Energi Juang News, Teheran- Protes massal melanda Iran memasuki pekan ketiga. Kekerasan aparat memicu korban jiwa melonjak. Pemerintah balas dengan langkah provokatif.
Korban Jiwa Melonjak Tajam
Kelompok HRANA catat 544 orang tewas sejak protes pecah. Sebanyak 496 demonstran gugur, 48 aparat keamanan tewas. Lebih dari 10.600 orang ditahan di seluruh negeri.
Aktivis verifikasi data via laporan lapangan. Angka ini kemungkinan naik karena blackout internet. Pemerintah Iran belum umumkan resmi korban.
Aktivis: Rezim Lakukan Pembantaian Brutal
Daniela Sepheri, aktivis Jerman-Iran, ungkap risiko tinggi warga protes. Rezim sedang berjuang untuk mempertahankan kekuasaan, tapi rakyat Iran juga sedang berjuang,” kata Daniela Sepheri kepada DW.
Dia soroti serangan aparat ke rumah sakit. “Sangat berjuang bagi orang-orang untuk keluar dan berdemonstrasi, tapi mereka tetap melakukannya. Kami menerima laporan-laporan yang mengerikan tentang pembantaian,” ujar Sepheri.
Baca juga : Arab Saudi Tegas: Wilayah Kami Bukan Panggung Serangan ke Iran
“Sangat sulit memverifikasi angka-angka yang kami terima karena pemadaman internet. Melalui Starlink, beberapa video masih memungkinkan untuk diakses. Media Iran di luar negeri coba memverifikasinya sepanjang hari,” jelasnya.
Rezim Umumkan Duka dan Perlawanan
Pada Minggu (11/01), pemerintah tetapkan tiga hari berkabung untuk aparat tewas. Mereka sebut aksi protes sebagai “kerusuhan” lawan AS-Israel.
Presiden Masoud Pezeshkian umumkan pawai “aksi perlawanan nasional” Senin (12/01). Otoritas tuding rival geopolitik picu demo.
Protes Kini Punya Pemimpin: Reza Pahlavi
Jurnalis Nazenin Ansari bilang gelombang ini beda. Demonstran kini ikuti Putra Mahkota Reza Pahlavi, pengungsi sejak 1979.
Aksi protes ini sebenarnya bukan hal baru, karena sudah dimulai sejak 2017,” kata Ansari. “Jadi, yang berbeda dari protes hari ini adalah bahwa gerakan ini memiliki seorang pemimpin, yaitu Pangeran Reza Pahlavi.”
Harapan Rakyat Tentukan Masa Depan
Sepheri inginkan referendum bebas. Harapan saya adalah rakyat Iran bisa mengubah masa depan dan negaranya sesuai dengan kehendak mereka sendiri, melalui pemilu yang bebas dan sebuah referendum,” tegas Sepheri.
Rezim hadapi tantangan ekonomi parah. Kesenjangan kaya-miskin memicu amarah luas.
Redaksi Energi Juang News



