Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Presiden Prabowo dan segenap jajaran pemerintah Republik Indonesia (RI) menghadiri Saint Petersburg International Economic Forum 2025 di St. Petersburg, baru-baru ini. Kehadiran mereka untuk memenuhi undangan khusus dari Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dari momentum itu, disepakati berbagai kerja sama atau kemitraan antara Indonesia dan Rusia. Salah satunya adalah penyelesaian Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–Eurasian Economic Union (I–EAEU FTA).
Pasca bergabungnya Indonesia secara resmi dengan BRICS, sebuah organisasi yang terdiri atas Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan pada 6 Januari 2025, sinergi Indonesia dengan negara-negara BRICS, termasuk Rusia kian kuat.
Selain menjadi anggota BRICS, Indonesia juga resmi mengumumkan bergabung dengan New Development Bank (NDB) pada 25 Maret 2025.
NDB merupakan bank pembangunan multilateral yang didirikan oleh negara-negara BRICS untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang. NDB juga fokus pada pembangunan untuk melawan kemiskinan.
Sejatinya, BRICS maupun NDB bisa menjadi instrumen bagi negara-negara berkembang atau dunia ketiga untuk mencapai kesejahteraan.
Lebih dari itu, BRICS juga seharusnya bisa menjelma menjadi wadah kemerdekaan sejati bagi dunia ketiga. Kemerdekaan yang juga terwujud dalam keberdikarian ekonomi, terlepas dari ketergantungan apalagi penjajahan.
BRICS seharusnya membawa spirit kemerdekaan sebagaimana yang dikobarkan Sukarno melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) dan Nefo (New Emerging Forces). Sebagaimana diketahui, pada tahun 1955 Sukarno menjadikan KAA wadah bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika melawan kolonialisme dan imperialisme.
Kemudian, pada 1961 Sukarno menggelorakan semangat Nefo. Nefo merupakan representasi kekuatan baru yang sedang berkembang yakni negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin yang berusaha bebas dari neo-kolonialisme dan imperialisme atau nekolim.
Dalam konteks kekinian, spirit KAA dan Nefo yang mengusung api kemerdekaan sejati juga harus menjadi ‘nyawa’ dalam BRICS.
Indonesia harus membawa spirit anti penjajahan dalam BRICS. Dengan demikian BRICS bisa menjadi wahana untuk membangun tata dunia baru yang berbasiskan pada kemerdekaan dan kesetaraan, bukan dominasi apalagi penjajahan.
Redaksi Energi Juang News



