Jumat, Mei 1, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaLiterasi dan Masa Depan Indonesia Emas: Antara Optimisme dan Realita

Literasi dan Masa Depan Indonesia Emas: Antara Optimisme dan Realita

Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta– Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April seharusnya menjadi momentum refleksi nasional terhadap kondisi literasi Indonesia.

Meskipun data terbaru menunjukkan peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional mencapai 73,52 pada tahun 2024, melampaui target 71,4 dan hasil tahun sebelumnya yang berada di angka 69,42, tantangan mendasar masih membayangi, terutama dalam konteks pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Rendahnya minat baca di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi perhatian serius. Faktor-faktor seperti kurangnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas di daerah, minimnya budaya literasi dalam keluarga, dan dominasi konten digital dangkal memperburuk keadaan. Bahkan UNESCO mencatat Indonesia sebagai salah satu negara dengan minat baca terendah di dunia — hanya 1 dari 1.000 orang yang benar-benar gemar membaca.

Sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah menulis, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa membaca dan menulis bukan hanya aktivitas intelektual, tapi bentuk keberadaan sosial dan kontribusi sejarah.

Sementara itu, Buya Hamka mengingatkan, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” — menyiratkan bahwa literasi membedakan manusia sebagai makhluk berakal.

Sayangnya, pendidikan formal kita belum sepenuhnya menjadikan literasi sebagai roh dalam pembelajaran. Pemerintah memang telah membuat kebijakan seperti Gerakan Literasi Nasional, namun implementasinya di lapangan masih timpang. Dalam hal ini, pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, hingga keluarga memiliki tanggung jawab kolektif untuk membangun ekosistem membaca yang merata.

Generasi muda harus disadarkan bahwa kemampuan literasi akan memengaruhi cara mereka menyerap informasi di era banjir digital. Tanpa kecakapan ini, mereka akan mudah terpapar hoaks dan polarisasi sosial.

Baca juga :  Gebrakan Baidu: Representasi Perlawanan China Terhadap Amerika Serikat

Menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang ekonomi dan infrastruktur, tapi tentang membangun karakter bangsa yang berpikir kritis, terbuka, dan literat — sebuah bangsa pembaca yang tidak hanya pintar, tetapi bijaksana.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments