Badan Meteorologi Dunia (WMO) telah memberi peringatan dini: El Nino diprediksi datang paling cepat Mei-Juli 2026. Bahkan, para ilmuwan mendeteksi anomali suhu yang terjadi “dengan cepat” di Samudra Pasifik. Meski WMO ogah menyebutnya “super”, fakta bahwa model iklim global kuat mengindikasikan kelahiran El Nino yang kuat seharusnya menjadi lonceng tanda bahaya bagi Indonesia.
Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan sekaligus agraris, kita berada di garis depan. Laut kita adalah kolam raksasa yang menyimpan panas, sementara daratan kita adalah lahan subur yang sangat bergantung pada air. Ketika El Nino datang, ia bukan sekadar musim kemarau biasa. Ia adalah “pengering raksasa” yang mampu mengubah hujan menjadi abu, dan ladang menjadi padang tandus.
Namun, ancaman terbesar bukan hanya kekeringan pada padi. Ada dua “hantu” lama yang selalu membayangi Indonesia setiap kali El Nino datang: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis pangan.
Ingatlah 2015 dan 2019. Saat El Nino memicu kemarau panjang, lahan gambut yang kering bagaikan bubuk mesiu. Sedikit kelalaian, wilayah Sumatera dan Kalimantan berubah menjadi zona inframerah. Asap lintas batas mengganggu kesehatan, melumpuhkan ekonomi, dan membuat Indonesia menuai kecaman dunia. Dengan prediksi bahwa El Nino 2026 akan bertahan hingga akhir tahun, kita memiliki jendela waktu yang sempit untuk bersiap.
Pertanyaannya, bagaimana Indonesia menangani hal ini?
Pertama, hentikan gaya “reaktif” yang sudah-sudah. Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan Manggala Agni harus sudah dalam posisi siaga penuh sejak sekarang. Bukan menunggu api membesar baru bergerak. Lakukan pembasahan lahan gambut secara masif, perketat patroli, dan beri sanksi tegas bagi siapa pun yang membuka lahan dengan cara membakar. El Nino bukan alasan untuk gagal; ia adalah alasan untuk bekerja lebih ekstra.
Kedua, sektor pertanian harus bertransformasi. Kementerian Pertanian perlu segera mendistribusikan pompa air, mengoptimalkan irigasi tadah hujan, dan mendorong penanaman varietas padi tahan kering. Kita tak bisa terus menggantungkan harapan pada hujan yang sedang “mogok”. Indonesia harus memastikan lumbung pangan tidak kosong saat tetangga lain (seperti Australia dan Amerika Selatan) justru kebanjiran.
Ketiga, edukasi dan komunikasi risiko. WMO saja menyebut prediksi akan lebih akurat setelah April, tetapi keputusan harus diambil sekarang. BMKG harus terus menggaungkan peringatan dini ini ke level desa. Petani dan masyarakat nelayan perlu tahu: ini bukan tahun untuk “coba-coba”.
El Nino adalah ujian periodik bagi ketahanan iklim Indonesia. Dengan laut yang menghangat dan atmosfer yang tak bersahabat, kita hanya punya dua pilihan: bersiap atau terlambat. Jangan biarkan El Nino datang sebagai “anak laki-laki” (artinya dalam bahasa Latin) yang nakal dan merusak rumah kita sendiri. Mari buktikan bahwa sebagai bangsa bahari dan agraris, kita lebih cerdas dari iklim.
Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)



