagai insiden terpisah atau sekadar respons spontan aparat di lapangan, melainkan harus dibaca dalam kerangka teori ilmu sosial yang menjelaskan relasi kuasa, dominasi, dan kekerasan negara.

Kronologi kejadian menunjukkan bahwa situasi mencekam di Kota Moanemani dan Kabupaten Dogiyai bermula dari tewasnya seorang anggota kepolisian, Brigadir Dua Juventus Edowai, yang ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di parit Gereja Ebenezer pada Selasa pagi, 31 Maret 2026. Kematian tersebut diduga memicu kemarahan aparat.

Dari Kematian Brigadir Juventus ke Penembakan Warga Sipil

Alih-alih melakukan investigasi profesional dan terukur, sejumlah anggota kepolisian justru menyisir permukiman warga sambil melepaskan tembakan. Akibatnya, lima warga sipil tewas, termasuk kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Dalam perspektif teori negara, tindakan ini mencerminkan apa yang oleh Max Weber disebut sebagai monopoli sah atas kekerasan oleh negara. Namun, legitimasi kekerasan tersebut bersyarat: ia harus dijalankan dalam kerangka hukum, proporsionalitas, dan perlindungan terhadap warga negara. Ketika kekerasan digunakan secara membabi buta dan tanpa akuntabilitas, maka ia kehilangan legitimasi dan berubah menjadi instrumen penindasan.

Baca juga : Ancaman Ekologis oleh Kapitalis di Lereng Prigen

Lebih jauh, dalam kerangka teori kekerasan struktural Johan Galtung, peristiwa ini tidak hanya merupakan kekerasan langsung (direct violence), tetapi juga bagian dari struktur sosial-politik yang memungkinkan kekerasan itu terjadi dan berulang. Papua, dalam banyak kajian, diposisikan sebagai wilayah pinggiran yang mengalami ketimpangan pembangunan, diskriminasi, serta pendekatan keamanan yang dominan. Dalam konteks ini, aparat tidak semata bertindak sebagai penegak hukum, melainkan sebagai representasi negara yang sering kali hadir dalam wajah represif.

Kekerasan Berulang dan Normalisasi Represi Negara di Papua

Pendekatan represif tersebut juga dapat dianalisis melalui teori Michel Foucault tentang relasi kuasa. Negara, melalui aparatnya, tidak hanya mengontrol wilayah secara fisik, tetapi juga memproduksi ketakutan sebagai mekanisme disiplin sosial. Penyisiran permukiman warga dengan tembakan bukan hanya tindakan kekerasan fisik, tetapi juga pesan simbolik: bahwa negara hadir dengan kekuatan koersif yang dapat digunakan kapan saja terhadap warga.

Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi kekerasan ini. Ketika setiap insiden kekerasan di Papua selalu dibingkai sebagai “reaksi” atas peristiwa tertentu—seperti kematian aparat—maka yang terjadi adalah pembenaran berulang terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Padahal, dalam prinsip negara hukum, tidak ada justifikasi yang membenarkan pembunuhan warga sipil, terlebih terhadap kelompok rentan.

Dari sudut pandang teori konflik, seperti yang dikemukakan oleh Lewis Coser, konflik yang tidak dikelola secara adil justru akan memperdalam jurang ketidakpercayaan antara masyarakat dan negara. Peristiwa Dogiyai berpotensi memperkuat alienasi warga Papua terhadap institusi negara, karena pengalaman sehari-hari mereka menunjukkan bahwa aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber ancaman.

Oleh karena itu, insiden ini harus menjadi momentum refleksi serius bagi negara. Pendekatan keamanan yang mengedepankan kekerasan terbukti tidak hanya gagal menciptakan stabilitas, tetapi juga memperpanjang siklus konflik.

Negara perlu beralih pada pendekatan yang berbasis hak asasi manusia, dialog, dan keadilan restoratif.

Tanpa perubahan paradigma, tragedi seperti di Dogiyai akan terus berulang, dan negara akan semakin kehilangan legitimasi di mata warganya sendiri. Kekerasan bukanlah solusi; ia adalah masalah itu sendiri.

Redaksi Energi Juang News

Gus Falah Ingatkan Jangan Ada ‘Abuse of Power’ dalam RUU Perampasan Aset

Energi Juang News, Jakarta- Anggota Komisi III DPR RI Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) mengingatkan agar jangan ada abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan/wewenang) dalam RUU tentang Perampasan Aset terkait Tindak Pidana.

Hal itu diingatkan Gus Falah dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi III DPR RI dengan para akademisi yang memberi masukan terkait RUU tentang Perampasan Aset terkait Tindak Pidana di di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Waspada Penyalahgunaan Wewenang

Gus Falah mempertanyakan, apakah semua lembaga yang melakukan penyelidikan dan penyidikan berhak melakukan perampasan aset.

Baca juga : Kasus Pembunuhan Remaja Mandeg, Gus Falah Desak Penyidik Polres Tual Diperiksa

“Saya juga mempertanyakan, apakah dibutuhkan putusan peradilan untuk perampasan aset. Sebab, ujar Gus Falah, Pasal 28H ayat (4) UUD 1945 menegaskan ‘Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun’,” ujar Gus Falah.

Hak Milik dan Batas Kewenangan Negara

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR itu melanjutkan, jangan sampai RUU ini bertentangan dengan konstitusi.

Gus Falah juga mempertanyakan,apakah regulasi perampasan aset ini harus menjadi hukum acara sendiri atau lex specialis.

“Sebab sebetulnya bila (regulasi) ini dibikin lex specialis, maka akan lebih tertata dan terarah,” pungkasnya.

Redaksi Energi Juang News

Harga Emas Tembus Rp 3 Juta Pekan Depan?

Harga Emas Tembus Rp 3 Juta Pekan Depan?

Energi Juang News, Jakarta- Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi lonjakan signifikan pada harga logam mulia dalam waktu dekat. Ia memperkirakan nilai emas bisa menyentuh Rp 3 juta per gram pada perdagangan pekan depan.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) tercatat berada di level Rp 2.857.000 per gram.

Proyeksi Kenaikan Harga Emas Global

Ibrahim juga melihat tren penguatan harga emas di pasar internasional. Ia memperkirakan harga emas dunia dapat mencapai US$ 5.080 per troy ounce.

Menurutnya, kondisi geopolitik menjadi faktor utama pendorong kenaikan tersebut. Ketegangan di kawasan Timur Tengah mendorong penguatan dolar Amerika Serikat sekaligus menekan nilai tukar rupiah.

“Karena pada saat dolar menguat, harga minyak menguat, berarti pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup besar untuk membeli minyak,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Ahad, 5 April 2026.

Dampak Konflik Timur Tengah dan Nilai Tukar Rupiah

Situasi geopolitik yang belum stabil turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Ibrahim memproyeksikan nilai tukar mata uang Indonesia akan melemah hingga menyentuh Rp 17.120 per dolar AS pada pekan depan.

Baca juga : Harga Emas Meningkat Hari Ini

Ia menyoroti perkembangan terbaru, di mana Iran menolak tawaran gencatan senjata dari Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Ibrahim menilai, apabila Iran memenangkan konflik, maka lonjakan harga emas berpotensi semakin tajam.

Peran Kebijakan The Fed

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat juga memengaruhi pergerakan emas. Ibrahim menyebut bank sentral AS atau The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga acuannya.

Kebijakan tersebut dapat menciptakan tekanan tersendiri terhadap harga emas, terutama dalam jangka pendek.

Potensi Koreksi Harga

Meski tren kenaikan cukup kuat, Ibrahim tetap membuka kemungkinan terjadinya koreksi harga. Ia memperkirakan harga emas global bisa turun hingga US$ 4.358 per troy ounce.

Di pasar domestik, harga logam mulia berpotensi turun ke bawah Rp 2.800.000 per gram.

“Jadi kemungkinan besar dalam minggu depan kalau seandainya terjadi koreksi terhadap harga emas, kemungkinan di bawah Rp 2.800.000, tepatnya di Rp 2.780.000 rupiah per gram,” ucap Ibrahim.

Redaksi Energi Juang News

Misteri Hantu Jeruk Purut di Balik Malam Jumat

Hantu Jeruk Purut_Ilustrasi
Hantu Jeruk Purut_Ilustrasi

Energi Juang News,Jakarta- Pemakaman selalu menjadi tempat yang menyimpan banyak cerita yang tidak terungkap. Di antara deretan nisan yang sunyi dan pepohonan tua yang menjulang, sering kali tersimpan kisah-kisah yang sulit dijelaskan oleh logika. Di sebuah TPU yang terletak di Jakarta Selatan, warga sekitar sudah lama mengenal satu sosok yang konon masih bergentayangan hingga hari ini.

Warga menyebutnya dengan satu nama yang cukup terkenal—Hantu Jeruk Purut.

Cerita ini bermula dari kesaksian seorang penjaga makam pada tahun 1986. Sejak saat itu, berbagai kejadian aneh mulai sering terjadi, terutama saat malam Jumat tiba.

“Dulu saya sendiri yang lihat,” ujar Pak Slamet, penjaga makam yang kini sudah tua, kepada beberapa pemuda yang datang berkunjung.

“Apa benar dia bawa kepalanya sendiri, Pak?” tanya salah satu pemuda dengan wajah tegang.

Pak Slamet mengangguk pelan. “Saya lihat jelas… dia pakai baju seperti pastur… dan kepalanya dia pegang di tangan.”

“Sendirian?” tanya yang lain.

Pak Slamet menatap ke arah kegelapan pemakaman. “Tidak. Ada anjing hitam besar yang selalu ikut di belakangnya.”

Kisah itu membuat TPU tersebut semakin dikenal sebagai tempat angker. Banyak orang datang hanya untuk membuktikan kebenarannya, termasuk sekelompok pemuda dari luar kota.

Malam itu adalah malam Jumat. Tiga pemuda—Rian, Dito, dan Bagas—memutuskan untuk melewati jalan di dekat pemakaman tersebut sepulang dari sebuah acara.

“Lu yakin mau lewat sini?” tanya Dito sambil melihat ke arah gerbang pemakaman yang gelap.

Rian tertawa kecil. “Ah, cuma cerita doang. Masa iya ada hantu beneran.”

Bagas yang menyetir hanya diam, tapi tangannya terlihat sedikit gemetar.

Saat mobil mereka melaju pelan melewati jalan sepi di samping TPU, suasana tiba-tiba berubah.

Lampu jalan yang redup berkedip.

Angin terasa lebih dingin.

Dan mendadak…

Mesin mobil mati.

“Eh, kenapa ini?” panik Bagas sambil mencoba menyalakan kembali mobilnya.

“Jangan bercanda, Gas!” kata Dito dengan suara tegang.

“Aku nggak bercanda!” jawab Bagas.

Tiba-tiba, Rian yang duduk di kursi depan terdiam.

“Lu lihat itu…?” bisiknya pelan.

Di tengah jalan, sekitar beberapa meter di depan mobil, muncul sosok tinggi mengenakan jubah panjang seperti pastur.

Namun… kepalanya tidak berada di tempatnya.

Sosok itu memegang kepalanya sendiri di tangan kiri.

Dan di belakangnya, seekor anjing hitam besar berdiri diam, matanya menyala dalam gelap.

“Ya Tuhan…” Dito gemetar.

Sosok itu perlahan berjalan mendekat.

Langkahnya tidak mengeluarkan suara.

Namun setiap langkahnya terasa seperti menekan dada mereka.

“Jangan keluar… jangan keluar…” bisik Bagas.

Tiba-tiba, sosok itu berhenti tepat di depan mobil.

