EnergiJuangNews,Cikarang- Sebagai Junior, Jaka (25) wajib menjalankan shif malam meskipun saat malam Minggu atau hari besar sekalipun. Sudah menjadi konsekuensi baginya sebagai Perawat untuk tetap berdinas sesuai jadwal.
Jaka memarkirkan motornya di parkiran khusus karyawan, lalu setelah absen, ia bergegas menuju ruang perawat tempat ia bekerja, Ruang Tulip. Lorong demi Lorong ia lewati, hanya ada beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Malam ini Jaka satu shift bersama Rini, Perawat Senior yang 2 tahun lagi memasuki masa pensiun, tentu saja malam ini akan menjadi malam Panjang baginya, apalagi Perawat Rini dikenal dengan sebutan Perawat Sastra, yang selama shift hanya duduk dan menulis catatan medis pasien, dirinya jarang sekali bangkit dari tempat duduknya kecuali untuk pergi ke toilet dan saat menemani visit dokter.
Benar saja setiap kali bel dari keluarga pasien berbunyi, Jaka yang selalu menjadi garda terdepan, mulai dari infus yang macet, mengganti infus yang habis hingga urusan mengganti remote tv.
Pasien kali ini memang tidak terlalu banyak, tak sampai setengah jam, Jaka sudah selesai meracik dan mempersiapkan obat, waktunya Jaka keliling bangsal membagikan obat, seorang diri, sedangkan Reni masih asyik dengan aktivitas menulisnya.
“Permisi, Obatnya nanti diminum, ya!”
“Terima kasih, dok, eh sus, eh mas.” jawab pasien yang bingung ketika melihat di name tag yang dikenakan Jaka bertuliskan Perawat.
Tidak sekali Jaka mendapatkan panggilan “Dok” dari pasien atau keluarga pasien, tapi seakan sulit memberikan pemahaman kepada mereka bahwa dirinya adalah seorang Perawat Laki-laki/male nurse.
“Jaka, nanti jam 1 jangan lupa keliling, ya, pastikan tidak ada infus yang macet, trus infus yang tinggal dikit langsung diganti saja,” ujar Rini.
“Baik, Bu,” jawab Jaka.
Jam dinding menunjukkan pukul 11.30, masih ada beberapa jam sebelum nanti keliling bangsal. Rini mengoles minyak angin di keningnya, Langkah kakinya tidak seperti perawat berusia 25 tahun, ia adalah perawat senior yang diberikan umur panjang sehingga masih bisa bekerja, bahkan shift malam pun ia rela lakoni, meski hal ini akan mengganggu jam tidurnya.
Jam masih menunjukkan pukul 12.30, Rini yang baru saja menyelesaikan administrasinya, buru-buru memasuki ruang perawat untuk tidur.
Jaka yang sudah mulai mengantuk, memutuskan untuk keliling bangsal dan checking pasien, karena ini merupakan shift malam pertamanya, tentu saja dia perlu mengingat berbagai ruangan.
Terdapat 6 kamar di bangsal Tulip, mulai dari Tulip 1 hingga Tulip 6, pasien di sini mayoritas berisi pasien dewasa lansia, dari usia 50-78 tahun.
Jaka melangkahkan kaki melewati lorong dengan iringan gemericik air mancur dari kolam, sesekali ada suara burung yang terbang mengiringi langkah Jaka menuju kamar Tulip 1, lampu taman memancarkan sinar redup, sepertinya meminta untuk diganti bohlamnya.
Di kamar Tulip 1 terdapat 2 pasien yang sudah terlelap, keluarga pasien juga sudah tertidur dengan pulas, seakan menggambarkan kelelahan tak terkira dalam menjaga keluarganya yang sakit.
“Infusan masih aman sampai Pagi,” gumamnya.
Lalu, Jaka menuju kamar Tulip 2, hanya ada 1 pasien laki-laki di kamar tersebut, dan mengaku tak bisa tidur, katanya sering denger suara kran dari kamar mandi.
“Di kamar mandi sering muncul suara air dari kran, mas, setelah dicek, kran-nya mati dan lantai nggak basah,” ujar Pasien.
“Oh, mungkin Bapak sedang halusinasi,” jawab Jaka singkat.
“Beneran, Mas. Makanya kalau bisa saya minta pindah kamar saja, di sini horror,” ujar Pasien.
“Baik, nanti saya cek kamar yang lain, ya,” jawab Jaka.
Setelah Jaka keluar dari kamar Tulip 2, dirinya mendengar ada suara bel tanda pasien butuh pertolongan Perawat, namun tak lama Rini masuk di ruangan Tulip 5, bel pun mati.
“Syukurlah, Ibu Tua itu mau bangun,” bathin Jaka yang tengah melanjutkan checking ke seluruh ruangan.
Lalu sampailah Jaka di kamar Tulip 6, ada 4 pasien di sana, di mana seluruhnya dalam keadaan tidur lelap.
Setelah keluar dari Tulip 6, Jaka melewati ruang Tulip 5 dan mendapati pintu masih terbuka, lalu Jaka melihat ada Seorang Kakek yang terpasang Infus ditemani Wanita tua mungkin Istrinya, sang kakek sudah sangat sepuh sang nenek juga sama sepuhnya, keduanya sama-sama memiliki rambut beruban.
“Belum tidur, Pak, Bu?” tanya Jaka
Kedua pasien di ruang Tulip 5 itu hanya diam saja, sambil tersenyum, senyuman yang datar, yang jika dilihat terus menerus justru memunculkan kesan seram. Wajah kaku dan datar seolah menggambarkan mereka hidup dimasa lalu.
Jaka bingung melihat kedua lansia tersebut, kelihatannya sudah sehat, tapi seakan tak mau bersuara. Akhirnya Jaka hanya membalas senyuman dari kedua lansia tersebut. Dari kejauhan Jaka melihat Infus dari pasien di ruang Tulip tersebut tinggal sedikit.
“Oke nanti saya ganti Infusannya, ya?” Jawab Jaka.
Kedua pasien lansia itu hanya mengangguk dengan senyuman yang tak berubah, garis senyum layaknya tokoh Joker saat berhasil membuat Batman kewalahan. Aroma pengap kamar pasien tiba tiba berubah anyir aroma mayat yang sudah membusuk.
Saat Jaka berjalan menuju ruang perawat, dirinya justru melihat Rini keluar ruang perawat menuju arah laborat, padahal tak ada program cek laborat yang harus segera dilakukan. Toh kalaupun ada, Rini pasti akan memerintahnya.
Setelah masuk ruang perawat, Jaka terkaget saat mengetahui bahwa ternyata Rini sedang tertidur pulas dan mengorok di ruang perawat dengan sangat nyaring. Lantas Jaka membatin, siapa tadi yang ia lihat menuju ruang laborat?..
Rasa penasaran bercampur ketakutan membuat bulu kuduk merinding. Jaka segera berpindah ruang merokok, untuk menghilangkan pikiran macam macam. Keesokan pagi Rini dikabarkan meninggal dirumahnya dengan leher terlilit selang selang infus.
Akhirnya semua pihak menanyakan apa yang terjadi di rumah sakit itu, Rini yang tadinya sehat tiba tiba meninggal tanpa sebab. Dari hasil laboratorium, didalam tubuh Rini terdapat banyak zat aktif yang hanya boleh diminum orang dengan gangguan jantung.
Pengalaman seram malam malam dirumah sakit itu, akhirnya membuat Jaka ingin segera resign dari rumah sakit itu.
Redaksi Energi Juang News



