Berita Energi Juang, Jakarta– Saat malam menjelang di pinggiran kota Solo, suasana menjadi sunyi meski angin membawa desah menyayat hati. Rumah besar yang pernah jadi klinik aborsi bidan itu berdiri terpencil dengan kucing yang mulai mengelupas.
Jalanan sempit dan remang lampu membuat banyak orang ragu melewati kawasan tersebut. Suara alam malam seperti bisik pohon dan desir daun menyatu, memunculkan ketakutan tanpa wujud dan memancing imajinasi. Sekalipun warga pernah membicarakan tentang kejadian mengerikan, sumber kisah ini tidak menyebutnya secara gamblang.
Seorang warga bernama Soni menceritakan pengalaman menakutkan saat berjalan melewati halaman klinik tua itu. “Saya mendengar suara bayi menangis samar, seperti jeritan tercekik,” katanya dengan nada gemetar. Ia juga mendengar erangan makhluk buas seolah berada di dekatnya. Suara itu datang dari dalam rumah—sebuah ruangan yang selama ini dikunci rapat. Rasa takut menghimpit dada, membuat Soni membalikkan badan dan lari terbirit‑birit. Dialog seperti ini sangat wajar di kalangan penduduk sekitar fil area remang.
Warga lain, Tulung, menambahkan bahwa pada malam berbeda, ia melihat sosok berlumuran darah. “Dia mengenakan baju merah penuh noda gelap seperti darah,” ujar Tulung sambil menggigil. Sosok itu seperti menggendong bayi berdarah, dengan tatapan kosong dan membeku. Bahkan di kejauhan, tampak bayangan kepala dan tulang belulang yang menonjol dari lantai kamar mandi klinik. Semua ini membuat suasana mencekam dan sulit dilupakan oleh pelaku penglihatan langsung.
Mbah Sastro, seorang ahli supranatural yang sering dipanggil warga, tiba di lokasi sambil membawa dupa dan lilin. Ia berujar bahwa entitas itu adalah sang bidan yang dulu melakukan aborsi ilegal. Pernyataan itu tidak datang sembarangan karena ia pernah menyelami aura tempat dan menerima pesan mistis. “Ini adalah arwah bidan yang bunuh diri saat aparat gerbek praktiknya,” ucap Mbah Sastro lirih, menandakan bahwa ia sekarang menjadi kuntilanak merah yang tersandera oleh kesalahan masa lalu.
Dalam salah satu malam yang paling menyeramkan, masyarakat sekitar mendengar suara bayi tanpa wujud. Tangisan bayi itu bergema bersamaan dengan erangan makhluk buas yang seolah mengerang lapar atau kesakitan. “Saya merasa ada makhluk yang mendekat, sedangkan suara bayi semakin memekakkan,” kata satu warga sambil menggenggam lengan temannya. Kepanikan menyebar, beberapa orang berlari tak tentu arah. Suasana panik itu semakin memperkuat mitos dan ketakutan warga.
Kisah menjadi lebih mencekam ketika ada laporan anak balita yang hilang dari desa sekitar. Setelah pencarian panjang, bayi itu ditemukan di dalam kamar mandi klinik yang telah lama kosong. Ia ditemukan berbaring di lantai dingin dengan kepala dan tulang belulang manusia di sekitarnya, seakan menemani arwah tak tenang. Keadaan bayi tersebut membuat trauma bagi orang tua dan warga yang melihatnya.
Sejak peristiwa itu, warga menghindari rumah besar tersebut pada malam hari. Lampu penerangan sekitar sering padam secara misterius. Beberapa orang merasakan aura dingin menusuk saat mendekat, bagai sentuhan tangan tak terlihat di leher atau punggung. “Seperti ada yang membisiki dari belakang,” ujar beberapa perempuan yang melintas. Atmosfer mistis itu begitu kuat hingga banyak yang takut membicarakannya terbuka.
Dialog warga menjadi bagian penting dari pengalaman kolektif. Seorang ibu rumah tangga berkata, “Kami tidak berani lewat saat malam. Suara itu membuat kami tidak bisa tidur.” Seorang bapak lain menimpali, “Arwah itu tidak hanya menangis, tapi seperti memanggil nama bidan itu.” Tanpa menyebut keyphrase secara langsung, percakapan warga mengungkap rasa takut yang menular dan atmosfer seram yang menekankan keberadaan arwah dan sosok bernoda merah.
Gambaran arwah kuntilanak merah sungguh menakutkan—sosoknya setengah transparan tapi penuh noda darah, mata hitamnya kosong, dan bayinya tampak menangis meski tanpa bentuk fisik. Tulang belulang yang muncul di lantai adalah simbol kematian dan penyesalan. Kehadirannya seolah menuntut balas atau pengakuan dosa. Bagi banyak orang, kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan peringatan tentang tindakan kejahatan yang berujung pada kutukan mistis.
Akhir tulisan ini menyiratkan bahwa arwah tersebut masih berkeliaran di klinik lama, dan keberadaannya terus memberi efek jera. Meski tak semua percaya, orang yang mengalami sendiri merasa terganggu hingga trauma. Tempat itu kini disegel warga dan dijaga siaga oleh tokoh lokal agar tidak ada orang masuk. Saat malam tiba dan angin menderu, cerita kuntilanak merah bidan aborsi tersandera tetap bergema, membuat siapa pun yang mendengar merinding.
Redaksi Energi Juang News



