Oleh Esteria Tamba
(Aktivis/Penulis)
Youtuber Muhammad Adimas Firdaus Putra Nasihan atau Resbob dipecat secara tidak hormat dari organisasi kemahasiswaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Tindakan tegas GMNI itu muncul menyusul kasus penghinaan Resbob terhadap suku Sunda yang viral di media sosial.
Pemecatan Resbob itu sendiri tertuang dalam surat Dewan Pengurus Komisariat (DPK) GMNI Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) No 038/ Int/DPK.GMNI-UWKS/XII/2025, yang ditembuskan kepada Dewan Pengurus Pusat (DPP) GMNI, Dewan Pengurus Daerah (DPD) GMNI Jawa Timur dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) GMNI Surabaya.
Sejatinya, tindakan GMNI UWKS itu selaras dengan ideologi Marhaenisme dan Pancasila yang menjadi landasan perjuangan organisasi ini.
Dengan memegang teguh Marhaenisme ajaran Bung Karno, konsekuensi logisnya adalah sikap anti rasisme dan anti diskriminasi pasti dimiliki GMNI.
Dalam Marhaenisme, terkandung prinsip Sosio-Nasionalisme. Prinsip ini mengajarkan bahwa nasionalisme ala Marhaenisme bukanlah nasionalisme chauvinistik atau eksklusif, melainkan nasionalisme yang menyatukan seluruh elemen bangsa yang beragam untuk mencapai kemerdekaan nasional dan keadilan sosial.
Karena itu, prinsip ini secara langsung berbenturan dengan rasisme yang memecah belah bangsa berdasarkan kebencian pada suku atau ras tertentu.
Marhaenisme juga berintikan Sosio-Demokrasi, yang menekankan pentingnya demokrasi dalam politik dan juga ekonomi, untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang latar belakang, adalah tujuan akhir yang diharapkan.
Dan rasisme serta diskriminasi adalah antitesis dari keadilan sosial dan demokrasi yang diperjuangkan Marhaenisme.
Pancasila, sebagai falsafah dasar
Marhaenisme pun memiliki nilai-nilai yang bertabrakan dengan rasisme serta diskriminasi. Nilai-nilai itu tampak pada sila ketiga (“Persatuan Indonesia”) dan sila kelima (“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”) yang menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman.
Karena itu, sangat tepat langkah GMNI UWKS memecat kader macam Resbob yang menyimpang dari ideologi organisasi. Hal itu menunjukkan GMNI istikamah dengan Pancasila.
‘Pekerjaan rumah’ selanjutnya bagi GMNI, adalah memastikan proses kaderisasi dalam tubuh organisasinya, tak lagi menghasilkan kader yang menyimpang secara ideologis.
Redaksi Energi Juang News



