Energi Juang News, Jakarta— Terpilihnya Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Partai Golkar memunculkan sejumlah tafsir politik baru. Menurut pengamat politik Rofik, posisi strategis itu tak lepas dari pengaruh besar Presiden Joko Widodo yang disebut-sebut berperan penting dalam proses suksesi partai berlambang pohon beringin itu.
Rofik mengungkapkan, sejak Musyawarah Nasional Golkar pada Agustus 2024, dinamika internal partai berubah drastis. Airlangga Hartarto yang kala itu masih menjabat sebagai ketua umum dikabarkan sempat melakukan manuver dengan mengumpulkan 38 Ketua DPD I Golkar se-Indonesia di Bali untuk menolak Munas tersebut. Namun, tekanan politik disebut semakin kuat hingga akhirnya Airlangga memilih mundur secara halus.
Menurut Rofik, kekuasaan saat itu masih terkonsentrasi di tangan Jokowi. Ia menilai, Jokowi menganggap Airlangga berpotensi menjadi ancaman karena dianggap kurang sejalan dalam mengawal langkah politik Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden. Dari situ, dua nama muncul ke permukaan: Agus Gumiwang Kartasasmita dan Bahlil Lahadalia.
Namun, pilihan akhirnya jatuh pada Bahlil. Dalam Munas Golkar yang dihadiri langsung Presiden Jokowi dengan pakaian kuning khas partai, Bahlil terpilih secara aklamasi tanpa perlawanan berarti. Momen itu menjadi penanda pergeseran kekuatan baru di tubuh Golkar.
Yang menarik, dalam pidato kemenangannya, Bahlil sempat menyinggung tentang figur misterius yang ia sebut sebagai “Raja Jawa.” Ia mengingatkan seluruh kader agar tidak main-main dengan sosok tersebut.
“Raja Jawa ini kalau kita main-main celaka. Saya cuma mau kasih tahu, jangan coba-coba main dengan barang ini, ngeri-ngeri sedap,” ujar Bahlil di hadapan peserta Munas di Jakarta Convention Center, 21 Agustus 2024.
Ucapan itu memicu banyak tafsir politik. Siapakah sebenarnya “Raja Jawa” yang dimaksud? Hingga kini, publik hanya bisa menebak-nebak peran besar di balik panggung kekuasaan yang membawa Bahlil ke puncak Partai Golkar.
Redaksi Energi Juang News



