Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)
Perdebatan tentang hilal dan metode hisab seolah telah menjadi “menu pembuka” tahunan yang rutin tersaji menjelang 1 Syawal. Tahun ini, dinamika itu kembali hadir; Muhammadiyah merayakan kemenangan pada Jumat, 20 Maret 2026, sementara Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkannya sehari kemudian. Di tengah potensi gesekan horizontal yang kerap dipicu oleh ego kelompok, pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjadi oase yang menyejukkan. Pesannya lugas: tidak perlu meruncingkan perbedaan.
Momen Idulfitri seharusnya menjadi puncak dari proses penyucian diri, bukan ajang untuk memvalidasi kebenaran tunggal dengan menyalahkan pihak lain. Fenomena perbedaan tanggal ini sebenarnya adalah ujian nyata bagi kualitas toleransi bangsa Indonesia. Apakah kita merayakan Idulfitri sebagai ritual fisik semata, ataukah kita telah menyerap esensi spiritualnya yang mengedepankan kasih sayang (rahmah)?
Melampaui Sekadar Penjumlahan Hari
Secara sosiologis, perbedaan satu hari dalam berhari raya seringkali dipandang sebagai masalah koordinasi administratif. Namun, jika ditarik ke ranah yang lebih dalam, ini adalah manifestasi dari kekayaan khazanah keilmuan Islam. Muhammadiyah dengan metode hisab hakiki wujudul hilal dan NU/Pemerintah dengan rukyatul hilal serta kriteria MABIMS, keduanya berpijak pada ijtihad yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan syar’i.
Oleh karena itu, memaksakan keseragaman tanpa didasari oleh kesadaran ilmu hanya akan melahirkan harmoni yang semu. Toleransi yang sejati justru tumbuh ketika kita mampu tersenyum melihat tetangga yang sudah melaksanakan salat Id saat kita masih berpuasa, atau sebaliknya. Kedewasaan beragama diuji saat kita bisa menahan diri dari ujaran yang merendahkan di media sosial hanya karena merasa “paling sunnah” atau “paling taat pemerintah”.
Teladan dari Elite untuk Rakyat
Poin krusial yang disampaikan Haedar Nashir adalah peran elite bangsa. Di era disrupsi informasi, satu pernyataan provokatif dari tokoh publik dapat menjadi pemantik konflik di akar rumput. Idulfitri 1447 H ini harus menjadi momentum bagi para pemimpin untuk menunjukkan uswah hasanah (teladan yang baik). Jika para pemimpinnya mampu saling merangkul di tengah perbedaan ijtihad, maka rakyat pun akan memiliki kompas yang jelas dalam menjaga persatuan.
Visi jangka panjang tentang Kalender Islam Global Tunggal memang menjadi dambaan untuk meminimalisasi perbedaan di masa depan. Namun, selagi proses keilmuan itu terus diupayakan, “Kalender Hati” harus lebih dulu disatukan. Kita harus sepakat bahwa kemanusiaan dan persatuan bangsa berada di atas segala perbedaan teknis penentuan tanggal.
Idulfitri adalah kemenangan bagi mereka yang berhasil menundukkan egonya. Perbedaan satu hari adalah hal kecil jika dibandingkan dengan luasnya samudra persaudaraan yang kita miliki. Mari kita jalani hari kemenangan ini dengan khusyuk baik yang merayakan pada 20 maupun 21 Maret dengan satu keyakinan: bahwa di bawah langit yang sama, kita semua sedang bersimpuh mencari rida Tuhan yang sama.
Jangan biarkan selisih 24 jam meretakkan persaudaraan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Karena pada akhirnya, kualitas takwa kita tidak diukur dari kapan kita mulai takbiran, melainkan dari seberapa besar rasa cinta dan hormat kita terhadap sesama setelah Ramadan berlalu.
Redaksi Energi Juang News



