Energi Juang News, Sumut- Ada saat ketika manusia belajar kembali dari hal paling sederhana: menarik napas, menenangkan tubuh, lalu menyadari bahwa hidup masih dapat disusun pelan-pelan. Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara meninggalkan perubahan besar pada ruang hidup masyarakat. Jalan, rumah, pekerjaan, sekolah, dan kebiasaan sehari-hari bergeser dalam waktu singkat.
Di balik perubahan itu, banyak hati memerlukan ruang aman untuk kembali percaya bahwa hari esok masih mungkin ditata.
Berangkat dari panggilan kemanusiaan tersebut, Magister Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara bersama DPP Gerakan Pembumian Pancasila menghadirkan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini: Bantuan Awal Psikologis dalam Usaha Peningkatan Rasa Berdaya dan Keyakinan Diri.” Kegiatan ini menyapa masyarakat di wilayah Adiankoting, Parmonangan, Sitahuis, Pahae Jae, Purbatua, dan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Sekitar 200 insan terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, lansia, relawan, kader, keluarga terdampak, hingga pendamping lokal. Mereka hadir dengan pengalaman yang beragam. Ada anak yang membutuhkan rasa aman, ada orang tua yang memerlukan kekuatan untuk menjaga keluarga, ada relawan yang perlu memahami cara mendampingi dengan hati yang jernih, dan ada lansia yang membutuhkan ruang bicara yang tenang serta penuh hormat.
Program ini menghadirkan dukungan psikologis berbasis PFA dan P3LP sebagai jalan untuk membantu masyarakat menemukan kembali pijakan. Dalam masa pemulihan, dukungan psikologis menjadi ruang untuk bernapas, mendengar, menguatkan, dan menghubungkan manusia dengan sesamanya. Seperti ajaran hidup yang menekankan kesadaran dan belas kasih, pemulihan dimulai ketika seseorang merasa diterima apa adanya, didengar dengan tulus, lalu dipandu untuk mengambil langkah kecil yang sanggup ia jalani.
Melalui prinsip Look, Listen, dan Link, masyarakat diajak memahami langkah dasar dalam mendampingi sesama. Look berarti melihat keadaan dengan jernih: siapa yang perlu rasa aman, siapa yang memerlukan bantuan dasar, dan siapa yang perlu perhatian lebih. Listen berarti mendengarkan dengan hati yang tenang, memberi tempat bagi perasaan, dan membiarkan masyarakat berbicara sesuai kesiapannya. Link berarti menghubungkan masyarakat dengan keluarga, relawan, posko, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, atau sumber dukungan lain yang tersedia di lingkungan sekitar.
Kegiatan ini turut dibantu oleh relawan penerjemah yang fasih berbahasa daerah setempat. Penggunaan bahasa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di tiap lokasi, termasuk Bahasa Batak Toba maupun Batak Karo. Bahasa daerah menghadirkan kehangatan yang dekat dengan batin masyarakat. Pesan tentang rasa aman, napas yang tenang, dukungan keluarga, dan harapan menjadi lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui bahasa yang hidup dalam keseharian mereka.
Di setiap wilayah, kegiatan dirancang mengikuti kebutuhan masyarakat. Anak-anak diajak mengenali rasa aman melalui aktivitas ekspresif, permainan tenang, latihan napas, dan pendampingan yang lembut. Remaja dan orang dewasa diajak memahami reaksi wajar setelah pengalaman krisis, seperti cemas, sulit tidur, mudah terkejut, sedih, atau merasa kehilangan kendali. Lansia memperoleh ruang pendampingan yang lebih perlahan, dengan komunikasi yang santun, lembut, dan penuh penghargaan.
Salah satu latihan yang diberikan adalah grounding breathing, yaitu latihan napas perlahan untuk membantu tubuh kembali stabil. Masyarakat juga mempraktikkan orientasi realitas, seperti menyebut nama, tempat berada, orang yang bersama mereka, serta kalimat peneguhan bahwa saat ini mereka berada di ruang yang aman. Latihan sederhana ini membantu pikiran kembali hadir pada saat sekarang, seperti jangkar kecil yang menjaga tubuh dan batin tetap berpijak.
Masyarakat juga diajak menyusun if-then plan, rencana kecil yang memberi pegangan saat tekanan muncul. Misalnya, “Jika saya mulai panik, maka saya akan menarik napas perlahan dan mencari orang yang saya percaya.” Kalimat seperti ini membantu seseorang memiliki arah ketika batin terasa goyah. Dalam situasi krisis, rencana kecil dapat menjadi lentera yang membantu seseorang melangkah dari cemas menuju tenang.
Komunikasi empatik menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Masyarakat belajar memakai kalimat yang menguatkan, seperti “Saya mendengar yang Bapak/Ibu rasakan,” atau “Kita pelan-pelan melihat bantuan yang dibutuhkan.” Kehadiran yang tenang sering menjadi bentuk pertolongan yang sangat besar. Seseorang yang sedang rapuh kerap membutuhkan mata yang ramah, suara yang lembut, dan hati yang bersedia menemani.
“Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” menjadi pengingat bahwa pengalaman yang berat dapat diolah bersama dengan rasa aman, dukungan, dan keyakinan diri. Pemulihan dimulai dari langkah kecil: napas yang lebih teratur, telinga yang bersedia mendengar, tangan yang saling menolong, serta komunitas yang kembali percaya bahwa hidup dapat ditata lagi secara bertahap.
Doa dan harapan terbesar dari kegiatan ini adalah agar masyarakat terdampak memperoleh ruang pemulihan yang berlapis, berkelanjutan, dan penuh martabat. Respons ideal pada masa pemulihan bergerak dari skrining awal, pendampingan komunitas, dukungan anak dan sekolah, pendampingan dukacita, informasi layanan, penguatan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan umum, hingga rujukan klinis bagi kasus berat atau menetap. Dengan alur dukungan yang saling terhubung, masyarakat memiliki kesempatan untuk kembali merasa aman, didengar, dan berdaya.
Pemulihan psikologis masyarakat menjadi panggilan bersama. Pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, sarjana psikologi, lulusan bimbingan dan konseling, HIMPSI, relawan, serta komunitas lokal perlu bahu-membahu menghadirkan kepekaan dan aksi nyata. Ada masa ketika seseorang memerlukan tangan lain untuk membantunya berdiri kembali. Saat perasaan sedih, putus asa, atau tekanan batin terasa semakin berat, mencari pertolongan kepada psikolog profesional, konselor, tenaga kesehatan, atau orang yang dipercaya adalah langkah penuh keberanian. Pemulihan sering dimulai dari satu kalimat sederhana: “Saya membutuhkan bantuan.”
Dalam semangat kemerdekaan hari ini, revolusi mental menemukan maknanya ketika ilmu, hati, dan tindakan hadir bagi masyarakat yang membutuhkan. Kepekaan dan aksi adalah kunci agar harapan dapat tumbuh kembali di tengah kehidupan yang sedang dibangun ulang.
Keterangan Foto:
Dokumentasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” yang diselenggarakan oleh Magister Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara bersama DPP Gerakan Pembumian Pancasila di wilayah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Dosen Magister & Dekan Fakultas Psikologi UNTAR:
Dr. P. Tommy Y. S. Suyasa, S.Psi., Psikolog
Mahasiswa Magister Psikologi UNTAR:
Angelo Basario Marhaenis
Redaksi Energi Juang News



