Oleh: Iranto
(Aktivis, Social Media Specialist)
Energi Juang News, Jakarta-Di antara banyak simpul pemikiran Islam modern di Indonesia, Ciputat menempati posisi yang istimewa. Bukan hanya karena keberadaan kampus-kampus seperti UIN Syarif Hidayatullah yang melahirkan para pemikir kritis, tetapi juga karena perannya sebagai rahim bagi lahirnya sebuah model Islam rasionalis yang mencoba mendamaikan tradisi dengan modernitas, teks dengan konteks, wahyu dengan akal. Dalam ruang ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi salah satu aktor utama yang membentuk wajah intelektual Ciputat sekaligus menjadi laboratorium gagasan Islam progresif.
Ciputat sebagai Ruang Dialektika
Ciputat bukan hanya wilayah administratif di pinggiran Jakarta. Ia adalah “ruang tafsir” bagi mahasiswa, aktivis, dan akademisi Islam yang menggali ulang makna keislaman dalam konteks kebangsaan. Di sini, ruang diskusi dan perdebatan berkembang tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di lorong-lorong asrama, warung kopi, hingga mimbar-mimbar diskusi organisasi kemahasiswaan.
Salah satu ciri khas dari Ciputat adalah keberanian membongkar dogma. Para tokoh seperti Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, dan Harun Nasution adalah produk dari semangat intelektual yang lahir dari semesta Ciputat. Mereka mengusung gagasan Islam rasionalis—Islam yang bersedia membuka pintu bagi kritik, rasionalitas, dan pembaruan.
Islam Rasionalis dan Semangat Pembebasan
Islam rasionalis bukanlah sekadar pendekatan akademik; ia adalah praksis. Dalam arus pemikiran ini, Islam tidak dilihat sebagai doktrin mati, tetapi sebagai sistem nilai yang dinamis dan terus berkembang. Keberanian untuk memisahkan antara yang sakral dan yang profan menjadi pijakan awal bagi sebuah pembacaan baru terhadap teks-teks suci yang kontekstual.
Pandangan ini jelas tidak selalu diterima secara utuh, bahkan seringkali dicap sebagai liberal atau sesat. Namun, dalam banyak hal, Islam rasionalis justru mampu menawarkan solusi bagi problem keagamaan yang kaku dan sering kali bersifat eksklusif.
Peran HMI dalam Dinamika Pemikiran Ciputat
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi pilar penting dalam perkembangan Islam rasionalis di Ciputat. Sejak era reformasi hingga kini, HMI Ciputat dikenal sebagai “kawah candradimuka” bagi para aktivis yang tidak hanya fasih dalam retorika perjuangan, tapi juga mendalam dalam literatur pemikiran Islam.
Melalui Komisariat dan Lembaga Kaderisasi, HMI Ciputat merumuskan proses penggodokan kader yang tidak hanya mengandalkan militansi, tetapi juga kecakapan intelektual. Diskusi-diskusi tentang teologi pembebasan, maqashid syariah, hermeneutika Alquran, hingga relasi Islam dan demokrasi menjadi makanan sehari-hari. Bagi HMI, menjadi aktivis bukan sekadar turun ke jalan, tapi juga berpikir tajam dan reflektif.
Di Ciputat, banyak kader HMI yang kemudian tampil sebagai intelektual publik, akademisi, bahkan tokoh gerakan sosial. Warisan dari HMI tidak semata pada struktur organisasinya, tetapi pada gagasan-gagasan yang dilahirkan oleh interaksi intelektual yang intens.
Tantangan Ke Depan: Menjaga Akal Sehat dan Ruh Perubahan
Namun tantangan besar kini hadir di tengah komersialisasi pendidikan dan menguatnya arus populisme agama. Rasionalitas sering dikalahkan oleh retorika populis. Spirit kritis dipaksa tunduk pada loyalitas kelompok. Bahkan dalam tubuh organisasi Islam itu sendiri, ada gejala pembusukan yang menjadikan ruang diskusi berubah menjadi ruang dogma dan kepentingan politik jangka pendek.
Maka, semangat Ciputat dan model Islam rasionalis harus terus dijaga dan dirawat. HMI sebagai lokomotif kaderisasi mahasiswa Islam tidak boleh tercerabut dari akar intelektualnya. Ia harus tetap menjadi ruang penggodokan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cakap secara politik, tetapi juga tajam secara pemikiran.
Redaksi Energi Juang News