Kepala yang dipegangnya perlahan menghadap ke arah mereka.

Dan seketika—

Semua menjadi gelap.

Mereka baru tersadar saat pagi hari.

Mobil mereka masih berada di tempat yang sama, namun mesin sudah kembali normal.

“Semalam… itu nyata?” tanya Dito dengan suara lemah.

Rian tidak menjawab. Wajahnya pucat, matanya kosong.

Bagas hanya berkata pelan, “Kita tidak seharusnya meremehkan.”

Setelah kejadian itu, hal-hal aneh mulai menimpa mereka.

Rian sering bermimpi didatangi sosok tanpa kepala.

Dito mengaku mendengar suara langkah anjing di malam hari.

Sementara Bagas mengalami kejadian paling aneh—ia sering melihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya saat bercermin.

Mereka akhirnya kembali ke TPU tersebut untuk mencari jawaban.

Di sana, mereka bertemu dengan Pak Slamet.

“Kalian sudah melihatnya, ya…” kata Pak Slamet tanpa perlu dijelaskan.

“Iya, Pak…” jawab Bagas. “Kenapa dia muncul?”

Pak Slamet menarik napas panjang.

“Konon… dia sedang mencari makamnya sendiri. Katanya, tubuhnya tidak dikuburkan di sini.”

“Lalu kenapa di sini dia muncul?” tanya Rian.

“Karena jiwanya tidak tenang,” jawab Pak Slamet. “Ada yang bilang dulu dia dibunuh… kepalanya dipenggal karena mempertahankan keyakinannya.”

Dito menelan ludah. “Jadi… dia tidak bisa pergi?”

Pak Slamet menggeleng pelan. “Selama dia belum menemukan tempatnya… dia akan terus berjalan.”

Seorang warga lain yang ikut mendengar percakapan itu menambahkan, “Kalau mau lihat dia, datang saja malam Jumat. Tapi harus ganjil jumlah orangnya.”

“Kenapa harus ganjil?” tanya Bagas.

“Supaya ‘cukup’ untuk dia menampakkan diri,” jawab warga itu dengan nada misterius.

Sejak saat itu, TPU Jeruk Purut semakin dikenal sebagai salah satu tempat paling angker.

Namun bagi warga sekitar, cerita ini bukan sekadar legenda.

“Ini bukan buat ditantang,” kata Pak Slamet suatu malam. “Ini buat dihormati.”

Misteri hantu jeruk purut terus hidup hingga sekarang. Tidak ada yang benar-benar tahu asal-usul pastinya, apakah ia benar seorang pastur yang kehilangan kepalanya, atau hanya energi dari masa lalu yang belum selesai.

Namun satu hal yang pasti—cerita ini telah menjadi bagian dari budaya urban yang terus diwariskan.

Bukan hanya sebagai kisah menakutkan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa ada batas antara dunia manusia dan dunia lain yang sebaiknya tidak dilanggar.

Dan jika suatu malam Anda melewati jalan sunyi di dekat pemakaman itu…lalu mesin kendaraan Anda tiba-tiba mati…mungkin itu bukan sekadar kebetulan.

Karena di balik gelapnya malam Jumat…ada sesuatu yang masih berjalan…membawa kepalanya sendiri…dan belum menemukan jalan pulang.

Redaksi Energi Juang News

Dosen Untirta Direkam Mahasiswa, Kasus Dilaporkan

Dosen Untirta Direkam Mahasiswa, Kasus Dilaporkan

Energi Juang News, Banten- Sebuah kasus dugaan pelecehan seksual mencuat di lingkungan kampus di Serang, Banten. Peristiwa ini menyeret seorang mahasiswa setelah aksinya terekam dan berujung laporan ke pihak kepolisian.

Kronologi Kejadian di Lingkungan Kampus

Seorang dosen wanita berinisial LK dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten melaporkan seorang mahasiswa berinisial MZ ke Kepolisian Daerah (Polda) Banten. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual yang sempat viral di media sosial.

