Energi Juang News, Jakarta— Pemerintah Inggris mengambil langkah tegas dengan melarang peredaran mobil listrik asal China di sekitar fasilitas militer dan lokasi sensitif lainnya. Keputusan ini diambil karena kekhawatiran bahwa kendaraan tersebut dapat digunakan untuk kegiatan mata-mata oleh pemerintah China.
Menteri Keamanan Inggris, Tom Tugendhat, menyatakan bahwa mobil listrik buatan China, seperti BYD dan Nio, memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data melalui sensor dan kamera yang terpasang di dalamnya. Data tersebut berpotensi dikirim kembali ke Beijing, yang dapat membahayakan keamanan nasional Inggris.
“Kami tidak dapat mengabaikan risiko yang ditimbulkan oleh teknologi asing yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi sensitif,” ujar Tugendhat.
Larangan ini merupakan bagian dari upaya Inggris untuk melindungi infrastruktur kritis dan memastikan bahwa teknologi yang digunakan di dalam negeri tidak membahayakan keamanan nasional. Selain itu, langkah ini juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di antara negara-negara Barat mengenai potensi ancaman dari teknologi buatan China.
Langkah serupa juga telah diambil oleh Amerika Serikat, yang telah melarang penggunaan teknologi mobil otonom buatan China dan Rusia karena alasan keamanan.
Pemerintah Inggris berharap bahwa dengan membatasi peredaran mobil listrik China di sekitar fasilitas militer, mereka dapat mencegah potensi ancaman terhadap keamanan nasional dan melindungi informasi sensitif dari kemungkinan penyalahgunaan.
Keputusan ini juga menunjukkan komitmen Inggris untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap penggunaan teknologi asing untuk tujuan yang tidak diinginkan.
Redaksi Energi Juang News



