Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaDuka di Libanon: Harga Mahal Sebuah Perdamaian

Duka di Libanon: Harga Mahal Sebuah Perdamaian

Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Dunia saat ini seolah sedang berjalan di atas lapisan kaca yang retak. Kabar memilukan yang kembali datang dari tanah Libanon bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi kemanusiaan. Belum kering air mata bangsa ini melepas kepulangan jenazah tiga prajurit terbaik TNI yang gugur dalam tugas mulia, ledakan kembali menghantam area fasilitas PBB pada Jumat petang, 3 April 2026, yang melukai tiga personel Indonesia lainnya. Insiden yang terjadi untuk ketiga kalinya dalam satu pekan ini menunjukkan bahwa zona netral tidak lagi dihormati, dan nyawa para penjaga perdamaian kini berada di titik nadir.

Serangan Beruntun ke UNIFIL: Zona Netral yang Kian Tak Dihormati

Menteri Luar Negeri Sugiono telah mengambil langkah diplomatik yang krusial dengan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggelar rapat luar biasa melalui dukungan Prancis. Langkah ini sangat penting karena kita tidak bisa membiarkan serangan terhadap personel UNIFIL dianggap sebagai “efek samping” perang yang wajar. Namun, di balik upaya investigasi tersebut, tersimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar mengenai arah konflik ini. Jika hukum internasional terus diabaikan dan fasilitas PBB tetap menjadi sasaran, kita sebenarnya sedang menyaksikan keruntuhan tatanan keamanan yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Saat Hukum Internasional Diabaikan: Runtuhnya Wibawa PBB dan Risiko Konflik Meluas

Ketegangan ini bukan hanya soal perebutan wilayah atau ideologi, melainkan sebuah bom waktu bagi ekonomi global. Perang ini berpotensi menjadi konflik paling mahal dalam sejarah modern yang dampaknya akan merambat hingga ke dapur rakyat kecil di seluruh dunia. Ketika stabilitas di wilayah penghasil energi terganggu, kelangkaan minyak akan menjadi kenyataan pahit yang memicu lonjakan inflasi. Harga pasar akan hancur karena ketidakpastian yang membuat investor ketakutan, sementara rantai pasok pangan akan terputus. Pada akhirnya, ego dari negara-negara yang terlibat dalam konflik ini akan memaksa dunia masuk ke dalam jurang krisis yang dalam dan menyakitkan.

Baca juga :  Peniadaan Bonus Pejabat BUMN: Nyata Atau Simbolik Belaka?

Baca juga : UNIFIL Hormati 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Muncul pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh aktor-aktor yang bertikai. Seringkali, ambisi untuk mendominasi pengaruh geopolitik dan mengamankan kepentingan nasional jangka pendek membutakan para pemimpin dunia dari penderitaan kolektif yang mereka ciptakan. Mereka bertaruh dengan stabilitas global demi supremasi yang semu. Padahal, dalam perang dengan skala seperti ini, tidak akan pernah ada pemenang sejati. Yang tersisa hanyalah kehancuran infrastruktur, ekonomi yang lumpuh, dan peti mati yang dipulangkan ke negara-negara yang hanya menginginkan perdamaian.

Kepulangan tiga jenazah prajurit TNI kita serta luka-luka yang diderita personel lainnya harus menjadi pengingat bahwa perdamaian memiliki harga yang sangat mahal. Indonesia harus tetap berdiri tegak di panggung internasional untuk menuntut pertanggungjawaban dan menghentikan kegilaan ini. Kita tidak boleh membiarkan pengorbanan para prajurit tersebut menjadi sia-sia hanya karena dunia gagal meredam ego segelintir pihak. Sudah saatnya senjata diletakkan, sebelum krisis dunia yang total benar-benar menghapus masa depan yang sedang kita bangun bersama.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments