Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta- Dalam pusaran kebijakan dagang agresif Presiden AS Donald Trump, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar. Tarif timbal balik sebesar 32% terhadap ekspor Indonesia ke AS jelas mengancam sektor industri dan UMKM kita. Inilah saatnya pemerintah mengambil langkah cerdas, bukan hanya bertahan, tapi mengubah krisis menjadi peluang.
Seperti disampaikan oleh Anggota DPR RI, Nasyirul Falah Amru (Gus Falah), strategi historis Bung Karno dalam membangun poros Jakarta-Peking layak dihidupkan kembali. Menurut BPS China saat ini adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dengan nilai ekspor nonmigas sebesar USD 4,29 miliar per Februari 2025. Sinergi ekonomi yang lebih dalam dengan China tidak hanya memperkuat posisi Indonesia secara global, tapi juga mengurangi ketergantungan pada pasar AS yang semakin proteksionis.
Dewan Ekonomi Nasional bahkan mendorong pemerintah untuk segera melakukan negosiasi khusus dengan China dalam menghadapi kebijakan Trump. Artinya, pemikiran ini bukan sekadar retorika politis, melainkan kebutuhan strategis jangka panjang.
Dampak kebijakan tarif Trump terhadap ekonomi Indonesia tidak bisa diremehkan. Tarif ekspor tinggi bisa membuat produk Indonesia tidak kompetitif di pasar AS. Sektor seperti tekstil, furnitur, hingga komponen elektronik bisa terpukul. Jika dibiarkan, ini akan berdampak pada pemutusan hubungan kerja dan melemahnya daya beli masyarakat.
Sebagai masyarakat, kita perlu memperhatikan isu ini karena dampaknya langsung ke ekonomi domestik. Ini bukan hanya soal relasi antarnegara, tapi tentang nasib buruh, petani, dan pelaku UMKM kita. Dalam konteks ini, memanfaatkan momentum untuk memperkuat hubungan dagang dengan China adalah langkah yang patut diapresiasi dan didorong.
Indonesia butuh strategi baru, dan mungkin, jawaban ada pada sejarah kita sendiri. Bung Karno pernah membangun sinergi bersama China sebagai bentuk perlawanan terhadap imperialisme. Kini, poros Jakarta-Beijing bisa menjadi fondasi baru kemandirian ekonomi nasional.
Redaksi Energi Juang News



