Selama tiga dekade, virus Hanta diam-diam bercokol di Indonesia tanpa pernah benar-benar menjadi “pusat perhatian” nasional. Laporan Nurhayati Lukman (INA-Respond, 2019) membuktikan antibodi virus ini telah ditemukan pada manusia sejak 1980-an. Penelitian Wibowo (Puslitbang Biomedis, 2010) bahkan menunjukkan prevalensi antibodi pada tikus di kota pelabuhan seperti Semarang, Makassar, hingga Maumere mencapai 40 persen, dan pada manusia hingga 28,9 persen.
Namun, hingga 2026, kita baru mencatat 23 kasus dengan case fatality rate (CFR) 13 persen. Pemerintah seolah bertepuk sebelah tangan: mengakui keberadaan virus, tetapi tetap memperlakukan wabah ini seperti fenomena gunung es tampak kecil di permukaan, raksasa di bawah sadar.
Ironisnya, negeri ini terus memuja mantra “mencegah lebih baik dari mengobati” di setiap spanduk seminar kesehatan, tetapi abai pada akar ekologis penyakit. Virus Hanta bukan sekadar masalah tikus. Ia adalah sinyal alarm bahwa hubungan antara manusia, satwa liar, lingkungan, dan sistem produksi pangan sedang mengalami dislokasi parah.
Perubahan iklim mengubah pola hujan dan suhu, tetapi yang lebih determinan adalah perubahan ketersediaan makanan dan habitat tikus. Ketika sampah membusuk di drainase kota dan permukiman padat tak terkelola, kita sedang merancang sendiri ledakan populasi Rattus norvegicus.
Posisi Indonesia sebagai wilayah studi zoonosis di Asia Tenggara semestinya membanggakan. Namun menjadi laboratorium alam tanpa kebijakan adaptif hanya akan mengubah kita menjadi kantong episentrum.
Kasus di Maumere yang mencapai prevalensi 28,9 persen tidak boleh dibaca sebagai keunikan epidemiologis, melainkan kegagalan tata ruang ekologis. Pemerintah masih keras kepala memaksakan ekspansi lahan pertanian masif yang memperbesar kontak manusia-satwa liar, seraya melanggengkan sistem ekstraktif yang menguras sumber daya.
Saatnya berhenti menghias laporan tahunan dengan program one health yang hanya basa-basi. Virus Hanta memberi pelajaran pahit: Kota yang dipenuhi tikus adalah cermin kebijakan yang memperlakukan lingkungan sebagai tempat pembuangan akhir, bukan ruang hidup bersama.
Jika kita serius pada konsep “mencegah”, maka tidak ada pilihan selain berani beralih ke green economy dan pendekatan cultural economy. Budaya sebagai industri transmedia storytelling, nilai pengetahuan lokal, kearifan ekologis adalah kekayaan yang tidak akan habis dieksploitasi, tidak akan merusak habitat, tetapi justru memperkuat peradaban.
Jika tidak, maka kita hanya akan terus menjadi negara dengan slogan pencegahan terbaik, tetapi angka kematian virus Hanta tertinggi kedua di Asia Tenggara sebuah predikat yang tak perlu dibanggakan.
Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Mahasiwa)
Redaksi Energi Juang News



