Penulis
Esteria Tamba
Jurnalis, Aktivis
Energi Juang News, Jakarta- Hari Valentine, yang dirayakan setiap 14 Februari, memiliki sejarah panjang yang berakar dari legenda Santo Valentinus.
Menurut beberapa catatan sejarah, Santo Valentinus adalah seorang imam di Roma yang menentang larangan pernikahan bagi prajurit yang diberlakukan Kaisar Claudius II. Ia kemudian dihukum mati pada 14 Februari, yang akhirnya dikenang sebagai Hari Kasih Sayang.
Seiring waktu, Valentine berkembang menjadi hari untuk merayakan kasih sayang, sering kali dikaitkan dengan hubungan romantis.
Namun, di era modern, khususnya bagi Gen Z, makna Valentine tidak lagi terbatas pada hubungan asmara, melainkan juga mencakup konsep self-love atau mencintai diri sendiri.
Sebagai seorang Gen Z, saya merasakan langsung tekanan sosial terkait Valentine. Media sosial penuh dengan pasangan yang berbagi momen bahagia, membuat banyak individu merasa terisolasi jika tidak memiliki pasangan.
Menurut survei dari American Psychological Association (2023), 62% Gen Z merasa cemas dan tertekan akibat ekspektasi sosial, terutama dalam hubungan romantis. Di Indonesia, hasil studi Katadata Insight Center (2022) menunjukkan bahwa 48% anak muda merasa FOMO (Fear of Missing Out) saat melihat unggahan romantis di media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa self-love adalah aspek krusial yang perlu diprioritaskan. Psikolog klinis, Dr. Lisa Damour, menekankan bahwa mencintai diri sendiri bukan berarti egois, tetapi sebuah langkah penting untuk kesehatan mental.
Menghargai diri, menerima kekurangan, dan memprioritaskan kesejahteraan emosional adalah bentuk self-love yang dapat mengurangi stres dan meningkatkan kebahagiaan.
Di Hari Valentine, alih-alih merasa sedih karena tidak memiliki pasangan, Gen Z bisa memanfaatkan momen ini untuk merayakan diri sendiri. Bisa dengan membeli hadiah untuk diri sendiri, menjalani perawatan diri, atau sekadar menikmati waktu berkualitas tanpa tekanan sosial.
Menurut studi Harvard University (2021), individu yang menerapkan self-love memiliki tingkat stres 40% lebih rendah dibanding mereka yang terus-menerus mencari validasi dari hubungan romantis.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi Gen Z saat ini, penting untuk memahami bahwa kebahagiaan tidak hanya bergantung pada hubungan asmara.
Self-love adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan untuk diri sendiri di Hari Valentine, karena dari sanalah kebahagiaan sejati bermula.
Redaksi Energi Juang News



