Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
BerandaDaerahDaerah Khusus JakartaLaju Tanah Jakarta Melambat, Ancaman Rob di Pantura Masih Mengintai

Laju Tanah Jakarta Melambat, Ancaman Rob di Pantura Masih Mengintai

Energi Juang News, jakarta- Laju tanah ambles di Jakarta tercatat melambat dalam beberapa tahun terakhir, namun penurunan permukaan tanah masih berlanjut di berbagai titik penting ibu kota dan kota-kota lain di Jawa. Badan Geologi menegaskan bahwa tren ini tidak otomatis menghapus ancaman banjir rob dan kerusakan infrastruktur di kawasan pesisir yang padat penduduk.​

Daerah Rawan Tanah Ambles di Jawa

Badan Geologi mencatat sejumlah wilayah di Pulau Jawa mengalami penurunan tanah lebih dari lima sentimeter per tahun, tidak hanya di kawasan pesisir. Selain Jakarta Utara, amblesan juga terpantau di Bandung, beberapa kecamatan di Semarang seperti Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe, serta di Sayung (Demak), pesisir Pekalongan, dan bagian timur serta utara Surabaya.​

Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa tanah ambles terutama terjadi di daerah dengan sedimen muda dan lapisan tanah yang lunak. Eksploitasi air tanah yang berlebihan, beban bangunan berat, dan urbanisasi yang masif mempercepat proses penurunan tanah di kota-kota tersebut.​

Dampak Amblesan dan Kenaikan Muka Laut

Lana mengingatkan bahwa ketika penurunan tanah bertemu dengan kenaikan muka laut akibat pemanasan global, risiko banjir dan rob permanen meningkat tajam di wilayah pesisir. Dampaknya tidak hanya berupa genangan, tetapi juga kerusakan jalan, bangunan, dan jaringan infrastruktur vital yang menopang ekonomi lokal.​

Ia menambahkan bahwa amblesan jangka panjang menggerus kualitas hidup warga karena memicu persoalan sanitasi, kesehatan lingkungan, dan biaya perbaikan yang terus membengkak. “Serta kerugian ekonomi akibat meningkatnya biaya perbaikan bangunan dan infrastruktur pada daerah terdampak dan hilangnya wilayah daratan,” ujar Lana lewat keterangan yang dibagikan pada Rabu, 17 Desember 2025.​

Rob Meluas di Pesisir Utara Jawa

Amblesan di pesisir utara Jawa membuat sebagian daratan di Jakarta dan Semarang kini sejajar atau bahkan lebih rendah daripada permukaan laut. Dalam kondisi ini, air laut lebih mudah menerobos ke daratan ketika pasang tinggi atau terjadi cuaca ekstrem.​

“Banjir rob meluas di Jakarta Utara, Kabupaten dan Kota Pekalongan, Kota Semarang dan Kabupaten Demak,” kata Lana, menggambarkan bagaimana genangan sudah menjadi fenomena rutin di kawasan tersebut. Perubahan garis pantai, pembangunan tanggul laut, dan operasi pompa banjir kini menjadi penanda kasatmata bahwa wilayah daratan perlahan berubah menjadi perairan.​

Daratan yang Menghilang dan Perubahan Pola Kota

Perubahan daratan menjadi perairan yang permanen berimbas pada hilangnya permukiman dan tambak dari peta daratan di beberapa titik pesisir. Di banyak tempat, masyarakat harus beradaptasi dengan rumah yang sering tergenang, lahan usaha yang menyusut, dan akses jalan yang kerap terputus saat pasang tinggi.​

Lana menyebut amblesan tanah sebagai ancaman bencana yang terjadi perlahan tapi berdampak luas, terutama di kawasan perkotaan, industri, dan permukiman padat. Sifatnya yang tidak tiba-tiba seperti gempa membuat risiko ini kerap kurang disadari sampai kerusakan sudah terlanjur meluas.​

Laju Penurunan Tanah Jakarta Mulai Melandai

Untuk wilayah Jakarta, Badan Geologi mencatat adanya pelandaian laju penurunan tanah di cekungan air tanah kota ini. Berdasarkan pengukuran global positioning system (GPS) dalam periode 2015–2023, penurunan tanah berada di kisaran 0,05 hingga 5,17 sentimeter per tahun, jauh lebih rendah dibanding periode sebelumnya.​

Pada rentang 1997–2005, pengukuran GPS menunjukkan laju amblesan yang jauh lebih besar, yakni sekitar 1–10 hingga 15–20 sentimeter per tahun di beberapa titik Jakarta. Penurunan muka tanah bahkan disebut relatif tidak terlihat sejak 2020 hingga sekarang di sejumlah lokasi, seiring pembatasan pengambilan air tanah dan perbaikan tata kelola air.​

Jakarta dan Kota Tenggelam dalam Laporan WEF

Meski laju penurunan tanah di beberapa titik menurun, laporan terbaru World Economic Forum (WEF) yang terbit November lalu tetap menempatkan Jakarta sebagai salah satu kota yang sedang tenggelam. Dalam laporan itu, sebagian wilayah Jakarta tercatat mengalami amblesan hingga 28 sentimeter, dengan laju 10 sampai 20 kali lebih cepat dari kenaikan muka laut.​

Jakarta dan Semarang digolongkan sebagai kota pesisir yang membutuhkan strategi ketahanan iklim ekstra karena kombinasi penurunan tanah dan banjir pesisir. Tanpa pembatasan lebih ketat pada pengambilan air tanah, pengendalian beban bangunan, dan adaptasi pesisir, risiko tenggelamnya sebagian wilayah akan terus membesar.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments