Jumat, Mei 29, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 88

Penggelapan Dana Umat Katolik Aek Nabara: ‘Alarm Keras’ Perbankan Kita

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Kasus dugaan penggelapan dana jemaat Gereja Katolik Paroki Aek Nabara senilai Rp28 miliar oleh mantan Kepala Kas Bank Negara Indonesia (BNI) Unit Aek Nabara berinisial AH merupakan alarm keras bagi industri perbankan nasional. Peristiwa yang bermula sejak 2019 ini tidak sekadar mencerminkan kejahatan individual, tetapi juga membuka celah serius dalam sistem pengawasan internal lembaga keuangan.

Ketika seorang pegawai mampu menawarkan produk fiktif bertajuk “BNI Deposito Investment”—yang tidak pernah secara resmi diterbitkan oleh BNI—maka yang dipertaruhkan bukan hanya dana nasabah, melainkan fondasi kepercayaan publik.

Dalam perspektif teoretis, kepercayaan (trust) adalah modal sosial utama dalam industri perbankan. Seperti ditegaskan oleh sosiolog Niklas Luhmann, kepercayaan berfungsi sebagai mekanisme untuk mereduksi kompleksitas dalam hubungan sosial.

Nasabah tidak mungkin memverifikasi setiap proses internal bank; mereka mempercayakan dananya karena yakin pada integritas sistem. Ketika kepercayaan ini dilanggar, dampaknya bersifat sistemik, melampaui kerugian finansial semata.

Kasus ini juga dapat dianalisis melalui kerangka principal-agent problem dalam ekonomi kelembagaan. Teori yang dipopulerkan oleh Michael C. Jensen dan William H. Meckling menjelaskan adanya potensi konflik kepentingan antara pemilik (principal) dan pengelola (agent). Dalam konteks ini, BNI sebagai institusi adalah principal, sementara pegawai seperti AH bertindak sebagai agent. Ketika mekanisme pengawasan lemah, agent memiliki ruang untuk bertindak oportunistik, bahkan melanggar hukum, tanpa terdeteksi dalam waktu lama.

Lebih jauh, kegagalan ini menunjukkan lemahnya implementasi prinsip internal control sebagaimana dirumuskan dalam kerangka Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO). Dalam model COSO, pengendalian internal mencakup lima komponen utama: lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan.

Fakta bahwa produk investasi fiktif dapat ditawarkan selama bertahun-tahun menunjukkan adanya kegagalan setidaknya pada dua aspek: aktivitas pengendalian dan pemantauan.

BNI tidak dapat berlindung di balik argumen bahwa ini adalah “oknum”. Dalam teori organisasi modern, sebagaimana dikemukakan oleh Edgar H. Schein, perilaku individu dalam organisasi sangat dipengaruhi oleh budaya organisasi itu sendiri. Jika budaya kepatuhan (compliance culture) tidak tertanam kuat, maka pelanggaran akan lebih mudah terjadi dan sulit terdeteksi.

Karena itu, langkah perbaikan harus bersifat sistemik, bukan kosmetik.

Pertama, BNI perlu memperkuat sistem pengawasan internal berbasis teknologi (real-time monitoring), sehingga setiap produk yang ditawarkan oleh pegawai dapat diverifikasi secara langsung oleh sistem pusat. Kedua, edukasi nasabah harus ditingkatkan, termasuk memastikan bahwa setiap produk investasi hanya dapat diakses melalui kanal resmi bank. Ketiga, perlindungan pelapor (whistleblower protection) harus diperkuat agar potensi penyimpangan dapat dilaporkan sejak dini tanpa rasa takut.

Selain itu, peran regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjadi krusial. OJK perlu memastikan bahwa standar pengendalian internal perbankan tidak hanya ada di atas kertas, tetapi benar-benar diimplementasikan secara konsisten melalui audit dan pengawasan yang ketat.

Pada akhirnya, kasus ini adalah pengingat bahwa industri perbankan berdiri di atas fondasi kepercayaan yang rapuh. Sekali retak, pemulihannya membutuhkan waktu panjang dan upaya luar biasa.

BNI harus bekerja keras—bukan hanya untuk memulihkan kerugian para korban, tetapi juga untuk memastikan bahwa tragedi serupa tidak pernah terulang. Sebab, dalam dunia keuangan, kehilangan kepercayaan publik adalah risiko terbesar yang tidak dapat ditoleransi.

Redaksi Energi Juang News

Suami Bongkar Dugaan Penjualan Anak di Makassar

Suami Bongkar Dugaan Penjualan Anak di Makassar

Energi Juang News, Makasar- Seorang pria di Makassar, Sulawesi Selatan, melaporkan istrinya ke polisi terkait dugaan kasus serius yang menimpa keluarganya. Laporan tersebut memicu perhatian publik setelah muncul informasi bahwa beberapa anak dalam keluarga itu tidak lagi berada di rumah dan diduga berpindah tangan secara ilegal.

Suami Laporkan Dugaan Penjualan Anak

Anto (40) mendatangi kantor polisi untuk melaporkan istrinya berinisial MT (38). Ia menduga sang istri terlibat dalam dugaan penjualan anak. Menurut Anto, selama menikah mereka memiliki lima anak, yang terdiri atas tiga anak kandung dan dua anak sambung.

Ia menyebut salah satu anak sambung berinisial AI diduga telah dijual. Informasi itu ia peroleh langsung dari istrinya.

Saya dapat informasi dari istri saya kalau anak sambung saya, AI, itu sudah dijual dengan mertua saya,” kata Anto, Kamis (26/3/2026).

Anak Diduga Ditawarkan Sejak Masih dalam Kandungan

Anto juga mengaku menerima kabar bahwa anaknya berinisial AZ diduga mengalami nasib serupa. Ia menyebut anak tersebut sudah ditawarkan kepada pembeli sejak masih berada dalam kandungan. Saat itu, disebutkan ada uang panjar sebesar Rp 1,8 juta.

Temuan tersebut membuat Anto semakin khawatir terhadap kondisi anak-anaknya. Ia mulai menelusuri keberadaan mereka setelah informasi itu berulang kali muncul dari lingkungan keluarga.

Anak Lain Tidak Terlihat Selama Dua Bulan

Kecurigaan Anto bertambah setelah anaknya berinisial AS tidak lagi terlihat di rumah. Ia mengaku sudah dua bulan tidak bertemu dengan anak tersebut.

“AS ini, menurut saya, dia juga sudah dijual karena sudah tidak pernah datang lagi. Ada dua bulan saya tidak pernah ketemu dengan anak saya,” ungkapnya.

Situasi ini mendorong Anto mengambil langkah hukum. Ia berharap laporan tersebut bisa membantu menemukan keberadaan anak-anaknya sekaligus mengungkap kebenaran dugaan yang beredar.

Laporan Resmi Teregister di Polda Sulsel

Anto kemudian membuat laporan resmi di Polda Sulawesi Selatan. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/248/III/2026/SPKT/POLDA SULAWESI SELATAN pada tanggal 2 Maret 2026.

Kasus ini kini dalam penanganan aparat kepolisian. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan fakta di lapangan serta menelusuri kemungkinan adanya unsur tindak pidana perdagangan anak.

Redaksi Energi Juang News

IHSG Awali Perdagangan di Zona Hijau, Rupiah Tertahan di Rp16.900

IHSG Awali Perdagangan di Zona Hijau, Rupiah Tertahan di Rp16.900

Energi Juang News, Jakarta- Pergerakan pasar keuangan domestik pada awal perdagangan Kamis (26/3) menunjukkan sentimen yang cenderung positif. Investor mencermati dinamika indeks saham utama serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

IHSG Dibuka Menguat Tipis

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan di zona hijau pada Kamis (26/3). Berdasarkan data Stockbit pukul 09:00 WIB, IHSG berada di level 7.313,665 atau naik 0,16%.

Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 7.302,121. Pada awal sesi, volume transaksi mencapai 512,88 juta lembar saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp312,25 miliar. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 46,99 ribu kali.

Rupiah Bergerak Datar

Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak menunjukkan perubahan berarti pada pagi hari. Data dari Stockbit memperlihatkan rupiah bertahan di posisi Rp16.900 per dolar AS, sama seperti penutupan hari sebelumnya.

Bursa Asia Bergerak Variatif

Kinerja bursa saham di kawasan Asia pada pagi ini tercatat beragam. Informasi yang dihimpun dari Stockbit dan Yahoo Finance menunjukkan adanya perbedaan arah pergerakan indeks di sejumlah negara.

Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,20% ke level 53.855,13. Sementara itu, Hang Seng di Hong Kong turun 0,27% ke posisi 25.267,16.

Di China, SSE Composite mencatat penguatan signifikan sebesar 2,93% ke level 3.924,96. Adapun Straits Times di Singapura menguat 0,34% dan berada di level 4.920,97.

Redaksi Energi Juang News

Elvi Diana CFP Harap Masuknya Juda Agung dan Thomas Djiwandono Tingkatkan Kinerja OJK

Energi Juang News, Jakarta- Konsultan dan Perencana Keuangan, Elvi Diana CFP, menyampaikan harapannya agar masuknya Juda Agung dan Thomas Djiwandono dalam jajaran Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja lembaga tersebut.

Sebagaimana diketahui, Juda Agung adalah Wakil Menteri Keuangan, sementara Thomas Djiwandono merupakan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang sebelumnya juga memiliki latar belakang sebagai politisi Partai Gerindra. Keduanya kini dipercaya menjadi Anggota Dewan Komisioner OJK secara ex-officio.

Menurut Elvi, latar belakang dan pengalaman yang dimiliki oleh Juda Agung dan Thomas Djiwandono menjadi modal penting dalam memperkuat fungsi dan peran OJK ke depan.

“OJK membutuhkan figur yang memiliki pemahaman mendalam terhadap sistem keuangan, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Dengan pengalaman yang dimiliki oleh Juda Agung dan Thomas Djiwandono, saya berharap kinerja OJK dapat semakin optimal,” ujar Elvi dalam keterangannya, Kamis (26/3/2026).

Elvi mengingatkan bahwa OJK merupakan lembaga negara independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011, dengan mandat untuk mengatur, mengawasi, memeriksa, serta menyidik seluruh kegiatan di sektor jasa keuangan.

Oleh karena itu, ia menilai penting bagi seluruh anggota Dewan Komisioner, termasuk yang berasal dari unsur ex-officio, untuk tetap menjunjung tinggi profesionalisme dan integritas dalam menjalankan tugasnya.

“Meninjau latar belakangnya, saya berharap keduanya mampu untuk mendorong peningkatan kualitas pengawasan dan stabilitas sektor jasa keuangan. Ini tentu menjadi harapan bersama bagi pelaku industri maupun masyarakat,” tambahnya.
Elvi juga menekankan bahwa sinergi antara OJK, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia harus terus diperkuat guna menghadapi berbagai tantangan ekonomi, baik di tingkat nasional maupun global.

Dengan komposisi baru ini, Elvi berharap OJK mampu semakin adaptif, responsif, dan kredibel dalam menjalankan perannya sebagai pengawas sektor jasa keuangan di Indonesia.

Redaksi Energi Juang News

Viral Joget Bos SPPG Berujung Ultimatum BGN

Viral Joget Bos SPPG Berujung Ultimatum BGN

Energi Juang News, Jakarta- Seorang pemilik dapur layanan pemenuhan gizi di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Hendrik Irawan, menjadi sorotan publik setelah video dirinya menari di area dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) beredar luas di media sosial. Dalam konten tersebut, ia juga menyebut memperoleh insentif hingga Rp 6 juta per hari. Aksi itu menuai respons keras dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang menilai perilaku tersebut tidak pantas.

Ultimatum BGN untuk Pemilik SPPG

Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan pihaknya telah memberikan teguran langsung kepada Hendrik. Ia meminta pemilik dapur itu segera menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.

“Sudah kami tegur, dan sekaligus agar yang bersangkutan meminta maaf ke publik,” ujar Dadan, Rabu (25/3/2026).

Secara terpisah, Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang menyatakan Hendrik telah ditemui Direktur Pemantauan dan Pengawasan BGN dan menerima teguran keras. Ia menilai tindakan berjoget di dapur program pemerintah menunjukkan sikap berlebihan.

“Sudah ditegur keras. Yang jelas kami sangat menyayangkan dan kecewa dengan sikap mitra yang demikian,” kata Nanik.

Pelanggaran Standar Dapur dan Penangguhan Operasional

Selain persoalan etika, BGN menemukan sejumlah pelanggaran teknis di dapur SPPG milik Hendrik. Dari hasil pengecekan, tata letak dapur dinilai tidak sesuai ketentuan. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) juga tidak memenuhi standar.

“Kebetulan setelah dicek dapurnya ternyata layout-nya salah. Dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)-nya tidak benar, jadi kita suspend,” imbuh Nanik.

BGN pun memutuskan menangguhkan operasional dapur tersebut hingga seluruh temuan diperbaiki. Penangguhan akan dicabut setelah mitra mengajukan permohonan resmi disertai bukti perbaikan.

Program Pemerintah Bukan Ajang Konten

BGN menekankan bahwa layanan pemenuhan gizi bukanlah ruang untuk mencari keuntungan pribadi atau membuat konten sensasional. Program ini dirancang untuk mendukung peningkatan kualitas gizi dan kecerdasan anak.

“Ini bukan bisnis ya. Ini adalah program pemerintah untuk mencerdaskan anak-anak. Bukan kemudian dilakukan seperti itu,” ujar Nanik.

Ia juga menyoroti tindakan Hendrik yang membuat konten tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) di dapur. Menurutnya, seluruh mitra harus menjaga profesionalitas dan tidak melakukan aksi yang berpotensi merusak citra program.

“Saya juga enggak suka, dia bikin konten lagi di dalam dapur yang tidak pakai APD, itu kan juga salah. Untuk pembelajaran yang lain, enggak usah mitra aneh-aneh,” sambungnya.

Kepemilikan Beberapa Dapur SPPG Jadi Sorotan

BGN mengungkap Hendrik tercatat memiliki tujuh dapur SPPG. Namun, baru satu dapur yang beroperasi dan kini bermasalah. Enam dapur lainnya masih dalam tahap pengawasan sebelum diizinkan berjalan.

“Saya dengar dia punya 7 dapur. Tapi, yang running baru satu yang sudah mulai. Yang lainnya belum running. Nanti yang lainnya enam kita awasi,” ujar Nanik.

Persoalan Moral Personal dan Kepatutan Sosial

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (PPG) Regional Bandung, Ramzi, menyebut aksi berjoget di dapur MBG dengan klaim pendapatan tinggi menyinggung rasa kepatutan di tengah kondisi ekonomi masyarakat.

“Terkait aksi yang bersangkutan, ini sebenarnya lebih ke persoalan personal yang bersangkutan, soal moral personal,” ujar Ramzi saat dikonfirmasi, Rabu (25/3/2026).

Ia menambahkan bahwa pelaporan yang dilakukan Hendrik terhadap warganet bukan kewenangan BGN. Lembaga hanya fokus pada aspek etika dan standar operasional dapur.

“Jadi joget-joget itu hanya asas moral, dari situ BGN ingin memastikan bagaimana kondisi di dapur dan benar saja ada temuan terkait IPAL yang tidak memadai,” kata dia.

Penangguhan operasional dapur akan berlangsung hingga seluruh pelanggaran lingkungan dituntaskan. Setelah itu, mitra dapat mengajukan pencabutan suspend dengan melampirkan bukti tindak lanjut perbaikan.

Redaksi Energi Juang News

Misteri Hantu Uhang Pandak di Hutan Kerinci

uhang pandak_Ilustrasi
uhang pandak_Ilustrasi

Energi Juang News, – Kabut turun perlahan di kaki Gunung Raya ketika senja mulai merayap di ufuk barat. Hutan lebat di wilayah Lempur, Kabupaten Kerinci, tampak seperti lautan hijau yang tak bertepi. Pepohonan besar berdiri rapat, menjulang tinggi seperti pagar raksasa yang menjaga rahasia lama dari dunia luar.

Di kejauhan, suara burung malam terdengar sesekali memecah kesunyian. Angin yang berembus pelan menggesek dedaunan, menimbulkan suara lirih seperti bisikan samar dari balik semak-semak.

Di depan sebuah rumah kayu tua di Desa Lempur, seorang pria berdiri sambil menatap hutan yang mulai gelap. Namanya Dito, 29 tahun, seorang pemerhati kisah-kisah mistis yang sejak lama tertarik pada cerita-cerita aneh dari berbagai daerah.

Sejak remaja, ketika masih bersekolah di Sungai Penuh, ia sudah sering mendengar kisah tentang makhluk misterius yang konon hidup di hutan Kerinci. Malam itu ia datang untuk menemui seorang tokoh budaya setempat yang dipercaya mengetahui banyak cerita lama.

Namanya Iskandar Zakaria.

Pintu rumah kayu itu berderit perlahan saat dibuka.

“Silakan masuk,” ujar Iskandar dengan suara tenang.

Di dalam rumah yang hanya diterangi lampu kuning redup, bayangan mereka tampak bergoyang di dinding papan. Aroma kopi hitam yang baru diseduh memenuhi ruangan.

Dito membuka percakapan dengan hati-hati.

“Pak Iskandar… saya ingin mendengar cerita lama yang sering dibicarakan orang dulu. Tentang makhluk yang konon hidup di hutan Kerinci.”

Iskandar tersenyum tipis. Ia lalu menoleh ke arah jendela yang menghadap langsung ke gelapnya hutan.

“Kamu datang karena cerita itu, ya?” katanya pelan.

Dito mengangguk.

Beberapa detik mereka terdiam sebelum lelaki tua itu kembali berbicara.

“Orang-orang di sini menyebutnya Uhang Pandak.”

Dito sedikit mendekat, rasa penasarannya semakin besar.

“Seperti apa wujudnya, Pak?”

Iskandar menarik napas panjang, seolah sedang membuka kembali ingatan lama yang sudah lama tersimpan.

“Matanya merah… menyala di tengah gelap,” ujarnya perlahan.

Ia kemudian melanjutkan dengan nada lebih serius.

“Tubuhnya pendek, tapi terlihat kuat. Seluruh badannya ditutupi bulu berwarna kuning kecokelatan. Kalau dia sudah masuk ke semak-semak, biasanya langsung hilang begitu saja.”

Dito merasakan bulu kuduknya meremang.

Cerita itu terdengar seperti legenda, namun cara Iskandar menceritakannya membuat semuanya terasa begitu nyata.

“Orang di desa pernah melihatnya?” tanya Dito.

Iskandar mengangguk pelan.

“Beberapa orang mengaku pernah melihat bayangannya bergerak di hutan. Tapi jarang sekali yang benar-benar bisa melihatnya dengan jelas.”

Ia meneguk kopi sebelum melanjutkan.

“Makhluk itu sering muncul di bukit-bukit yang dipenuhi tanaman perdu liar.”

“Tanaman apa?” tanya Dito.

“Paitan,” jawab Iskandar.

Menurut cerita warga, makhluk itu sering terlihat memakan bunga dari tanaman tersebut. Bunganya mirip bunga matahari kecil, tumbuh liar di lereng-lereng bukit.

Bagi petani setempat, tanaman paitan sebenarnya cukup biasa. Banyak yang memanfaatkannya sebagai penutup tanah karena kandungan nitrogennya yang tinggi.

Namun kehadiran makhluk misterius di sekitarnya membuat tanaman itu sering dikaitkan dengan cerita-cerita aneh.

Malam semakin larut ketika Dito meninggalkan rumah Iskandar. Jalan desa tampak sepi dan hanya diterangi lampu-lampu kecil di depan rumah penduduk.

Di ujung jalan, seorang warga bernama Rahman menemaninya berjalan menuju penginapan.

“Bang Rahman,” kata Dito sambil menyalakan senter kecil. “Apakah warga di sini masih sering membicarakan makhluk itu?”

Rahman tersenyum samar.

“Masih,” jawabnya.

Ia menunjuk ke arah hutan yang mulai tertutup kabut malam.

“Kadang ada orang yang melihat sesuatu bergerak cepat di semak-semak. Tapi begitu didekati… sudah tidak ada apa-apa.”

Dito terdiam sejenak.

“Menurut Abang, itu benar-benar makhluk atau hanya cerita orang tua dulu?”

Rahman tidak langsung menjawab. Ia justru berhenti berjalan dan menatap ke arah pepohonan yang gelap.

Angin malam berhembus lebih dingin.

“Di hutan seperti ini,” katanya perlahan, “banyak hal yang belum kita mengerti.”

Mereka kembali berjalan.

Suara ranting patah tiba-tiba terdengar dari arah semak-semak di sisi jalan.

Krek…

Rahman langsung berhenti.

“Dengar itu?” bisiknya.

Dito menyorotkan senter ke arah suara tadi. Cahaya lampu menembus dedaunan, namun tidak terlihat apa pun selain bayangan pohon.

Semak-semak itu masih bergoyang pelan.

Beberapa detik kemudian semuanya kembali sunyi.

Rahman menarik napas panjang.

“Mungkin hanya musang,” katanya, meski suaranya terdengar tidak terlalu yakin.

Setelah beberapa saat berjalan, mereka akhirnya tiba di persimpangan jalan desa.

Sebelum berpisah, Rahman menatap Dito dengan ekspresi serius.

“Kalau suatu hari kamu melihat sesuatu bergerak di semak-semak… jangan langsung mendekat.”

Dito mengernyit.

“Kenapa?”

Rahman tersenyum tipis.

“Karena mungkin saja… dia yang sedang memperhatikanmu.”

Dito terdiam.

Di belakang mereka, hutan Gunung Raya berdiri gelap dan sunyi, seolah menyimpan sesuatu yang belum pernah sepenuhnya terungkap.

Apakah makhluk itu benar-benar sekadar cerita lama yang diwariskan dari generasi ke generasi?

Ataukah ia adalah spesies misterius yang belum pernah tercatat dalam dunia ilmu pengetahuan?

Hingga hari ini, tidak ada jawaban pasti.

Namun bagi warga desa di sekitar Gunung Raya, sosok kecil berbulu kuning kecokelatan dengan mata merah itu bukan sekadar legenda.

Di balik gelapnya hutan Kerinci, misteri itu seolah masih hidup… dan mungkin masih mengawasi setiap langkah manusia yang berani memasuki wilayahnya.

Redaksi Energi Juang News

Tiket Pesawat Terancam Naik? Maskapai Desak Tarif Batas Atas Ditambah 15%

Tiket Pesawat Terancam Naik? Maskapai Desak Tarif Batas Atas Ditambah 15%

Energi Juang News, Jakarta- Harga bahan bakar penerbangan yang terus melonjak mendorong asosiasi maskapai nasional mengusulkan penyesuaian tarif tiket pesawat. Kenaikan biaya operasional dinilai semakin menekan kondisi keuangan maskapai sehingga diperlukan langkah strategis untuk menjaga layanan penerbangan tetap berjalan.

Usulan Revisi Aturan Tarif Tiket

INDONESIA National Air Carriers Association (INACA) mengusulkan kenaikan tarif batas atas tiket sebesar 15 persen untuk pesawat jet maupun propeller. Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengatakan usulan tersebut diajukan untuk mengantisipasi penyesuaian harga avtur oleh Pertamina mulai 1 April 2026.

“Serta untuk tetap menjamin keberlangsungan usaha (business sustainability), keterjaminan keselamatan (safety insurance), ketersediaan konektivitas angkutan udara nasional dengan mempertahankan tingkat keselamatan yang tinggi,” katanya dalam keterangan tertulis pada Rabu, 25 Maret 2026.

Menurut Bayu, penyesuaian ini perlu dilakukan dengan merevisi tarif batas atas yang saat ini masih mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 106 Tahun 2019. Saat aturan itu diterbitkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 14.136 per dolar. Kini kurs sudah menembus Rp 17 ribu atau meningkat sekitar 20 persen.

Geopolitik Global Picu Lonjakan Biaya

Tekanan terhadap industri penerbangan juga dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026. Penutupan jalur perdagangan minyak mentah di kawasan Timur Tengah membuat pasokan terganggu dan harga energi melonjak.

Bayu menyebut sekitar 70 persen biaya operasional maskapai menggunakan dolar Amerika Serikat, sementara pendapatan diperoleh dalam rupiah. “Sehingga dengan naiknya nilai tukar dolar Amerika Serikat akan semakin membebani keuangan maskapai penerbangan nasional,” ucapnya.

Harga minyak global pada Maret 2026 tercatat naik dari sekitar US$ 70 per galon menjadi US$ 110 per galon atau meningkat 57 persen. Kondisi ini berdampak langsung pada harga avtur di Indonesia. Jika pada 2019 harga avtur berada di level Rp 10.442, kini sudah mencapai Rp 14.000-15.500 per liter atau melonjak 34-48 persen.

“Harga avtur ini diprediksi akan naik lagi mengikuti kenaikan harga minyak akibat krisis geopolitik global tersebut,” ujarnya.

Rantai Pasok Terganggu, Perawatan Pesawat Melambat

Selain bahan bakar, maskapai juga menghadapi kendala dalam pengadaan suku cadang pesawat. Gangguan rantai pasok membuat pengiriman komponen yang sebelumnya memakan waktu 2-3 hari kini bisa mencapai 7-10 hari. Biaya logistik pun ikut meningkat.

Kondisi ini berdampak pada proses perawatan pesawat yang sedang menunggu komponen (AOG part). Maskapai harus memastikan standar keselamatan tetap terjaga sekaligus menyesuaikan rute penerbangan yang lebih panjang untuk alasan keamanan.

Minta Tambahan Fuel Surcharge dan Stimulus Pemerintah

INACA juga mengusulkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge sebesar 15 persen dari tarif yang saat ini berlaku berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 7 Tahun 2023 tanggal 10 Januari 2023.

Selain itu, asosiasi maskapai meminta dukungan stimulus sementara dari pemerintah, terutama menjelang Lebaran 2026. Bentuk stimulus yang diharapkan antara lain penundaan PPN avtur dan tiket domestik, keringanan biaya bandara atau PJP4U, serta penjadwalan ulang pembayaran kewajiban biaya bandara dan navigasi.

“Serta kebijakan rescheduling pembayaran outstanding biaya bandara dan navigasi tetap dipertahankan,” tutur Bayu.

Redaksi Energi Juang News

Oligopoli Udara: Terbang ke Luar Negeri Lebih Murah dari Pulang Kampung

Oligopoli Udara: Terbang ke Luar Negeri Lebih Murah dari Pulang Kampung

Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Pariwisata domestik Indonesia sedang berada di titik nadir yang ironis. Di saat pemerintah gencar mengampanyekan jargon “Bangga Berwisata di Indonesia”, realitas ekonomi justru memaksa paspor masyarakat lebih cepat penuh oleh stempel imigrasi negara tetangga. Fenomena tiket pesawat domestik yang melambung hingga dua kali lipat dari harga normal di bulan ini bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan manifestasi dari kegagalan struktural yang dipelihara.

Anatomi Ketidakadilan Harga: Domestik vs Internasional
Secara matematis, sangat sulit bagi akal sehat akademis untuk menerima bahwa penerbangan melintasi batas negara (Jakarta-Singapura) bisa lebih murah dibandingkan penerbangan dalam satu kedaulatan (Jakarta-Labuan Bajo atau Natuna). Namun, data menunjukkan bahwa beban biaya pada rute domestik memang “didesain” untuk menjadi mahal melalui tiga instrumen utama:

Kanibalisme Pajak (PPN Berlapis):
Berbeda dengan rute internasional yang dibebaskan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sesuai standar global, rute domestik justru dicekik PPN 11% yang dikenakan dua kali: pada harga tiket dan pada harga bahan bakar (avtur). Ini adalah bentuk disinsentif bagi pergerakan ekonomi dalam negeri.

Anomali Harga Avtur:
Logika logistik kita sering kali terbalik. Di Singapura, harga avtur berkisar di angka Rp13.000/liter, sementara di Indonesia bisa menyentuh Rp15.000/liter, bahkan melonjak drastis di wilayah Timur. Sebagai komponen biaya operasional terbesar (mencapai 40%), disparitas harga bahan bakar ini otomatis membakar daya beli masyarakat.

Struktur Pasar Oligopolistik:
Langit Indonesia saat ini praktis dikuasai oleh dua raksasa: Garuda Group dan Lion Group. Tanpa kompetisi yang sehat, tidak ada urgensi bagi maskapai untuk melakukan efisiensi harga. Konsumen hanya dihadapkan pada pilihan “mahal” atau “sangat mahal”.

Efek Domino: Eksodus Turis ke Asia Tenggara
Tingginya harga tiket menciptakan distorsi pasar yang nyata. Ketika masyarakat membandingkan total biaya liburan, Thailand atau Malaysia menawarkan paket “lebih mewah dengan harga setara” ongkos transportasi ke destinasi lokal.

Destinasi Domestik: Tiket mahal + Akomodasi tinggi = Wisatawan enggan berkunjung.

Destinasi Luar Negeri: Tiket murah (akibat subsidi pemerintah asing) + Pilihan maskapai beragam = Arus modal keluar (capital outflow).

Kebijakan subsidi yang diberikan negara tetangga kepada maskapai mereka adalah strategi ofensif untuk menarik devisa. Sebaliknya, di Indonesia, beban biaya tambahan dan pungutan bandara seolah-olah menjadi “hukuman” bagi mereka yang ingin menjelajahi negeri sendiri.

Pemerintah Pura-Pura Lupa atau Memang Tak Berdaya?
Pertanyaan besar muncul: Apakah pemerintah tidak tahu? Rasanya mustahil. Data ini bersifat publik dan dampaknya dirasakan langsung oleh sektor UMKM di daerah wisata. Namun, hingga saat ini, respon yang muncul cenderung administratif dan normatif seperti penyesuaian Tarif Batas Atas (TBA) yang faktanya tetap saja tinggi.

Opsi untuk “membuka keran” bagi maskapai asing masuk ke rute domestik (cabotage) sering kali terbentur pada alasan kedaulatan udara dan proteksi industri nasional. Namun, jika proteksi tersebut hanya memelihara inefisiensi dan menyengsarakan konsumen, maka kedaulatan tersebut perlu dipertanyakan urgensinya.

Selama struktur pasar masih bersifat oligopoli dan beban pajak domestik tidak disetarakan dengan standar internasional, maka “Liburan di Dalam Negeri” hanya akan menjadi slogan romantis yang tidak realistis bagi dompet kelas menengah. Pemerintah perlu berhenti bersembunyi di balik regulasi TBA dan mulai membedah inefisiensi biaya operasional serta monopoli pasokan avtur jika tidak ingin melihat pariwisata domestik mati perlahan di tanahnya sendiri.

Redaksi Energi Juang News

Pagi Setelah Libur, Tol Arah Jakarta Kembali Dikepung Macet

Pagi Setelah Libur, Tol Arah Jakarta Kembali Dikepung Macet

Energi Juang News, Jakarta— Aktivitas kendaraan meningkat di sejumlah jalan tol menuju ibu kota pada pagi hari. Arus kendaraan yang kembali ramai ini terjadi setelah rutinitas kerja mulai berjalan seperti biasa.

Kepadatan Terjadi di Tol Jakarta–Cikampek

Kemacetan tampak di beberapa titik strategis, terutama di ruas Tol Jakarta–Cikampek (Japek). Informasi kondisi lalu lintas disampaikan langsung oleh pengelola jalan tol.

“Tol Japek Halim – Cawang padat, kepadatan volume lalin,” kata Jasa Marga melalui akun X resminya, Kamis (26/3/2026).

Lonjakan kendaraan membuat laju kendaraan melambat, khususnya di jalur menuju pusat kota.

Tol Jakarta–Tangerang Ikut Tersendat

Kondisi serupa juga terlihat di Tol Jakarta–Tangerang (Janger). Kepadatan terpantau di ruas Kembangan menuju Kebon Jeruk. Sementara arus kendaraan dari Tomang ke arah Bitung masih relatif lancar.

“Kembangan – Kebon Jeruk padat, kepadatan volume lalin,” ujarnya.

Petugas kepolisian bersama pengelola tol melakukan rekayasa lalu lintas untuk mengurai antrean kendaraan.

Contraflow Diberlakukan di Sekitar Tomang

Rekayasa lalu lintas berupa contraflow diterapkan setelah Underpass Tomang menuju Kebon Jeruk di KM 03+400. Skema ini membuka tambahan jalur dari arah Kebon Jeruk di lajur kanan atau lajur tiga.

Langkah tersebut diambil untuk menjaga kelancaran arus kendaraan yang meningkat pada jam sibuk pagi hari.

Tol Dalam Kota Mulai Ramai Kendaraan

Kepadatan juga muncul di Tol Dalam Kota. Volume kendaraan yang tinggi membuat arus lalu lintas di ruas Cawang menuju Tebet melambat.

“Tol Dalam Kota Cawang – Tebet padat, kepadatan volume lalin.; Cengkareng – Pluit – Tomang – Cawang lancar,” katanya.

Meski begitu, beberapa ruas lain masih terpantau lancar sehingga pengendara tetap memiliki alternatif jalur perjalanan menuju pusat Jakarta.

Redaksi Energi Juang News

Franz Schubert: Jenius Lembut yang Menjembatani Musik Klasik dan Romantis

franz schubert
franz schubert

Energi Juang News,Jakarta- Sejarah musik klasik Eropa dipenuhi oleh tokoh-tokoh besar yang membentuk arah perkembangan seni suara selama berabad-abad. Di tengah perubahan selera musikal pada awal abad ke-19, lahirlah seorang komposer muda dari wilayah Austria yang karya-karyanya penuh keindahan melodi dan kedalaman emosi. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana, tetapi memiliki bakat musikal yang luar biasa. Musik yang ia tulis kemudian menjadi jembatan antara dua era besar dalam sejarah musik Barat, sekaligus memberi warna baru pada komposisi vokal dan musik kamar di Eropa.

Karya-karya tersebut kelak memengaruhi perkembangan estetika musik romantik, terutama dalam cara melodi menyampaikan emosi manusia secara intim dan puitis.

Tokoh yang dimaksud adalah Franz Schubert, seorang komposer Austria yang lahir pada 31 Januari 1797 di Himmelpfortgrund, dekat Wina. Ia merupakan anak keempat dari keluarga yang cukup besar. Ayahnya, Franz Theodor Schubert, adalah seorang guru sekolah, sedangkan ibunya, Elisabeth Vietz, bekerja dalam pelayanan rumah tangga sebelum menikah.

Keluarga Schubert memiliki tradisi musikal yang kuat. Di rumah mereka sering dimainkan musik kamar berupa kuartet gesek. Franz kecil biasanya memainkan viola, sementara anggota keluarga lain memainkan instrumen berbeda. Dari sinilah fondasi musikalnya mulai terbentuk.

Ia menerima pelajaran musik dasar dari ayahnya serta dari kakaknya, Ignaz. Kemudian ia melanjutkan belajar teori musik dan organ dengan organis gereja setempat. Bakatnya berkembang dengan cepat hingga akhirnya pada tahun 1808 ia memperoleh beasiswa untuk bergabung dengan paduan suara kapel istana kekaisaran di Wina.

Selama belajar di sekolah asrama bergengsi Stadtkonvikt di Wina, Schubert mendapatkan bimbingan dari dua tokoh penting: organis istana Wenzel Ruzicka dan komposer terkenal Antonio Salieri.

Di sekolah tersebut, Schubert tidak hanya bernyanyi dalam paduan suara, tetapi juga memainkan biola dalam orkestra pelajar. Ia bahkan sempat memimpin orkestra tersebut ketika gurunya tidak hadir. Aktivitas musik kamar dan permainan piano bersama teman-temannya semakin memperkaya pengalaman musikalnya.

Meski dikenal berbakat, Schubert memiliki sifat pemalu. Ia jarang menunjukkan karya-karya awalnya kepada orang lain. Dorongan dari teman-temannya akhirnya membuat komposisinya mulai dikenal oleh para musisi di Wina.

Salah satu kontribusi terbesar Schubert dalam dunia musik adalah pengembangan bentuk lagu seni Jerman yang dikenal sebagai lied. Karya-karya ini menggabungkan puisi dengan musik yang sangat ekspresif.

Pada tahun 1814, Schubert menciptakan salah satu karya penting yang mengubah sejarah musik vokal: Gretchen am Spinnrade, yang menggunakan puisi dari drama Faust karya Johann Wolfgang von Goethe.

Dalam komposisi ini, iringan piano meniru suara roda pemintal yang terus berputar, menciptakan gambaran musikal yang dramatis. Teknik seperti ini menunjukkan kemampuan Schubert menggambarkan suasana dan emosi melalui musik.

Tahun berikutnya, 1815, menjadi periode yang luar biasa produktif. Ia menulis lebih dari 140 lagu hanya dalam satu tahun. Melodi menjadi pusat dari proses kreatifnya—kata-kata puisi memunculkan melodi, lalu harmoni dan modulasi mengikuti alur tersebut.

Meskipun kehidupan Schubert tidak penuh kemewahan, ia memiliki jaringan pertemanan yang sangat mendukung kariernya. Salah satu sahabat pentingnya adalah Franz von Schober, yang mendorongnya meninggalkan pekerjaan sebagai guru sekolah dan lebih fokus pada musik.

Pertemuan Schubert dengan penyanyi bariton terkenal Johann Michael Vogl juga menjadi titik penting. Vogl sering menyanyikan lagu-lagu Schubert di salon-salon musik Wina, sehingga karya-karya tersebut mulai dikenal luas.

Pertemuan musik yang disebut Schubertiaden kemudian menjadi fenomena budaya di Wina. Dalam acara ini, para musisi, penyair, dan intelektual berkumpul untuk memainkan dan mendengarkan karya-karya Schubert.

Selain lagu, Schubert juga menghasilkan karya instrumental besar yang kini menjadi bagian penting dari repertoar musik klasik.

Beberapa karya pentingnya antara lain:

  • Symphony No. 9 in C Major (The Great)
  • Symphony No. 8 in B Minor (Unfinished)
  • Trout Quintet
  • Die schöne Müllerin

Simfoni Unfinished sangat terkenal karena hanya memiliki dua gerakan utama yang selesai, namun tetap dianggap sebagai salah satu karya simfoni paling emosional dalam sejarah musik.

Sementara itu, siklus lagu Die schöne Müllerin dianggap sebagai puncak seni lirik Schubert, menggambarkan perjalanan emosional seorang pemuda dengan kedalaman psikologis yang luar biasa.

Di balik produktivitasnya, kehidupan Schubert tidak selalu mudah. Ia sering mengalami kesulitan finansial dan tidak selalu mendapatkan pengakuan dari institusi musik besar, terutama di dunia opera.

Pada tahun 1822 ia mulai menulis karya besar lainnya, Symphony No. 8 in B Minor (Unfinished), namun komposisi tersebut tidak pernah selesai.

Situasi kesehatannya juga memburuk setelah ia terkena penyakit serius yang kemungkinan besar adalah sifilis. Tahun-tahun berikutnya diisi dengan periode sakit, depresi, dan rasa gagal, meskipun ia tetap menulis musik hampir tanpa henti.

Dalam sebuah surat kepada temannya, pelukis Leopold Kupelwieser, ia bahkan menyebut dirinya sebagai “orang paling malang di dunia.”

Meskipun hidupnya singkat, produktivitas Schubert luar biasa. Ia menulis ratusan lagu, puluhan karya kamar, simfoni, opera, dan komposisi piano.

Pada tahun 1828, hanya setahun setelah wafatnya Ludwig van Beethoven yang sangat ia kagumi, Schubert meninggal dunia di Wina pada usia 31 tahun.

Ironisnya, banyak karya besarnya baru mendapatkan pengakuan luas setelah kematiannya. Kini, ia dianggap sebagai salah satu komposer paling penting dalam sejarah musik Barat.

Redaksi Energi Juang News