Insiden itu terjadi ketika korban memergoki dirinya sedang direkam secara diam-diam saat berada di dalam toilet kampus. Aksi tersebut diketahui berlangsung di Gedung B Kampus Pakupatan.

Menyadari kejadian tersebut, korban langsung keluar dari kamar mandi dan berteriak meminta pertolongan. Petugas keamanan yang berada di lokasi segera datang dan mengamankan pelaku.

Polisi Dalami Laporan dan Kumpulkan Bukti

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten Komisaris Besar Maruli Ahiles Hutapea menyatakan kasus ini kini ditangani oleh Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum.

Penyidik telah memeriksa pelapor guna menggali kronologi kejadian secara rinci.

Dugaan tindak pidana tersebut disangkakan melanggar Pasal 14 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual,” kata Maruli lewat keterangan tertulis diterima Tempo Ahad malam, 5 April 2026.

Barang Bukti dan Waktu Kejadian

Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 1 April 2026. Laporan resmi kemudian diajukan dua hari setelahnya pada Jumat, 2 April 2026.

Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan sejumlah barang bukti. Di antaranya satu unit ponsel merek Samsung yang digunakan pelaku untuk merekam, serta flashdisk berisi rekaman video korban.

Selain itu, polisi juga menyita satu lembar kwitansi visum, serta pakaian milik korban berupa kerudung, baju, dan celana.

Imbauan Kepolisian kepada Masyarakat

Polda Banten mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat berada di fasilitas umum.

“Segera melaporkan kepada pihak kepolisian apabila mengetahui atau mengalami tindak pidana kekerasan seksual atau pidana lainnya melalui Call Center 110,” kata Maruli.

Redaksi Energi Juang News

Duka di Libanon: Harga Mahal Sebuah Perdamaian

Duka di Libanon: Harga Mahal Sebuah Perdamaian

Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Dunia saat ini seolah sedang berjalan di atas lapisan kaca yang retak. Kabar memilukan yang kembali datang dari tanah Libanon bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi kemanusiaan. Belum kering air mata bangsa ini melepas kepulangan jenazah tiga prajurit terbaik TNI yang gugur dalam tugas mulia, ledakan kembali menghantam area fasilitas PBB pada Jumat petang, 3 April 2026, yang melukai tiga personel Indonesia lainnya. Insiden yang terjadi untuk ketiga kalinya dalam satu pekan ini menunjukkan bahwa zona netral tidak lagi dihormati, dan nyawa para penjaga perdamaian kini berada di titik nadir.

Serangan Beruntun ke UNIFIL: Zona Netral yang Kian Tak Dihormati

Menteri Luar Negeri Sugiono telah mengambil langkah diplomatik yang krusial dengan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggelar rapat luar biasa melalui dukungan Prancis. Langkah ini sangat penting karena kita tidak bisa membiarkan serangan terhadap personel UNIFIL dianggap sebagai “efek samping” perang yang wajar. Namun, di balik upaya investigasi tersebut, tersimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar mengenai arah konflik ini. Jika hukum internasional terus diabaikan dan fasilitas PBB tetap menjadi sasaran, kita sebenarnya sedang menyaksikan keruntuhan tatanan keamanan yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Saat Hukum Internasional Diabaikan: Runtuhnya Wibawa PBB dan Risiko Konflik Meluas

Ketegangan ini bukan hanya soal perebutan wilayah atau ideologi, melainkan sebuah bom waktu bagi ekonomi global. Perang ini berpotensi menjadi konflik paling mahal dalam sejarah modern yang dampaknya akan merambat hingga ke dapur rakyat kecil di seluruh dunia. Ketika stabilitas di wilayah penghasil energi terganggu, kelangkaan minyak akan menjadi kenyataan pahit yang memicu lonjakan inflasi. Harga pasar akan hancur karena ketidakpastian yang membuat investor ketakutan, sementara rantai pasok pangan akan terputus. Pada akhirnya, ego dari negara-negara yang terlibat dalam konflik ini akan memaksa dunia masuk ke dalam jurang krisis yang dalam dan menyakitkan.

