Energi Juang News, Jakarta– Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Istana Kepresidenan Jakarta hari ini (07/05/2025) saat Presiden Prabowo Subianto mengundang delapan konglomerat terkemuka Indonesia untuk berdiskusi mengenai arah pembangunan nasional.
Pertemuan ini menjadi momen penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha demi mewujudkan visi Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi.
Delapan pengusaha yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Anthony Salim (Salim Group), Sugianto Kusuma alias Aguan (Agung Sedayu Group), Prajogo Pangestu (Barito Pacific), Garibaldi Thohir alias Boy Thohir (Adaro Energy), Franky Widjaja (Sinar Mas Group), Dato Sri Tahir (Mayapada Group), James Riady (Lippo Group), dan Tomy Winata (Artha Graha Group). Mereka berasal dari berbagai sektor strategis, mulai dari pangan, properti, energi, keuangan, hingga manufaktur.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasinya terhadap peran serta para pengusaha dalam mendukung berbagai kebijakan pemerintah. “Pertemuan ini mencerminkan upaya pemerintah dalam membangun komunikasi yang erat dengan dunia usaha, guna memastikan stabilitas ekonomi nasional serta menarik investasi yang dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing industri dalam negeri,” ujar Prabowo.
Topik utama yang dibahas meliputi pengelolaan investasi melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), program makan bergizi gratis, pembangunan infrastruktur, penguatan industri tekstil, serta upaya swasembada pangan dan energi. Presiden menekankan pentingnya industrialisasi sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Prajogo Pangestu, salah satu konglomerat yang hadir, menyampaikan pesan optimistis dari Presiden. “Semua pesannya bagus. Indonesia corporated,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Prabowo meminta agar semua pihak, termasuk pengusaha, untuk bekerja sama. “Semua ke depan harus kerja sama. Bersama-sama,” katanya.
Sementara itu, Tomy Winata menyoroti pentingnya penciptaan lapangan kerja dalam pertemuan tersebut. “Menciptakan lapangan pekerjaan ya. Pokoknya penciptaan lapangan pekerjaan,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa masalah pemutusan hubungan kerja (PHK) ke depannya akan selesai dengan penciptaan lapangan kerja. “Ya, itu termasuk supaya ke depan (masalah) PHK selesai,” tambahnya.
Pertemuan ini juga menjadi ajang diskusi strategis antara pemerintah dan dunia usaha mengenai perkembangan ekonomi nasional serta program-program utama yang tengah dijalankan. Diskusi ini diharapkan menjadi sinergi kuat antara pemerintahan dan sektor swasta dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai negara maju dengan ekonomi yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Dengan semangat kolaborasi dan komitmen bersama, pertemuan ini menandai langkah awal yang kuat dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih cerah dan sejahtera.
Redaksi Energi Juang News



