Di era modern ini, gelar sarjana (D-4/S-1) tidak lagi menjadi jaminan mutlak kesejahteraan finansial. Bagi banyak anak muda, satu pekerjaan seringkali tidak cukup untuk menopang gaya hidup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan dasar di tengah inflasi yang terus mendaki. Hasilnya, fenomena double job, triple job, hingga multi-job kini menjadi realitas yang lazim di kalangan pekerja profesional.
Data dari Survei Angkatan Kerja Nasional Badan Pusat Statistik menunjukkan tren yang mencengangkan. Jumlah pekerja sampingan dengan latar belakang pendidikan D-4/S-1 melonjak drastis dari 419.265 orang pada tahun 2010 menjadi 1.870.027 orang pada tahun 2025. Fenomena ini juga terlihat pada kalangan profesional, di mana jumlah pekerja sampingan naik dari 116.436 orang menjadi 1.350.174 orang dalam periode yang sama.
Mengapa hal ini terjadi? Salah satu pemicunya adalah kesenjangan antara kenaikan pengeluaran nasional dan kenaikan penghasilan. Data menunjukkan rata-rata kenaikan pengeluaran nasional periode 2010-2025 mencapai 217,3%. Di sisi lain, kenaikan penghasilan bagi lulusan D-4/S-1 hanya tercatat sebesar 87,3%. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan lulusan SMK yang mencapai 181,9%. Kondisi ini memaksa para sarjana untuk memutar otak, mencari penghasilan tambahan karena gaji dari pekerjaan utama seringkali tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup. Bagi mereka, pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar hobi, melainkan alat bertahan hidup yang krusial.
Di tengah situasi ini, kebijakan industrialisasi yang tengah digagas pemerintahan Presiden Prabowo menjadi sorotan. Harapannya, industrialisasi tidak hanya menciptakan “lowongan kerja” secara kuantitatif, tetapi lapangan pekerjaan yang “layak” secara kualitatif. Pekerjaan layak yang dimaksud adalah posisi yang menawarkan gaji kompetitif, jaminan sosial yang memadai, serta jenjang karier yang jelas, sehingga para tenaga kerja terdidik tidak perlu lagi terpaksa memecah fokus dengan menjalankan berbagai pekerjaan sampingan hanya untuk bertahan hidup.
Industrialisasi yang ideal adalah yang mampu menyerap tenaga kerja terdidik ke dalam sektor-sektor bernilai tambah tinggi, bukan sekadar industri padat karya dengan upah minimum. Jika industrialisasi ini berhasil, seharusnya terjadi perbaikan struktur upah yang mampu menutupi kebutuhan hidup tanpa harus mengandalkan side job.
Namun, tantangannya adalah memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dikejar melalui industrialisasi tersebut berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan riil. Selama sistem remunerasi di industri utama masih timpang dibandingkan biaya hidup, fenomena “multi-job” akan tetap menjadi pilihan rasional bagi anak muda.
Sebagai kesimpulan, pekerjaan sampingan adalah respons cerdas dari generasi muda terhadap realitas ekonomi yang sulit. Namun, negara tetap memikul tanggung jawab besar. Industrialisasi bukan sekadar membangun pabrik atau membuka lowongan, melainkan membangun ekosistem kerja yang menghargai kompetensi, memberikan upah yang manusiawi, dan menjamin martabat pekerja sarjana di negeri sendiri.
Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)