Baca juga : UNIFIL Hormati 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Muncul pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh aktor-aktor yang bertikai. Seringkali, ambisi untuk mendominasi pengaruh geopolitik dan mengamankan kepentingan nasional jangka pendek membutakan para pemimpin dunia dari penderitaan kolektif yang mereka ciptakan. Mereka bertaruh dengan stabilitas global demi supremasi yang semu. Padahal, dalam perang dengan skala seperti ini, tidak akan pernah ada pemenang sejati. Yang tersisa hanyalah kehancuran infrastruktur, ekonomi yang lumpuh, dan peti mati yang dipulangkan ke negara-negara yang hanya menginginkan perdamaian.

Kepulangan tiga jenazah prajurit TNI kita serta luka-luka yang diderita personel lainnya harus menjadi pengingat bahwa perdamaian memiliki harga yang sangat mahal. Indonesia harus tetap berdiri tegak di panggung internasional untuk menuntut pertanggungjawaban dan menghentikan kegilaan ini. Kita tidak boleh membiarkan pengorbanan para prajurit tersebut menjadi sia-sia hanya karena dunia gagal meredam ego segelintir pihak. Sudah saatnya senjata diletakkan, sebelum krisis dunia yang total benar-benar menghapus masa depan yang sedang kita bangun bersama.

Redaksi Energi Juang News

Penggerebekan Kampung Narkoba OKU Timur, 5 Ditangkap

Penggerebekan Kampung Narkoba OKU Timur, 5 Ditangkap

Energi Juang News, Oku- Aparat kepolisian melakukan penggerebekan di sebuah kawasan yang diduga menjadi pusat aktivitas narkoba di Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan. Operasi tersebut berujung pada penangkapan lima orang yang diduga terlibat dalam peredaran dan penggunaan sabu.

Kronologi Pengungkapan Kasus

Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan warga yang merasa terganggu dengan aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Pengungkapan ini bermula dari informasi masyarakat yang menyebutkan bahwa rumah tersebut sering dijadikan tempat transaksi dan pesta narkotika jenis sabu,” kata AKP Guntur, Senin (6/4/2026).

Baca juga : Jaringan Perdagangan Komodo Terbongkar di NTT

Setelah menerima laporan, petugas melakukan penyelidikan untuk memastikan kebenaran informasi. Hasilnya mengarah pada satu lokasi yang diduga kuat menjadi tempat transaksi sekaligus penggunaan narkotika.

Penggerebekan dan Penangkapan Pelaku

Polisi akhirnya menggerebek lokasi tersebut pada Selasa (31/3) sekitar pukul 16.00 WIB. Saat operasi berlangsung, petugas menemukan lima orang di tempat kejadian.

Dua orang berada di luar rumah, sementara tiga lainnya berada di dalam. Mereka sempat mencoba melarikan diri, namun petugas berhasil menggagalkan upaya tersebut dan langsung mengamankan seluruhnya.

Kelima orang yang diamankan yakni Chandra alias Can alias Obong (33) yang diduga sebagai bandar. Sementara empat lainnya, Tommy Arif (29), Risky (23), Andoni alias Doni (36), dan Irsan alias Paijo (41), diduga sebagai pembeli sekaligus pengguna.

Barang Bukti yang Diamankan

Dalam penggeledahan, polisi menemukan sejumlah barang bukti yang menguatkan dugaan aktivitas narkoba di lokasi tersebut. Barang bukti tersebut antara lain tujuh paket sabu dengan berat bruto 2,09 gram.

Selain itu, petugas juga menyita alat hisap sabu (bong), timbangan digital, piket, jarum suntik, serta perlengkapan lain yang biasa digunakan dalam aktivitas konsumsi dan peredaran narkotika.

Redaksi Energi Juang News