Kamis, Juli 16, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaFinal Piala Dunia 2026: Pertarungan Sosialis Progesif vs Kapitalis Konservatif

Final Piala Dunia 2026: Pertarungan Sosialis Progesif vs Kapitalis Konservatif

Tidak pernah ada olahraga yang benar-benar steril dari politik. Gagasan bahwa olahraga hanyalah hiburan yang berdiri di luar pertarungan ideologi sesungguhnya merupakan konstruksi modern yang mengabaikan sejarah.

Sejak Olimpiade era Perang Dingin, boikot olahraga antarnegara, hingga diplomasi sepak bola, pertandingan olahraga selalu menjadi arena representasi identitas nasional, kepentingan negara, dan pertarungan gagasan politik.

Pandangan demikian juga menjadi salah satu warisan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno. Bagi Bung Karno, olahraga bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan bagian dari perjuangan politik bangsa-bangsa yang ingin melepaskan diri dari dominasi kolonialisme dan imperialisme. Karena itulah Indonesia menyelenggarakan Games of the New Emerging Forces (GANEFO) pada 1963 sebagai tandingan terhadap tatanan olahraga internasional yang dianggap didominasi kekuatan-kekuatan mapan atau Old Established Forces (OLDEFO). Dalam perspektif Bung Karno, olahraga dapat menjadi instrumen emansipasi politik sekaligus simbol harga diri bangsa.

Apabila kerangka berpikir tersebut digunakan untuk membaca final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina, pertandingan itu dapat dipahami bukan hanya sebagai duel dua kekuatan sepak bola, melainkan juga sebagai simbol pertarungan dua orientasi politik yang sangat berbeda.

Di satu sisi terdapat Spanyol yang kini dipimpin oleh Perdana Menteri Pedro Sánchez. Selain memimpin pemerintahan Spanyol, Sánchez juga menjabat Sekretaris Jenderal Partai Pekerja Sosialis Spanyol  dan sejak 2022 dipercaya menjadi Presiden Internasional Sosialis, organisasi yang menghimpun berbagai partai sosial demokrat dan sosialis dari berbagai negara. Dalam berbagai forum internasional, Sánchez dikenal mendorong kebijakan yang berpijak pada negara kesejahteraan, perlindungan hak-hak sosial, kesetaraan, serta sikap yang lebih progresif terhadap berbagai isu global.

Salah satu posisi politik luar negeri yang paling menonjol adalah dukungan pemerintah Spanyol terhadap pengakuan negara Palestina serta kritik terhadap operasi militer Israel di Gaza. Terlepas dari perdebatan mengenai efektivitas maupun konsekuensinya, posisi tersebut menunjukkan keberanian pemerintah Spanyol mengambil sikap yang berbeda dari sebagian mitra Baratnya. Dalam banyak kalangan progresif, langkah itu dipandang sebagai bentuk komitmen terhadap prinsip hak menentukan nasib sendiri dan penghormatan terhadap kemerdekaan.

Baca juga :  Rotasi di Atas Kaki yang Pincang: Ironi Badan Gizi Nasional

Sebaliknya, Argentina di bawah Presiden Javier Milei menghadirkan orientasi politik yang sangat berbeda. Milei secara terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai seorang “anarko-kapitalis” dan mengusung agenda ekonomi pasar yang sangat liberal, pengurangan peran negara, deregulasi, serta ide sosial konservatif. Dalam bidang politik luar negeri, ia membangun hubungan yang sangat erat dengan Israel, menyebut dirinya sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling pro-Israel, serta mengambil sikap yang jauh lebih keras terhadap Iran dibandingkan pemerintahan Argentina sebelumnya.

Dengan demikian, apabila final Piala Dunia dipandang melalui lensa politik, pertandingan tersebut dapat dibaca sebagai simbol benturan dua kecenderungan besar dalam politik global kontemporer: antara tradisi sosial demokrat atau sosialis progresif yang lebih menekankan peran negara, keadilan sosial, dan solidaritas internasional, dengan arus kapitalisme libertarian-konservatif yang mengedepankan pasar bebas, negara minimal, dan orientasi politik kanan.

Tentu saja, hubungan antara sepak bola dan politik tidak bersifat mekanis. Para pemain tidak otomatis menjadi representasi pandangan politik pemerintah mereka. Ruang ganti tim nasional bukanlah kabinet pemerintahan, dan kemenangan di lapangan tidak identik dengan kemenangan ideologi tertentu.

Namun, dalam ajang seperti Piala Dunia, simbol-simbol nasional selalu hadir. Bendera, lagu kebangsaan, identitas negara, hingga citra pemerintahan turut membentuk cara publik memaknai sebuah pertandingan.

Karena itu, membaca final Piala Dunia sebagai sebuah peristiwa politik bukanlah sesuatu yang asing dalam kajian ilmu sosial. Sejumlah pemikir seperti Antonio Gramsci melihat olahraga sebagai bagian dari ruang budaya tempat hegemoni diproduksi dan diperebutkan. Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa praktik olahraga tidak pernah sepenuhnya terlepas dari relasi kekuasaan dan struktur sosial. Sementara itu, Benedict Anderson menjelaskan bagaimana nasionalisme modern dibangun melalui berbagai ritual kolektif, termasuk olahraga internasional.

Baca juga :  Jebakan Informal: Negara Gagal Ciptakan Pekerjaan Layak di Indonesia

Dalam kerangka itulah, final Spanyol melawan Argentina dapat dimaknai sebagai panggung simbolik yang memperlihatkan dua narasi besar tentang masa depan dunia: apakah orientasi yang lebih progresif dan berbasis solidaritas sosial akan memperoleh legitimasi yang lebih kuat, atau justru gagasan kapitalisme libertarian dan konservatisme yang semakin mengukuhkan posisinya.

Dalam hal ini, penulis berpandangan bahwa kemenangan Spanyol akan memiliki makna simbolik yang lebih luas daripada sekadar keberhasilan olahraga. Di tengah menguatnya polarisasi politik global, kemenangan Spanyol dapat dibaca sebagai representasi keberhasilan nilai-nilai sosial demokrasi, keadilan sosial, dan politik progresif memperoleh panggung di hadapan dunia.

Dalam perspektif yang terinspirasi oleh Bung Karno, kemenangan itu dapat dimaknai sebagai simbol bahwa olahraga tetap menjadi ruang perjuangan ide, bukan sekadar arena hiburan yang bebas dari konteks politik.

Sepak bola memang dimainkan selama 90 menit. Namun makna yang dibangun di sekelilingnya sering kali melampaui peluit akhir pertandingan. Di situlah olahraga dan politik terus bertemu—bukan karena keduanya identik, melainkan karena keduanya sama-sama berbicara tentang identitas, kekuasaan, dan harapan mengenai masa depan dunia.

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments