Energi Juang News, Jakarta– Senja merayap pelan di kaki perbukitan Ponorogo, menyisakan bayangan panjang yang memanjang ke lembah. Desir angin bersahutan di antara pepohonan pinus, membawa bisikan samar dari kegelapan. Suasana terasa sunyi dan dingin, seolah alam sedang bersiap menyambut entitas yang tak terlihat. Warga desa setempat menutup pintu lebih awal, saling memberi aba‑aba agar tidak bepergian saat matahari tenggelam.
Malam pekat datang semakin cepat ketika pasangan muda, Rani dan Arif, memutuskan melewati jalan setapak di Gunung Pegat demi mencapai desa leluhur Arif. Mereka berdua enggan mendengar peringatan tetua desa, yang selalu mengulang kisah tragis pasangan yang melewati bukit itu. “Jangan lewat situ, nanti talak,” ujar Bu Siti, ibu janda di warung dekat kaki bukit, menatap mata Arif dengan sorot penuh peringatan. Suara kalimat itu bergema di telinga Rani dan Arif sepanjang perjalanan.
Lampu senter yang mereka bawa hanya cukup menerangi jalur sempit, padahal medan semakin curam. Tiba‑tiba terdengar ketukan ringan di batang pohon pinus di samping jalan.
Arif mendesah, “Siapa di sana?” Ia menyorotkan cahaya, tapi hanya bayangan batang dan ranting yang tampak bergoyang. Rani merapatkan jaket, merasakan dingin tak wajar merasuk di antara tulang rusuknya. Suara batuk pelan terdengar di belakang mereka, membuat jantung mereka berdetak lebih cepat.
Saat mereka berhenti untuk beristirahat sejenak, suara langkah halus terdengar makin dekat. “Rani, ayo kita jalan lagi,” bisik Arif tergesa. Rani memegang erat tangan Arif, merasakan jabatannya melemah. Dari balik kabut tipis muncul sosok perempuan berpakaian pengantin putih, wajahnya pucat dan mata meredup. “Tuloong…ewangono aku” (Tolong… bantu aku…) suara itu melipur tapi menusuk kalbu. Rani kaget dan tersentak mundur: “Kowe sopo? Nyapo neng kene?” (Kau siapa? Kenapa di sini?).
Sosok itu berjalan mendekat tanpa suara sepatu, hanya gaunnya yang berkibar pelan. Arif gemetar, tak mampu berkata. Sang pengantin berkata dengan suara serak, “Aku biyen mlaku neng ndalan iki… bojoku ninggalake aku soko altar” (Aku dulu melewati jalan ini… suamiku meninggalkanku tepat di pelaminan” Ia menitikkan air mata hitam.
Aroma dupa dan bunga layu menyelimuti tempat itu. Rasa pilu dan sesak mengitari dada Rani, membuat sendi lehernya terasa kaku. Tanah seolah bergetar halus, seperti dunia lain ikut menangis.
Dalam keheningan mencekam, pasangan muda itu panik dan menapakkan langkah. Suara bisikan menyeruak di telinga seperti kalimat “pegatan pegatan pegatan…” (talak talak talak…) berulang‑ulang tanpa henti. Bu Siti yang ikut mengejar dari belakang, berteriak: “Rani! Arif! “Ojo dirungokno suarane!” ( Jangan dengarkan suara itu! ) Suaranya melintas di antara gemerisik dedaunan, menembus kesuraman malam. Mereka berhenti mendadak, saling berpandangan, dadanya sesak dan telinga berdenging.
“Apa swara pegatan?”(Apa itu suara talak?) tanya Arif dengan suara parau. Rani menjawab lirih, “Mungkin iki… sombong ala sing males dendam marang wong sing ingkar janji” (Mungkin ini…congkak jahat yang membalas dendam mereka yang ingkar janji). Bu Siti mengambil sebatang kayu panjang, mengusir kabut bersama doa, “Bismillah.. Minggato soko wong-wong mau!”
( Bismillah… Pergi! Tinggalkan mereka!) Suara wanita pengantin lenyap dalam gemuruh angin, hanya tinggal gema ratap di dasar gunung. Jalanan setapak itu kembali sunyi, namun puluhan mata ghaib siap menanti kedatangan berikutnya.
Mereka bertiga berlindung di warung kecil dekat pintu awal pendakian, menyalakan lampu minyak dan duduk berpelukan. “Aku ora bisa nglalekake rupane.. penganten putri sing raine tatu.” (Saya tak bisa lupa wujudnya… pengantin dengan wajah luka tutur Bu Siti sambil menahan gemetar. Warga sekitar berkumpul, saling menggenggam tangan dan berdoa. Mereka menceritakan bahwa dulu, pasangan membatalkan janji pernikahan saat lewat Gunung Pegat, lalu kisah tragis itu merembet ke semua yang hadir, bahkan keturunan pun dianggap terkena kutukan.
Hingga larut malam, warung menjadi tempat saling meyakinkan dan berbagi pengalaman. “Anak saya juga sempat mendengar jeritan ‘talak’ pagi tadi,” ungkap Pak Joko, kepala desa setempat. “Dan istriku bermimpi melihat pengantin putih berjalan di halaman,” tambah Bu Murni, kakinya gemetar. Dialog‑dialog ini menimbulkan rasa ngeri sekaligus simpati. Semua sadar bahwa mitos bukan sekadar cerita kosong: Gunung Pegat menyimpan energi yang memisahkan janji dan cinta.
Ketika fajar menjelang, suasana berubah sunyi dan tegang. Rani dan Arif memutuskan untuk kembali ke rumah orang tua mereka dan menunda rencana nikah. Bu Siti menutup malam itu dengan kata‑kata syahdu: “Gunung itu menjaga janji suami‑istri. Jika hati belum siap, biarkan sinar fajar dulu yang menyambut kalian.” Mereka beranjak meninggalkan tempat itu, menyadari bahwa di Gunung Pegat, janji cinta diuji oleh misteri dan entitas yang tak terlihat, membawa pelajaran bahwa setiap janji harus dipupuk dengan keyakinan, bukan terburu oleh kisah mistis.
Redaksi Energi Juang News



