Energi Juang News, Jakarta – PT Pertamina Patra Niaga tengah melakukan evaluasi terhadap harga dua jenis bahan bakar non-subsidi, yakni Pertamax dan Pertamax Green. Ini menyusul kenaikan harga produk BBM lainnya yang telah dilakukan pada pekan lalu. Kenaikan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex diikuti dengan pembahasan bersama pihak terkait, namun hingga kini harga Pertamax dan Pertamax Green masih dipertahankan.
Harga BBM Non-subsidi Naik, Tapi Pertamax Tertahan
Pada 15 April 2026, Pertamina mengumumkan penyesuaian harga untuk produk BBM non-subsidi, termasuk Pertamax Turbo yang melonjak dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter. Selain itu, harga Dexlite naik dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600, dan Pertamina Dex bertambah dari Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter. Kenaikan ini mengikuti aturan yang tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Namun, harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 masih dipertahankan di harga masing-masing Rp 12.300 dan Rp 12.900 per liter. Untuk BBM bersubsidi, harga Pertalite tetap di Rp 10.000 per liter, dan Biosolar di Rp 6.800 per liter.
Respons Pemerintah dan Ekonom
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa kenaikan harga produk BBM non-subsidi sudah sesuai dengan mekanisme pasar, yang mengacu pada harga minyak dunia. Pemerintah hanya mengatur harga untuk BBM bersubsidi, sementara produk non-subsidi, seperti Pertamax Turbo, disesuaikan berdasarkan fluktuasi pasar.
Ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai bahwa penyesuaian harga ini merupakan langkah yang wajar mengingat situasi krisis energi global. Menurut Fahmy, penyesuaian harga BBM non-subsidi seharusnya mengikuti perubahan harga minyak dunia, meskipun dampak kenaikan ini diperkirakan tidak akan terlalu besar bagi masyarakat, mengingat konsumsi BBM non-subsidi relatif kecil.
Dampak Terhadap Masyarakat
Meski harga beberapa jenis BBM mengalami kenaikan, ahli ekonomi memperkirakan bahwa masyarakat tidak akan merasakan dampak yang signifikan. Kenaikan harga BBM non-subsidi, terutama Pertamax, tidak akan mempengaruhi distribusi kebutuhan pokok masyarakat. Konsumsi BBM non-subsidi juga lebih rendah dibandingkan BBM bersubsidi.
Redaksi Energi Juang News



