Sabtu, Mei 30, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaBidan, Garda Terdepan yang Masih Terabaikan

Bidan, Garda Terdepan yang Masih Terabaikan

Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta– Setiap tanggal 24 Juni, Indonesia memperingati Hari Bidan Nasional. Namun di balik perayaannya, tersimpan realitas yang sering terlupakan: peran bidan yang sangat vital bagi kesehatan masyarakat, tetapi kerap dihadapkan pada keterbatasan dan tantangan yang berat.

Peran para bidan sangat besar dalam sistem kesehatan Indonesia. Data Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menunjukkan bahwa sekitar 60 persen bayi di Indonesia dilahirkan melalui jasa bidan. Sebagai perbandingan, persalinan yang dibantu oleh dokter kandungan hanya sekitar 5 persen saja. Selebihnya, sebagian masyarakat masih menggunakan jasa non-medis yang tentu berisiko bagi keselamatan ibu dan bayi. Ini menjadi bukti nyata bahwa bidan adalah ujung tombak layanan kesehatan ibu dan anak di Indonesia, khususnya di wilayah perdesaan dan daerah terpencil.

Sayangnya, peran besar ini tidak selalu dibarengi dengan dukungan yang memadai. Berdasarkan data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) per 30 Mei 2024, total tenaga bidan yang bekerja di fasilitas kesehatan pemerintah berjumlah 257.391 orang, dengan sekitar 86 persen bidan ditempatkan di puskesmas. Banyak puskesmas belum memenuhi jumlah ideal tenaga bidan. Daerah rawat inap dan kawasan terpencil seharusnya memiliki setidaknya tujuh bidan sesuai standar Kementerian Kesehatan.

Bidan di daerah tertinggal menghadapi kendala yang kompleks. Mulai dari minimnya sarana dan prasarana, akses transportasi yang sulit, hingga tantangan sosial budaya masyarakat yang terkadang masih mengandalkan praktik persalinan tradisional. Di tengah kondisi seperti ini, bidan tetap menjadi garda terdepan, bahkan sering bertugas seorang diri tanpa dukungan memadai.

Potret ini menunjukkan betapa kesenjangan akses kesehatan di Indonesia masih sangat besar. Kita sering mengklaim diri sebagai negara kaya, namun kekayaan itu tampaknya belum sepenuhnya dialokasikan untuk memastikan hak dasar masyarakat terhadap layanan kesehatan terpenuhi. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi mungkin kekurangan orang yang jujur dan benar-benar peduli pada kesehatan rakyatnya.

Baca juga :  'Hari Mualaf Sedunia': Upaya Merusak Keukunan Umat Beragama

Perjuangan bidan seharusnya tidak hanya dihargai melalui ucapan atau seremoni tahunan. Pemerintah perlu memastikan kebijakan yang konkret, seperti distribusi tenaga yang merata dan peningkatan fasilitas kesehatan. Perlindungan dan kesejahteraan bagi bidan, terutama di pelosok, juga harus diperhatikan.

Kita harus sungguh-sungguh menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kualitas generasi masa depan. Investasi terbesar harus diberikan pada para bidan karena merekalah yang paling dekat dengan masyarakat.

Hari Bidan Nasional harus menjadi momen untuk berhenti sejenak, merefleksikan apakah kita sudah cukup peduli pada para bidan yang selama ini berjuang dalam sunyi. Mereka bukan sekadar “tangan pertama” saat persalinan, tetapi juga penyelamat nyawa, pendidik, dan pelindung generasi masa depan.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments