Selasa, Mei 26, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 29

Harga Minyak Dunia Turun ke USD 104 per Barel

Harga Minyak Dunia Turun ke USD 104 per Barel

Energi Juang News, Jakarta- Harga minyak dunia turun ke USD 104 per barel setelah sebelumnya melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik. Penurunan ini terjadi di tengah meredanya kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi global.

Pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level US$104,23 per barel. Angka ini turun sekitar 1,98 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Ketegangan Mereda, Pasar Mulai Tenang

Mengacu pada laporan Trading Economics, koreksi harga dipicu oleh langkah Amerika Serikat yang berhasil menggagalkan serangan dari Iran. AS juga mengawal dua kapal berbendera negaranya saat melintasi Selat Hormuz.

Pemerintah AS menyatakan telah melindungi kapal-kapal komersial dari ancaman drone dan perahu kecil. Aksi tersebut sempat dilaporkan berasal dari Teheran.

Di sisi lain, Uni Emirat Arab mengklaim berhasil mencegat rudal Iran. Negara itu juga mengonfirmasi adanya kebakaran di terminal minyak Fujairah, salah satu titik penting distribusi energi global.

Perkembangan ini muncul setelah Presiden Donald Trump menguraikan rencana pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Ia juga menegaskan dukungan terhadap kapal-kapal yang sempat terjebak di kawasan tersebut.

Risiko Masih Membayangi Jalur Hormuz

Meski situasi mulai mereda, pelaku pasar belum sepenuhnya tenang. Selat Hormuz dinilai masih berisiko mengalami gangguan.

Investor menilai jalur vital itu tetap rentan hingga ada kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini membuat pasar bersikap hati-hati terhadap kemungkinan lonjakan harga berikutnya.

Lonjakan Sebelumnya dan Faktor Pasokan

Sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak 2022. Kontrak berjangka Brent crude bahkan menembus US$120,94 per barel pada 30 April 2026.

Namun, harga kemudian turun ke kisaran US$113 per barel pada penutupan hari yang sama.

Dari sisi fundamental, tekanan harga juga datang dari penurunan tajam stok minyak di Amerika Serikat. Selain itu, ekspor minyak AS meningkat hingga melampaui 6 juta barel per hari, menandakan pasokan global semakin ketat.

Di Indonesia, kenaikan harga global turut mendorong Indonesian Crude Price (ICP). Kementerian ESDM mencatat ICP Maret 2026 mencapai US$102,26 per barel. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir dan jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel.

Redaksi Energi Juang News

Misteri Hantu Alas Poncowati

Alas Pancowati
Alas Pancowati

Energi Juang News,Pekalongan- Malam di jalur Alas Roban selalu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu kendaraan menjadi satu-satunya sumber cahaya yang memotong gelapnya hutan. Truk-truk besar melintas perlahan, menggeram di tikungan curam yang seolah tak pernah benar-benar aman.

Di kanan kiri jalan, pepohonan raksasa berdiri seperti penjaga diam yang mengawasi setiap kendaraan yang lewat. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada suara manusia. Hanya deru mesin… dan sesuatu yang terkadang terdengar seperti bisikan.

Warga setempat menyebut wilayah ini sebagai Alas Poncowati—sebuah nama yang jarang tercantum di peta, tapi sangat dikenal dalam cerita malam.

Di salah satu tikungan tajam, berdiri sebuah pohon beringin raksasa yang oleh warga disebut pohon anggrung.

Banyak orang yang melintasi jalan tersebut disambut dengan suara-suara aneh.

“Orang yang dilihatin penampakan, kebanyakan orang luar. Kadang-kadang wujudnya tidak nampak, tapi suaranya ada,” ucap Boyak, 50, warga Desa Plelen, Kecamatan Gringsing yang sedang membantu mengatur lalulintas.

Tiap hari ia menyempatkan waktu mengais rejeki di sana. Tepatnya di tikungan tajam dekat dengan pohon beringin raksasa.

Menurutnya pohon beringin itu menjadi salah satu titik angker di sini. Warga sekitar menyebutnya pohon anggrung.

“Di situ banya penunggunya, sebangsa genderuwo juga pocong,” ujarnya.

Tak jauh dari lokasi itu ada satu tempat yang disebut Mbulungan.

Lokasi itu diyakini sebagai sarang genderuwo. Jalan Daendels sendiri memiliki panjang sekitar 2 kilometer.

Di lokasi tersebut juga terdapat tempat pembuangan PKI. Pada masa itu tujuh orang dikubur hidup-hidup. Makamnya berada di tebing sisi utara jalan.

Jalan tersebut kerap terjadi kecelakaan dan memakan korban jiwa. Mengingat medannya berliku dan cukup curam.

Lokasi tersebut 24 jam dijaga oleh warga sekitar seperti Boyak.

Mereka bergantian mencari sedikit rejeki dari pengguna jalan dengan mengatur jalan. Biasanya tiap satu jam bergati orang.

Tidak ada penerangan di jalan tersebut. Truk-truk besar juga biasanya milih jalan ini karena jarak tempuh lebih pendek dan sedikit landai.

Selain mahluk halus itu, ada juga penunggu yang dianggap baik.

Masyarakat sekitar menyebutnya Mbah Sulaiman. Ia pernah menampakkan diri pada seorang warga. Warga tersebut diajak berkeliling ke alam lain.

Ia juga diberi uang Rp 100 ribu. Uang tersebut tidak hilang walaupun dia sudah keluar dari alam lain.

“Itu orangnya baik Mbah Sulaiman itu. Orang sini ada yang dibawa kemana-mana itu, ke alam lain. Lewatnya di papringan (rumpun pohon bambu). Katanya lewatnya jalan bagus, padahal itu hutan,” terangnya

Selain penampakan, ada misteri suara pekikan kidang. Warga di sana jarang melihat hewan tersebut.

Namun tiap kali muncul suara pekikan hewan tersebut, bisa dipastikan bakal ada kecelakaan besar. Di sekitar jalur Pantura Alas Roban itu.

“Sebelum ada kecelakaan biasanya ada suawa kidang, ngikkk gitu. Keras banget. Setelah itu pasti ada kecelakaan,” ujar Boyak.

Tak sampai, di situ Febri, warga lain menuturkan bahwa ia pernah melihat sendiri penampakan penunggu Alas Poncowati.

Namanya Jabungan, sesosok perempuan yang mengenakan kebaya berwarna hijau daun.

Kemunculannya selalu mengganggu siapapun yang ditemuinya.

“Saya pernah lihat sendiri itu. Pas keluar kampung naik ke jalan raya, saya berpapasan. Biasanya dia mengganggu pengguna jalan. Saya langsung kabur tancap gas,” tuturnya

Misteri Hantu Alas Poncowati bukan sekadar cerita untuk menakut-nakuti. Ia hidup dalam pengalaman, dalam bisikan malam, dalam bayangan yang muncul di antara lampu kendaraan.

Redaksi Energi Juang News

Mengenal Gus Falah, Anggota DPR RI yang Tegas dan Merakyat

Gus Falah, Anggota DPR RI yang Tegas dan Merakyat

Energi Juang News, Jakarta – Nama Nasyirul Falah Amru mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat yang mengikuti dinamika politik di Tanah Air. Gus Falah, pria yang akrab disapa begitu, kini mencuri perhatian publik sebagai salah satu anggota DPR RI. Kiprahnya sebagai wakil rakyat di Senayan selalu menarik untuk kita ikuti, terutama karena gaya komunikasinya yang lugas dan berani.

Kiprah Gus Falah di Senayan

Gus Falah jalankan tugasnya sebagai anggota DPR RI dengan penuh semangat. Ia wakili daerah pemilihan Jawa Timur, dan sejak awal sudah tunjukkan komitmennya untuk jadi corong rakyat kecil. Banyak kalangan nilai sosoknya bawa energi baru di parlemen. Ia tidak ragu sampaikan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah yang ia anggap tidak memihak rakyat.

Rekam jejak politiknya cukup panjang sebelum akhirnya berhasil duduki kursi di Senayan. Gus Falah aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan. Basis massanya yang kuat di kalangan nahdliyin jadi modal penting dalam karir politiknya. Namun, ia tidak pernah sekadar andalkan nama besar. Setiap kali berada di forum resmi, ia selalu tampil dengan data dan argumen yang kuat.

Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) Berjuang Bersama Rakyat
Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) Berjuang Bersama Rakyat

Saat Aspirasi Rakyat Dibawa ke DPR

Publik semakin respek terhadap Gus Falah karena konsistensinya dalam perjuangkan isu-isu kerakyatan. Ia kerap sambangi langsung konstituennya untuk dengar keluhan warga. Mulai dari masalah pupuk petani, harga kebutuhan pokok, hingga akses pendidikan, ia tampung semuanya. Ia bawa aspirasi tersebut ke rapat-rapat DPR RI. Anggota DPR lain jarang lakukan metode kerja seperti ini.

Pembawaan santai dan merakyat Gus Falah buat berbagai kalangan terima dia dengan mudah. Ia tidak pasang jarak. Saat pulang ke daerah pemilihan, ia selalu sempatkan diri duduk bareng warga di warung kopi, dengar cerita mereka secara langsung. Menurutnya, pendekatan ini sangat efektif untuk pahami apa yang sebenarnya masyarakat butuhkan.

Tentu saja, perjalanan Gus Falah di DPR RI tidak selalu mulus. Ia kerap bersitegang dengan pihak-pihak yang berseberangan pandangan. Namun, justru di situlah letak kematangan politiknya teruji. Ia mampu jaga etika dalam berdebat dan tetap fokus pada substansi persoalan. Bagi Gus Falah, anggota DPR RI sejatinya adalah pelayan rakyat yang harus siap bertarung demi kepentingan banyak orang.

Ke depan, publik tentu harap Gus Falah terus jaga integritasnya di tengah godaan politik praktis yang begitu besar. Figur seperti dia hadir di DPR RI sebagai angin segar yang tunjukkan parlemen masih punya hati untuk rakyat.

Redaksi Energi Juang News

Polri Larang Live Streaming Saat Bertugas

Polri Larang Live Streaming Saat Bertugas

Energi Juang News, Jakarta – Kepolisian Republik Indonesia menegaskan aturan baru bagi seluruh personelnya dalam penggunaan media sosial. Kebijakan ini diambil untuk menjaga profesionalitas serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Fokus utama diarahkan pada kedisiplinan saat menjalankan tugas di lapangan.

Larangan Live Streaming Saat Bertugas

Polri melarang seluruh anggotanya melakukan siaran langsung atau live streaming ketika sedang bertugas. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Johnny Eddizon Isir, menyampaikan bahwa aturan ini bertujuan menjaga konsentrasi personel dalam menjalankan tanggung jawabnya.

“Penegasan ini untuk membangun kesadaran bersama agar anggota Polri bijak menggunakan media sosial, sekaligus menjaga dan meningkatkan citra institusi secara bertanggung jawab,” ujar Johnny dalam keterangan tertulis, Senin, 4 Mei 2026.

Larangan tersebut berlaku di seluruh platform media sosial tanpa pengecualian. Informasi ini sebelumnya juga disampaikan melalui akun Instagram resmi @sahabatpropam pada 31 April 2026.

Penggunaan Media Sosial Harus Terkoordinasi

Meski melarang siaran langsung saat bertugas, Polri tetap memperbolehkan penggunaan media sosial oleh personel. Namun, penggunaannya harus berada dalam koridor fungsi kehumasan dan dilakukan secara terkoordinasi.

Johnny menegaskan, media sosial dapat dimanfaatkan untuk mendukung kinerja dan publikasi institusi. Meski begitu, penggunaannya tidak boleh dilakukan sembarangan saat anggota sedang menjalankan tugas di lapangan.

“Media sosial dapat dimanfaatkan secara positif, khususnya dalam fungsi kehumasan. Namun harus terkoordinasi dan tidak dilakukan secara sembarangan,” katanya.

Dasar Aturan dan Pengawasan Internal

Kebijakan ini merujuk pada Surat Telegram Nomor STR/1517/VI/WAS.2/2024 yang mengatur pengawasan aktivitas personel di ruang digital. Aturan tersebut memperkuat pengendalian perilaku anggota, terutama saat bertugas.

Selain itu, kebijakan ini juga mengacu pada Peraturan Polri Nomor 7 Tahun 2022 serta Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang disiplin anggota. Kedua regulasi tersebut menekankan pentingnya etika, tanggung jawab, dan profesionalitas, termasuk dalam penggunaan media sosial.

Dengan aturan ini, Polri berharap seluruh personel dapat menjaga integritas serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi.

Redaksi Energi Juang News

Festival Markup dan Hilangnya Logika Meritokrasi

Festival Markup dan Hilangnya Logika Meritokrasi

Media sosial sedang “panas” dengan foto kebersamaan yang seharusnya mengharukan. Potret Menteri Sosial Gus Ipul dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sedang membagikan sepatu kepada murid Sekolah Rakyat di Malang beredar luas. Namun, kehangatan foto itu berubah menjadi kecurigaan ketika publik mulai mengutak-atik angka di balik gambar tersebut. Mengapa? Karena terjadi diskoneksi yang mencengangkan antara barang yang diterima dan nilai uang yang dikeluarkan negara.

Berdasarkan dokumen Rencana Umum Pengadaan (RUP) Kementerian Sosial, anggaran yang disiapkan untuk pengadaan 39.345 pasang sepatu mencapai Rp 27,53 miliar . Hitung-hitungan kasarnya, pemerintah mengalokasikan Rp 700.000 per pasang. Masalahnya, brand sepatu lokal asal Yogyakarta (atau disebut pula Surabaya), Stradenine, yang fotonya mencuat, buka suara. Harga riil sepatu model tersebut di pasaran hanya Rp 179.900 . Selisihnya? Lebih dari setengah harga jual.

Merasa namanya tercoreng, Gus Ipul segera memberikan klarifikasi. Menurutnya, foto viral itu adalah sumbangan pribadi Gubernur Khofifah, bukan hasil pengadaan dari Kemensos. “Bukan standar dari sekolah rakyat,” tegasnya di Kantor Kemensos, Jakarta, Selasa (5/5/2026) . Ia menegaskan bahwa sepatu pengadaan Kemensos yang real harganya lebih tinggi karena kualitas berbeda, berkisar antara realisasi Rp 250 ribu hingga Rp 640 ribu .

Meskipun klaim ini terkesan membela diri, dampaknya tetap sama buruknya. Publik melihat angka Rp 700.000 di koridor anggaran. Terlepas dari spesifikasi teknis, persepsi yang terbangun adalah inefisiensi. Apalagi, KPK saat ini tengah menyusun kajian pencegahan korupsi khusus untuk program ini karena potensi titik rawan yang tinggi .

Namun, masalah ini tidak melulu tentang sepatu merek apa yang dibagikan, melainkan tentang perilaku birokrasi. Mengapa angka pagu selalu begitu jauh dari harga pasar? Di sinilah letak kegagalan meritokrasi.

Jika pengadaan didasarkan pada merit, pejabat akan bertanya: Apakah ini harga yang wajar? Apakah ini nilai terbaik untuk uang rakyat (Value for Money)? Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kebijakan seperti Perpres 46/2025 (perubahan Perpres 16/2018) dinilai oleh peneliti ICW memperluas celah penunjukan langsung untuk program prioritas, yang berpotensi tinggi menimbulkan konflik kepentingan dan subjektivitas . Proses yang tidak transparan inilah yang memicu terjadinya “markup” gila-gilaan.

Data Kementerian Keuangan pun mencatat prinsip Value for Money sering terabaikan ketika kepala daerah atau menteri terlalu memaksakan produk “kerabat” atau kualitas “spesial” tanpa analisis pasar yang memadai .

Publik tidak bodoh. Mereka bisa membandingkan harga Stradenine di toko online dengan pagu APBN. Meskipun Gus Ipul mengklaim ada perbedaan kualitas antara “sumbangan gubernur” dan “pengadaan nasional”, rakyat yang notabene miskin tidak butuh sepatu Rp 700 ribu. Mereka butuh logistik yang layak dengan harga yang efisien.

Pertanyaannya: sampai kapan pemerintah akan menganggap uang rakyat sebagai ‘amplop tebal’ yang bisa diakali dengan dalih teknis seperti perbedaan spek bahan atau status barang?

Sudah saatnya meritokrasi ditegakkan. Buka lelang seluas-luasnya, libatkan publik dalam pengawasan, dan stop perilaku menormalisasi markup harga. Jangan sampai program Sekolah Rakyat yang mulia berubah menjadi proyek basah bagi para rent-seeker. Jika tidak, foto “mesra” di media sosial hanya akan menjadi justifikasi atas pengurasan uang negara di balik punggung anak-anak miskin.

 

Oleh: Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

KPK Ingatkan Calo Kasus Suap Bea Cukai Semarang

KPK Ingatkan Calo Kasus Suap Bea Cukai Semarang

Energi Juang News, Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap adanya pihak yang mengaku mampu mengurus perkara korupsi terkait impor barang. Informasi tersebut mengarah pada keberadaan oknum di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Lembaga antirasuah meminta publik tidak mudah percaya pada klaim semacam itu.

KPK Minta Publik Waspada Calo Perkara

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap pihak yang mengaku bisa menangani perkara di KPK. Ia menegaskan, seluruh proses penanganan kasus dilakukan secara transparan dan profesional.

Menurut Budi, setiap keputusan diambil secara kolektif oleh pimpinan, dengan melibatkan tim penyelidik, penyidik, hingga penuntut. Karena itu, tidak ada ruang bagi pihak luar untuk “mengatur” jalannya perkara.

“Prosesnya terbuka dan melalui mekanisme yang jelas,” kata Budi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin, 4 Mei 2026.

Praktik Serupa Pernah Terjadi

Budi menyebut, fenomena pihak yang mengaku bisa mengurus perkara bukan hal baru. Sebelumnya, KPK juga menemukan klaim serupa dalam kasus suap pengurusan cukai yang tengah ditangani.

Ia menegaskan, KPK tidak pernah bekerja sama dengan pihak mana pun di luar mekanisme resmi. Karena itu, masyarakat diminta segera melapor jika menemukan praktik serupa.

Deretan Tersangka Kasus Suap Impor

Dalam perkara suap impor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, KPK telah menetapkan enam tersangka. Mereka adalah mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan Rizal; Kepala Subdirektorat Intelijen Sisprian Subiaksono; Kepala Seksi Intelijen Orlando Hamonangan; serta pihak swasta dari Blueray Cargo, yakni John Field, Andri, dan Dedy Kurniawan.

Selain itu, KPK juga menetapkan Budiman Bayu Prasojo sebagai tersangka. Ia menjabat Kepala Seksi Intelijen Cukai Penindakan dan Penyidikan. Penyidik menangkap Budiman di kantor pusat Bea Cukai, Jakarta, pada 26 Februari 2026.

KPK menegaskan akan terus mengusut kasus ini hingga tuntas dan memastikan tidak ada intervensi dari pihak luar.

Redaksi Energi Juang News

Mahasiswa Teriaki Fauzan “Pembohong” Saat Audiensi

Mahasiswa Teriaki Fauzan “Pembohong” Saat Audiensi

Energi Juang News, Jakarta- Ratusan mahasiswa menggelar aksi di depan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, Senin, 4 Mei 2026. Aksi ini diwarnai ketegangan saat perwakilan pemerintah menemui massa untuk berdialog.

Audiensi Memanas di Akhir Pertemuan

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menemui mahasiswa dan mendengarkan berbagai tuntutan. Massa aksi berasal dari sejumlah kampus, termasuk Universitas Indonesia.

Dalam audiensi itu, Fauzan menyatakan bahwa aspirasi mahasiswa sejalan dengan upaya pemerintah memperbaiki kebijakan pendidikan. Ia menegaskan komitmen kementerian untuk menjaga integritas dan etika di lingkungan kampus.

Namun, suasana berubah di penghujung dialog. Sejumlah mahasiswa meneriakkan kata “pembohong” secara berulang saat Fauzan menjelaskan program pemerintah. Teriakan itu sempat membuat pidato terhenti beberapa detik sebelum kembali dilanjutkan.

Tuntutan Mahasiswa dan Respons Pemerintah

Sebelum insiden tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka meminta pemerintah menghentikan program makan bergizi gratis, menolak rencana penutupan program studi, serta mendorong transparansi penanganan kekerasan seksual di kampus.

Fauzan membantah adanya rencana penutupan program studi. Ia menegaskan kebijakan yang dilakukan adalah penataan untuk memperkuat relevansi program pendidikan dengan kebutuhan industri.

Ia juga menyoroti pentingnya pemberantasan kekerasan seksual di kampus. Menurutnya, kementerian harus menjadi garda terdepan dalam memberikan perlindungan kepada korban.

Janji Perbaikan dan Penutup Aksi

Dalam penjelasannya, Fauzan memaparkan sejumlah program pemerintah. Di antaranya revitalisasi infrastruktur sekolah, pembangunan sekolah di daerah terpencil, serta peningkatan kualitas dosen, terutama di wilayah 3T.

Ia juga menyebut tengah menyiapkan skema beasiswa khusus bagi dosen di daerah tersebut. Selain itu, Fauzan membuka akses komunikasi langsung dengan mahasiswa untuk menindaklanjuti aspirasi.

Audiensi berakhir menjelang pukul 17.00 WIB di tengah hujan deras. Sebagian besar massa membubarkan diri setelah pertemuan selesai, meski beberapa mahasiswa masih bertahan untuk menyampaikan aspirasi lanjutan.

Redaksi Energi Juang News

Pigai Desak Amien Rais Minta Maaf ke Teddy

Pigai Desak Amien Rais Minta Maaf ke Teddy

Energi Juang News, Jakarta – Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai meminta Amien Rais meminta maaf kepada Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Permintaan ini muncul setelah pernyataan Amien dinilai menyerang kehormatan pribadi. Konten video yang memicu polemik itu sempat beredar di YouTube sebelum kemudian dihapus.

Pigai Nilai Pernyataan Bersifat Personal

Pigai menilai pernyataan Amien Rais telah melampaui batas kritik yang wajar. Ia menegaskan kritik seharusnya diarahkan pada kinerja atau kebijakan, bukan menyerang individu.

“Saya sebagai Menteri HAM meminta Amien Rais minta maaf atau minimal mencabut pernyataannya,” kata Pigai dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 4 Mei 2026.

Menurut dia, serangan personal tidak mencerminkan sikap bermartabat. Pigai menambahkan, kebebasan berpendapat memang dijamin konstitusi dan hukum internasional, tetapi memiliki batas yang jelas.

Ia merujuk pada berbagai regulasi, termasuk International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan Prinsip Siracusa. Dalam aturan itu, kebebasan berekspresi tidak boleh mengarah pada serangan terhadap kehormatan, martabat, atau memicu instabilitas.

Pigai juga menekankan bahwa kekerasan verbal termasuk dalam kategori pelanggaran HAM. “Serangan verbal bisa berdampak pada mental, martabat, dan moralitas individu,” ujarnya.

Pemerintah Sebut Konten Mengandung Fitnah

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai video tersebut memuat narasi fitnah dan ujaran kebencian. Ia menyebut konten itu tidak berbasis fakta dan berpotensi memicu kegaduhan publik.

“Narasi yang dibangun merendahkan martabat pimpinan negara dan berpotensi memecah belah bangsa,” kata Meutya dalam keterangan tertulis, Jumat, 1 Mei 2026.

Ia menegaskan ruang digital seharusnya menjadi wadah adu gagasan, bukan sarana menyebarkan kebencian. Kementeriannya, kata dia, akan mengambil langkah sesuai ketentuan hukum.

Meutya juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menyebarkan video tersebut. Ia menyinggung sanksi dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Nomor 1 Tahun 2024, khususnya Pasal 27A dan Pasal 28 ayat (2).

Amien Rais Klaim Bagian dari Hak Demokrasi

Amien Rais menyatakan pernyataannya merupakan bagian dari hak demokrasi yang dijamin undang-undang. Ia mengaku memperoleh informasi dari berbagai sumber di media sosial.

Ia menilai ada hal yang tidak biasa terkait peran Teddy Indra Wijaya. Menurut Amien, pengaruh Teddy dalam mengatur akses pejabat ke Presiden dinilai terlalu besar.

“Saya melihat ada sesuatu yang tidak biasa,” ujarnya dalam Munas Partai Ummat di Yogyakarta, Sabtu, 2 Mei 2026.

Amien juga mengaku menerima keluhan dari seorang menteri koordinator yang kesulitan bertemu Presiden karena pengaturan jadwal oleh Teddy.

Ia kemudian menyarankan Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan rotasi jabatan. Menurut Amien, langkah itu penting untuk menjaga wibawa pemerintahan.

Redaksi Energi Juang News

Gempa Pangandaran M4,2 Guncang Pesisir Selatan

Gempa Pangandaran M4,2 Guncang Pesisir Selatan

Energi Juang News, Jakarta – Getaran kembali terasa di wilayah pesisir selatan Jawa Barat pada Selasa pagi. Gempa di pangandaran ini dirasakan Warga di sejumlah daerah melaporkan guncangan ringan yang sempat mengejutkan saat aktivitas baru dimulai.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 4,2 terjadi pada pukul 05.14 WIB. Episentrum berada di laut, sekitar 81 kilometer barat daya Pangandaran, dengan kedalaman 21 kilometer.

Guncangan Terasa di Sejumlah Wilayah

Laporan masyarakat menyebut getaran terasa di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, serta Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Intensitasnya mencapai skala III MMI.

Di wilayah lain seperti Kota Tasikmalaya, Kecamatan Puspahiang, Kota Banjar, dan Kecamatan Cikoneng di Kabupaten Ciamis, getaran berada pada skala II hingga III MMI.

Pada skala tersebut, guncangan umumnya dirasakan di dalam rumah. Benda ringan yang tergantung tampak bergoyang, dan getaran terasa seperti truk melintas.

Penyebab dan Dampak Gempa

Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto, menjelaskan gempa dipicu aktivitas sesar aktif di bawah laut. Hingga laporan terakhir, belum ada kerusakan bangunan yang dilaporkan akibat kejadian ini.

BMKG juga memastikan tidak ada aktivitas gempa susulan hingga pukul 05.37 WIB.

Sehari Sebelumnya Terjadi Gempa M4,0

Sehari sebelumnya, Senin pukul 02.06 WIB, gempa magnitudo 4,0 juga mengguncang wilayah yang sama. Sumber gempa berasal dari perairan selatan, sekitar 66 kilometer barat daya Pangandaran dengan kedalaman 29 kilometer.

Getaran dirasakan di sejumlah kecamatan di Tasikmalaya, Ciamis, Garut, dan Pangandaran dengan intensitas II–III MMI. BMKG menyebut gempa tersebut dipicu aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Eurasia.

Redaksi Energi Juang News

Skandal Cinta Antar Kuwu

Skandal Cinta Antar Kuwu

Energi Juang News, Cirebon – Di sebuah wilayah yang biasanya lebih sibuk membahas harga sembako daripada urusan asmara pejabat, tiba-tiba muncul cerita yang bikin warung kopi mendadak seperti forum debat nasional. Bukan soal pembangunan, bukan pula soal jalan rusak tapi ini soal rasa yang salah alamat.

Cerita bermula dari sosok Bendot, pria berusia 45 tahun seorang kepala desa (Kuwu) yang dikenal lebih sering rapat diluar kota daripada pulang cepat ke rumah. Katanya sih demi rakyat. Tapi rupanya, di sela-sela menyerap program dari kecamatan, ada juga yang terserap… perhatian dari seorang wanita bernama Mince,38 tahun.

Mince sendiri bukan orang sembarangan. Ia adalah istri dari Kasmat,47 seorang kepala desa  tetangga, posisi yang biasanya identik dengan kehormatan, bukan kehangatan yang nyasar ke orang lain.

Karena Kasmat yang lagi sakit, saat ada pertemuan di kecamatan diwakili istrinya,disinilah awal masuknya Bendot ke dalam hidup Mince. “Awalnya cuma ngobrol biasa,” kata seorang warga yang mengaku sering melihat mereka berbincang terlalu lama untuk ukuran ‘biasa’.

Obrolan yang tadinya bahas program pemerintah, lama lama berubah arah berkembang menjadi privat, dari sekadar basa-basi menjadi basa-basi yang ada manis-manisnya. Bendot, yang konon sedang “puasa perhatian” di rumah karena kondisi istrinya Yuli,48,sedang sakit,ia mulai menemukan kembali semangat hidupnya. Sayangnya, semangat itu tidak diarahkan ke tempat yang tak tepat.

Bakat terpendam Bendot soal merayu wanita, mulailah ia melancarkan rayuan demi rayuan ke Mince. Kata-kata manis yang biasanya hanya keluar saat kampanye nyalon kades, kini dipakai untuk urusan hati. Janji yang entah tulus atau sekadar strategi, sukses membuat Mince terlena.

“Namanya juga manusia, kalau sering dikasih perhatian ya luluh juga,” ujar warga lain sambil mengaduk kopi dengan ekspresi sok paham.

Tak butuh waktu lama, hubungan itu berubah dari sekadar ‘teman dekat’ menjadi ‘teman yang terlalu dekat’ sudah tentu ajakan ngamar bareng.

Yang awalnya pertemuan di ruang publik,mereka lanjut acara privat. Bahkan, mereka sempat menginap bersama di hotel berkali kali. Ngapain lagi kalo bukan berbuat mesum. Berhubung servis dan ukuran sentolop Bendot yang memuaskan, setiap ada pertemuan kades kades Mince selalu hadir mewakili suaminya.

Hubungan yang awalnya dianggap “suka sama suka” berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Apalagi ketika Mince mulai menyadari ada perubahan dalam dirinya. Perut yang semakin hari semakin buncit bukan lagi sekadar isu, melainkan kenyataan yang sulit disembunyikan.

Di sinilah cerita mulai masuk babak yang tidak lagi lucu,apalagi pasangan masing masing mulai mengendus perselingkuhan mereka.

Namun Bendot yang seorang kuwu ulung, tentu terlatih dalam hal ‘ngeles’ alias menghindar. Pengakuan yang diharapkan Mince justru berubah menjadi penolakan. Ia berdalih selalu buang keluar, dan ia menolak soal kehamilan tersebut adalah hasil dari hubungan mereka.

Mince, yang mungkin awalnya hanya ingin kepastian, akhirnya memilih jalur hukum. Laporan resmi pun masuk ke pihak kepolisian.

Pihak kepolisian pun membenarkan adanya laporan tersebut.

“Pengaduannya sudah kita terima dan saat ini kita sedang melakukan pendalaman,” ujar salah satu perwakilan, singkat namun cukup untuk membuat publik makin penasaran.

Di sisi lain, mendengar perihal perut buncit Mince, Yuli istri sah Bendot mencak mencak banting piring gelas. Karena merasa jadi pihak yang paling dirugikan dalam kisah ini, ia mentut cerai suaminya. Ironisnya, masalah kesehatan yang dialaminya justru menjadi alasan yang disebut-sebut sebagai awal mula semuanya.

“Kasihan sih, yang setia malah disakiti,” celetuk seorang ibu-ibu yang tampaknya sudah mengambil posisi moral sejak awal.

Kini, yang tersisa adalah pertanyaan: bagaimana akhir dari semua ini?

Satu hal yang pasti, cerita ini sudah terlanjur menjadi konsumsi publik. Dan seperti biasa, publik tidak pernah kehabisan komentar.

Sebuah kisah yang mungkin awalnya terasa manis, tapi berakhir seperti kopi tanpa gula: pahit, dan meninggalkan rasa yang lama di lidah.

Redaksi Energi Juang News