Oleh : Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan meluncurkan kereta khusus untuk petani dan pedagang. Kereta rencananya akan mengangkut hasil produksi pertanian dari pusat produksi ke pusat niaga.
Kereta yang bertujuan meningkatkan perekonomian desa sekaligus mengurangi urbanisasi itu, menargetkan petani dan pedagang yang berangkat mulai pukul 04.00 WIB dari berbagai stasiun asal di daerah Banten maupun Jawa Barat.
Kemudian kereta akan berhenti di stasiun yang dianggap strategis di Jakarta dan sekitarnya seperti Sudimara, Kebayoran, Palmerah, dan Tanah Abang, untuk menurunkan barang dagangan.
Sejatinya, kereta khusus petani dan pedagang ini memang dibutuhkan untuk menekan ongkos logistik. Karena faktanya, selama ini komoditas pertanian kebanyakan diangkut lewat jalur darat non-kereta yang relatif mahal dan memakan waktu agak lama.
Hal itu menyebabkan, ongkos logistik membengkak dan harga komoditas naik.
Karena itulah, kereta khusus ini bisa menjadi solusi bagi distribusi.
Efisiensi karena kemampuan mengangkut dalam volume yang banyak, serta waktu tempuh yang cepat, akan terwujud. Dengan begitu biaya ongkos akan lebih murah.
Dan efisiensi ini akan membuat penghasilan para petani berpotensi meningkat.
Selama ini, sebelum adanya kereta khusus petani dan pedagang, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mencatat omzet harian petani dan pedagang berkisar Rp 250.000–Rp 800.000. Sementara pendapatan bersih mereka minimal Rp 100.000. Bila kereta khusus ini terrealisasi, penghasilan ini bisa meningkat karena biaya distribusi terreduksi.
Yang juga perlu diingat, kereta khusus ini memungkinkan integrasi moda transportasi, dari kereta hingga angkutan lain di kota. Hal itu membuat alur distribusi ini memperkuat perekonomian lokal. Dengan demikian, perputaran ekonomi dari desa ke kota pun terjadi.
Sudah seharusnya solusi ini disegerakan. Para petani dan pedagang, yang dikategorikan oleh Bung Karno sebagai Marhaen, memang harus mendapat privilege (hak istimewa) dari negara.
Sebab kaum Marhaen ini sejatinya penopang perekonomian negara. Dan kereta Marhaen yang digagas KAI ini, adalah salah satu manifestasi privilege itu.
Redaksi Energi Juang News



