Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaSaat Keluarga Jadi Tempat Terluka

Saat Keluarga Jadi Tempat Terluka

Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News,Jakarta- Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang semestinya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi setiap anggotanya, khususnya anak-anak. Namun, realitas di Indonesia menunjukkan kondisi yang jauh dari ideal.

Data terkini dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengindikasikan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih menjadi persoalan serius yang terus meningkat, sehingga keluarga belum sepenuhnya berfungsi sebagai ruang aman bagi anak.

Sepanjang tahun 2024, tercatat 31.947 kasus kekerasan di Indonesia, meningkat sebesar 55,8 persen dibandingkan tahun 2020. Bahkan, pada periode 1 Januari hingga 13 Mei 2025, KPPPA telah menerima laporan sebanyak 8.772 kasus kekerasan.

Lebih memprihatinkan, 61,7 persen dari kasus kekerasan pada tahun 2025 terjadi dalam lingkungan rumah tangga. Angka ini meningkat secara konsisten dari 59,4 persen pada tahun 2020 dan 60,6 persen pada tahun 2024. Data ini menggarisbawahi fakta bahwa keluarga, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan kasih sayang, justru menjadi sumber trauma dan kekerasan bagi banyak anak dan anggota keluarganya.

Kekerasan dalam keluarga tidak hanya memberikan dampak fisik yang nyata, tetapi juga meninggalkan luka psikologis mendalam bagi anak-anak yang menjadi saksi maupun korban.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan kekerasan berpotensi mengalami gangguan perkembangan mental dan emosional, yang pada jangka panjang dapat menghambat kemampuan mereka membangun hubungan yang sehat dan berkontribusi secara positif di masyarakat. Trauma masa kecil ini sering kali menciptakan siklus kekerasan yang berulang lintas generasi.

Fenomena tingginya kasus kekerasan dalam keluarga juga berkorelasi dengan perubahan mindset generasi muda di Indonesia, khususnya dalam hal pernikahan dan memiliki keturunan.

Baca juga :  Rakyat Terusir Dari Tesso Nilo: Manifestasi Kapitalisme Negara

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya peningkatan jumlah anak muda, terutama dari generasi Z dan milenial, yang memilih hidup tanpa menikah atau menjadi child free. Pilihan ini tidak semata didasari oleh alasan ekonomi atau karier, melainkan juga oleh ketakutan dan trauma yang dipicu oleh pengalaman kekerasan keluarga atau ketidakpastian dalam membangun keluarga yang sehat.

Memahami permasalahan ini, menjadi sangat penting untuk mengupayakan perubahan sistemik yang dapat mendukung terbentuknya keluarga ideal—keluarga yang bukan hanya stabil secara finansial, tetapi juga harmonis secara emosional dan bebas dari kekerasan.

Keluarga ideal adalah keluarga yang mampu menyediakan lingkungan aman, kasih sayang yang konsisten, serta komunikasi terbuka antara semua anggota keluarga. Hal ini sangat krusial agar anak-anak dapat tumbuh dengan rasa aman dan mendapatkan pengasuhan yang sehat.

Pencegahan kekerasan dalam rumah tangga harus menjadi prioritas bersama, baik dari sisi kebijakan publik, pendidikan keluarga, maupun peran masyarakat. Program-program intervensi yang mengedukasi orang tua tentang pola pengasuhan positif dan manajemen konflik yang sehat harus lebih digalakkan. Selain itu, perlu ada peningkatan akses bagi korban kekerasan untuk mendapatkan perlindungan dan pemulihan psikologis yang memadai.

Bagi generasi muda, kesadaran untuk membangun keluarga yang sehat dan aman harus mulai ditanamkan sejak dini. Memperbaiki mindset masyarakat terkait peran dan fungsi keluarga sangat penting agar keluarga tidak lagi menjadi sumber ketakutan, melainkan sumber kekuatan dan harapan. Menjadikan keluarga sebagai ruang aman bagi anak bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga komitmen kolektif bangsa untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Hari Keluarga Internasional merupakan momentum penting untuk mengingatkan kita semua akan pentingnya peran keluarga sebagai tempat berlindung dan berkembangnya generasi penerus. Dengan kesadaran dan tindakan nyata, kita bisa memastikan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan rumah yang aman dan penuh cinta.

Baca juga :  Terbongkarnya Beras Oplosan: Momentum Hancurkan Sistem Oligopoli

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments