Sabtu, Maret 14, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaKetika Masyarakat Adat Terancam Penindasan Berlabel 'Hijau'

Ketika Masyarakat Adat Terancam Penindasan Berlabel ‘Hijau’

Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Seakan tak usai diterpa badai, kini masyarakat adat harus menghadapi badai baru. Badai yang dikemas dengan jargon maupun idiom mulia, namun pada hakikatnya mencelakakan.

Perdagangan karbon‘, ‘ekonomi hijau’, ‘energi hijau’, dan ‘transisi energi’ menjadi badai baru yang mengancam masyarakat adat. Masyarakat Adat kini menghadapi  diskriminasi, bahkan penindasan akibat proyek-proyek yang mengatasnamakan energi hijau.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat, ‘propaganda hijau’ untuk nikel karena dianggap bisa mendorong produksi baterai kendaraan listrik, telah membuat resah komunitas adat di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Di Desa Torobulu, PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) telah melakukan upaya kriminalisasi terhadap puluhan warga dengan tuduhan menghalangi aktivitas penambangan. Padahal, warga menolak tambang karena posisi galiannya semakin dekat dengan pemukiman, serta sumber mata air mereka.

AMAN juga mencatat proyek berlabel hijau lainnya yang mengancam komunitas adat. PLTA Batang Toru di Tapanuli, Sumatera Utara, adalah proyek tersebut.

Proyek ini dipropagandakan sebagai proyek energi terbarukan dengan klaim ‘hijau’. Namun, pembangunan terowongan dan bendungan air dari proyek ini justru mengancam kawasan hutan yang merupakan ruang hidup masyarakat.

Jadi, proyek-proyek hijau itu hanya menambah dahsyat penindasan terhadap masyarakat adat.

Padahal, AMAN telah mencatat adanya 6 juta hektar lahan adat yang tumpang tindih dengan konsesi kebun kayu. Lalu 1,6 juta hektar bersinggungan dengan izin eksplorasi dan eksploitasi migas, serta 0,9 juta hektar bertindihan dengan konsesi pertambangan.

Catatan akhir tahun 2024 AMAN juga menunjukkan, selama 10 tahun terakhir, terdapat 687 konflik agraria dengan 11,07 juta hektar wilayah adat yang terdampak.

Belum sahnya RUU Masyarakat Adat pun menambah parah praktik-praktik penindasan terhadap kaum adat.

Dan praktik-praktik itu, akan terus dialami komunitas adat di tengah ancaman badai berlabel ‘hijau’, bila pemerintah tak segera mengubah haluan.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments