Energi Juang News, Lamongan – Di balik rimbunnya hutan jati di Kecamatan Sambeng, tersimpan peninggalan sejarah yang menakjubkan. Desa Pataan, yang berjarak sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Lamongan, menyimpan jejak penting masa kejayaan Raja Airlangga. Di sinilah berdiri Situs Candi Pataan, peninggalan kuno yang diyakini menjadi tempat pelarian sang raja dari serangan musuh pada abad ke-11.
Menurut Kepala Dusun Pataan, Suraji, kawasan candi ini menyimpan banyak peninggalan bersejarah, mulai dari gerbang masuk, struktur candi utama, bangunan bawah tanah mirip bunker, hingga sumber air yang dipercaya sebagai tempat pensucian Raja Airlangga. “Warga percaya tempat ini dulunya menjadi lokasi Airlangga berlindung sebelum kembali menata kekuasaannya,” ungkap Suraji.
Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Lamongan, Purnomo, menjelaskan bahwa Candi Pataan diyakini berasal dari abad ke-11, tepatnya masa pemerintahan Raja Airlangga dari Kerajaan Medang Kahuripan. Ia menambahkan, struktur bangunan yang ada di situs tersebut meliputi candi utama, gapura, pagar keliling, dan sisa stupa kecil, menunjukkan kompleksitas arsitektur pada masa itu.
“Berdasarkan Prasasti Patakan yang tersimpan di Museum Nasional, Desa Pataan pernah diberi status sima atau tanah bebas pajak oleh Airlangga karena penduduknya berjasa merawat bangunan suci Sang Hyang Patahunan,” jelasnya.
Penemuan situs ini bermula tahun 2011 ketika Supriyo, warga setempat, menemukan gundukan tanah besar yang kemudian diteliti oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur pada 2013. Hasil penelusuran menunjukkan adanya tembikar Dinasti Song, menandakan adanya hubungan perdagangan antara Jawa dan Tiongkok pada masa itu.
Sejarawan Lamongan, Mohammad Nafis Abd Rouf, menegaskan bahwa berdasarkan Prasasti Terep bertarikh 1032 Masehi, Airlangga sempat mundur dari istana Wwatan Mas karena serangan Raja Wurawari. Dalam pelariannya, sang raja menuju Pataan, di mana ia mempersiapkan serangan balasan dan berhasil merebut kembali kekuasaan.
“Wilayah Pataan bukan sekadar tempat pelarian, tetapi juga pusat strategi politik dan spiritual Airlangga. Di sini, ia mendapat perlindungan dari rakyat setempat yang loyal,” tutur Nafis.
Kini, reruntuhan Candi Pataan masih bisa dijumpai, meski kondisinya belum mendapat perhatian maksimal dari pemerintah daerah. Warga berharap situs bersejarah ini bisa dijadikan destinasi wisata budaya dan edukasi sejarah.
“Peninggalan seperti ini adalah warisan leluhur. Kalau tidak dirawat, anak cucu kita bisa lupa akan sejarah besar Lamongan,” ujar Suraji menutup percakapan.
Redaksi Energi Juang News



