Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaInternasionalAS Lancarkan Perang Dagang, Para Sekutu Balas Dendam

AS Lancarkan Perang Dagang, Para Sekutu Balas Dendam

Energi Juang News, Jakarta – Pada 11 Februari 2025, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menaikkan tarif impor baja dan aluminium menjadi 25%, tanpa pengecualian negara. Langkah ini bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri yang tengah terpuruk, namun berpotensi memicu perang dagang di berbagai lini.

Kebijakan Tarif Trump dan Dampaknya

Kebijakan ini berdampak pada jutaan ton baja dan aluminium yang diimpor dari negara-negara seperti Kanada, Brasil, Meksiko, Korea Selatan, dan lainnya yang sebelumnya mendapatkan pengecualian tarif. Trump menegaskan bahwa langkah ini bertujuan menyederhanakan aturan perdagangan agar lebih transparan. “Tarifnya 25%, tanpa pengecualian. Semua negara akan dikenai tarif yang sama, tak peduli asalnya,” ujarnya.

Reaksi Internasional terhadap Kebijakan Tarif AS

Kebijakan tarif ini memicu reaksi keras dari berbagai negara dan organisasi internasional. Uni Eropa (UE) dengan cepat meluncurkan tarif balasan yang memukul sekitar US$28 miliar barang AS secara bertahap, yang akan berlaku mulai April. Kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa pembalasan ini memengaruhi berbagai produk, mulai dari bourbon hingga sepeda motor.

Kanada, sebagai salah satu pemasok utama baja dan aluminium ke AS, mengumumkan pungutan tambahan atas US$20,7 miliar produk Amerika. Negara ini sangat terekspos dengan pungutan Trump, yang diyakini memukul barang mulai dari komputer hingga peralatan olahraga.

Perdana Menteri terpilih Kanada, Mark Carney, mengaku siap untuk bernegosiasi dengan Trump dan berharap ada perjanjian perdagangan yang diperbarui. Di sisi lain, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengecam tarif Trump, menyebutnya “sama sekali tidak dapat dibenarkan” dan “bertentangan dengan semangat persahabatan abadi kedua negara kita.

Kanselir Jerman Olaf Scholz juga mengecam langkah Washington, menyebutnya “salah” dan memperingatkan akan meningkatnya inflasi. Selain Kanada, Brasil dan Meksiko juga merupakan pemasok utama baja AS, sementara Uni Emirat Arab (UEA) dan Korea Selatan (Korsel) termasuk di antara penyedia aluminium. Namun, belum ada pernyataan dari keduanya soal pembalasan kebijakan Trump.

Baca juga :  Kematian Ayatollah Ali Khamenei Dikonfirmasi Media Iran

Respons China terhadap Kebijakan Tarif AS

China, sebagai produsen baja terkemuka di dunia meskipun bukan pengekspor utama produk tersebut ke AS, melalui Kementerian Luar Negeri Beijing mengatakan “tidak ada pemenang dalam perang dagang.” Juru bicara Mao Ning menambahkan bahwa tindakan AS tersebut secara serius melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan tidak kondusif untuk menyelesaikan masalah. “China juga akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah,” imbuhnya.

Pernyataan Trump terhadap Tindakan Balasan

Sementara itu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Washington “tentu saja” akan menanggapi tindakan balasan tersebut. Khusus ke UE, ia mengklaim negaranya akan “memenangkan pertempuran finansial itu” dengan UE. Tarif baja dan aluminium Trump kemungkinan akan menggelembungkan biaya produksi barang mulai dari peralatan rumah tangga hingga mobil dan kaleng yang digunakan untuk minuman, yang mengancam akan menaikkan harga konsumen di kemudian hari.

Dampak Kebijakan Tarif terhadap Harga Logam di AS

Dengan diberlakukannya tarif AS pada impor aluminium dan baja, harga logam-logam ini di Amerika Serikat mendekati puncak terbaru. Pengenaan tarif 25% oleh pemerintahan Trump telah memicu pembalasan dari Kanada dan Eropa. Tindakan ini menyebabkan kenaikan signifikan dalam harga logam di AS, dengan premi aluminium mencapai rekor tertinggi dan harga gulungan baja panas melonjak. Namun, tarif tersebut juga menyebabkan peningkatan ketegangan sementara dengan Kanada, yang mengakibatkan ancaman tarif yang lebih tinggi dan bea balasan pada ekspor listrik, yang kemudian ditarik kembali. Dampak yang lebih luas termasuk penurunan harga aluminium di Eropa karena logam yang sebelumnya ditujukan untuk AS dialihkan ke pasar lain.

Kebijakan Tarif AS dan Potensi Perang Dagang Global

Baca juga :  Inggris Serahkan Kedaulatan Chagos Ke Mauritius

Langkah Trump untuk menaikkan tarif impor baja dan aluminium menjadi 25% tanpa pengecualian negara memicu reaksi keras dari berbagai negara dan organisasi internasional. Uni Eropa dan Kanada telah meluncurkan tarif balasan yang signifikan, sementara negara-negara lain mengecam kebijakan tersebut. Respons global ini menunjukkan potensi eskalasi perang dagang yang dapat berdampak luas pada perekonomian dunia. Pemerintah dan pelaku industri di berbagai negara perlu memantau perkembangan ini dengan cermat dan menyiapkan strategi untuk menghadapinya.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments