Rabu, Juli 22, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaResign Kilat Nanik S. Deyang, Rekor 45 Hari

Resign Kilat Nanik S. Deyang, Rekor 45 Hari

Baru saja rakyat Indonesia selesai menyesap teh hangat sambil mencerna pelantikan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 8 Juni 2026, kini kita dipaksa menelan kenyataan yang lebih pahit bahkan lebih cepat daripada masa kedaluwarsa susu kotak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tepat 45 hari setelah dilantik, alih-alih mengurus gizi anak-anak bangsa agar semakin cemerlang, Ibu Nanik justru memilih mengundurkan diri. Alasannya klasik, tetapi serius: faktor kesehatan jantung.

Ya, baru sebulan setengah menjabat, tensi politik rupanya jauh lebih mematikan daripada kolesterol tinggi. Jabatan Kepala BGN kini resmi menyandang gelar sebagai wahana roller coaster paling memusingkan di kabinet.

Bayangkan saja, kursi panas itu bahkan belum sempat benar-benar dihangatkan oleh pejabatnya, tetapi sudah kembali dingin karena ditinggalkan. Ini bukan lagi sekadar soal reformasi birokrasi, melainkan ajang uji nyali untuk mencari siapa yang jantungnya paling tahan banting menghadapi karut-marut data fiktif dan dapur umum yang kembang kempis.

“Program Makan Bergizi Gratis memang dirancang untuk menyuburkan rakyat. Namun, rupanya jabatan pimpinannya yang justru paling sering ‘masuk angin’ dan kena mental.”

Gizi Pangan Aman, Gizi Mental Berantakan

Alasan pengunduran diri karena gangguan jantung tentu memancing senyum getir publik. Selama 45 hari memimpin, Nanik diklaim cukup tegas membongkar berbagai persoalan, termasuk menyisir data fiktif. Bahkan ditemukan satu sekolah yang dilayani oleh dua dapur SPPG sekaligus. Sebuah efisiensi yang sangat kreatif: siswanya bisa kenyang dua kali lipat, tetapi anggarannya membuat kepala negara megap-megap.

Di sinilah letak ironinya. Pemerintah gemar mendengungkan pentingnya screening atau skrining kesehatan bagi para penerima manfaat MBG agar terhindar dari stunting. Sayangnya, mereka tampaknya lupa melakukan skrining mental dan uji ketahanan stres bagi pejabat yang akan menduduki kursi kekuasaan.

Baca juga :  Narasi 'Anti Asing' Pejabat Pemerintahan: Cerminan Ultra Nasionalisme dan Populisme Kanan

Kalau siswa wajib lolos pemeriksaan kesehatan, mestinya calon Kepala BGN juga perlu melewati tes ketahanan menghadapi tekanan sebelum mengelola anggaran bernilai triliunan rupiah. Sebab, kalau baru 45 hari sudah tumbang karena persoalan jantung, publik tentu bertanya-tanya: sebenarnya yang bermasalah gizinya siapa? Yang makan atau yang mengurus program makannya?

Gonta-ganti Nakhoda, Kapal Gizi Nyaris Karam

Sebelum Nanik, ada Dadan Hindayana yang juga lengser di tengah berbagai dinamika. Kini, kursi panas BGN kembali kosong. Program MBG yang digadang-gadang menjadi mercusuar kesejahteraan rakyat justru terlihat seperti kapal yang kehilangan arah karena nakhodanya berganti di tengah badai.

Bagaimana sebuah program dapat berjalan stabil jika pemimpinnya datang dan pergi lebih cepat daripada paket belanja e-commerce dengan label gratis ongkir?

Di lapangan, petani mengeluhkan hasil panen yang tak terserap saat masa libur sekolah. Pedagang pasar pun ikut gigit jari, sementara anak-anak sekolah masih menunggu kepastian menu makan bergizi setiap harinya.

Di tengah situasi seperti ini, rakyat hanya bisa berharap agar pengganti Nanik berikutnya tidak hanya piawai melakukan sidak dan tampil tegas di depan kamera, tetapi juga memiliki daya tahan fisik dan mental yang lebih kuat. Kalau perlu, sekalian saja dibekali asuransi jiwa rangkap tiga dan stok obat penenang yang memadai.

Pada akhirnya, drama 45 hari ini mengajarkan satu hal: mengurus gizi perut rakyat ternyata jauh lebih mudah daripada mengurus gizi politik di lingkar kekuasaan.

Semoga pengganti berikutnya tidak ikut terserang “penyakit jantung anggaran” sebelum sempat mencicipi lauk-pauk program yang dipimpinnya sendiri.

Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments