Selasa, September 1, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaPengibaran Bendera Israel oleh Merince Kogoya: Mari Memahami Bukan Menghakimi

Pengibaran Bendera Israel oleh Merince Kogoya: Mari Memahami Bukan Menghakimi

Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Nasib malang dialami finalis Miss Indonesia 2025 dari Papua Pegunungan, Merince Kogoya. Putri Papua itu dikeluarkan dari ajang kecantikan tersebut lantaran jejak digitalnya yang mengibarkan bendera Israel dua tahun lalu mencuat ke permukaan.

Merince pun dipulangkan dari karantina ajang ini. Banyak masyarakat atau netizen yang setuju terhadap keputusan ini. Namun, ada juga beberapa kalangan yang menilai dikeluarkannya Merince dari ajang Miss Indonesia hanya karena pengibaran bendera Israel, sebagai berlebihan. Bahkan, ada yang menilainya sebagai keputusan diskriminatif.

Lantas, bagaimana sebetulnya pandangan hukum di negeri terhadap pengibaran bendera Israel?

Satu-satunya regulasi yang mengatur hal itu adalah Peraturan Menteri Luar Negeri (Permenlu) RI Nomor 3 tahun 2019 tentang Panduan Umum Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah.

Dalam peraturan tersebut diterangkan bahwa pengibaran atau penggunaan bendera, lambang, dan atribut lain dari negara Israel di wilayah Indonesia, dilarang. Selain itu, lagu kebangsaan Israel pun tak boleh dikumandangkan di wilayah Indonesia.

Jadi, dikeluarkannya Merince Kogoya dari ajang Miss Indonesia 2025, mungkin bisa dipahami. Apalagi, sentimen anti Israel di masyarakat Indonesia sangat besar.

Hal itu terkonfirmasi dari hasil survei lembaga Median, yang mengungkapkan mayoritas Warga Negara Indonesia (WNI) tak setuju jika RI memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dari 907 responden yang terlibat dari 38 provinsi, sebanyak 74,9% responden menyatakan sebaiknya RI tidak pernah membuka hubungan diplomatik atau mengakui Israel.

Sehingga, tak aneh bila banyak netizen yang setuju Merince ‘ditendang’ dari ajang tersebut, setelah yang bersangkutan ketahuan mengibarkan bendera Israel.

Namun, bagaimana bila kita menelaah tindakan Merince itu dari sisi lain?
Tepatnya dari aspek sosial-budaya.

Baca juga :  Tragedi Tapanuli-Sibolga: Hasil 'Pemerkosaan' Alam Oleh Pemerintah dan Pengusaha

Kita harus memahami, bahwa pengibaran bendera itu dilakukan oleh Merince sebagai orang Papua. Dan bukan rahasia lagi, bila fanatisme banyak orang Papua terhadap Israel itu sangat tinggi.

Mengapa?

Pertanyaan ini bisa dijawab dari perspektif budaya dan agama.

Bagi orang Papua yang mayoritas penganut agama Kristen, bendera berlambang Bintang Daud bukan sekadar bendera negara Israel, tapi juga simbol Israel sebagai bangsa terpilih Tuhan. Yang dari bangsa keturunan Daud inilah, lahir Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang diimani umat Kristen.

Dan yang perlu diketahui, sebagaimana pernah diungkapkan oleh tokoh aktivis Papua yang kini menjadi Menteri HAM Natalius Pigai dalam artikelnya “Pengibaran Bendera Israel di Papua” (2018), paradigma kekristenan yang berkembang dalam alam pikir banyak orang Papua adalah cara pandang mesianistik.

Hal ini tak terlepas dari gerakan mesianistik yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad di tanah Papua. Dari gerakan ini, lahir setumpuk hikayat, mitologi, maupun cerita rakyat yang hampir menyerupai kisah perjalanan bangsa Israel seperti ketika mereka lolos dari penindasan Mesir, hingga kehadiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat dari garis keturunan Daud.

Perjalanan panjang masyarakat Papua yang sedari dulu tak usai didera kemalangan, kemiskinan, ketertinggalan bahkan penindasan seakan menemukan ‘penghiburan’ dan harapan dari riwayat bangsa Israel yang juga kerap dirundung kepedihan.

Jadi, bisa dimengerti, mengapa fanatisme banyak orang Papua terhadap Israel yang termanifestasi dalam simbolisasi Bendera Bintang Daud begitu tinggi.

Satu hal lagi, yang muncul dari paradigma Kristen Mesianistik di Papua, yakni keyakinan dalam diri banyak orang Papua bahwa mereka adalah salah satu dari sepuluh suku bangsa Israel yang hilang.

Fanatisme terhadap Israel bisa dilihat dari gerakan komunitas Sion Kids of Papua atau Pergerakan Anak-anak Sion Papua. Ketika komunitas ini mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani, bendera Bintang Daud tak pernah ketinggalan dibawa dan dikibarkan oleh para jemaat komunitas ini.

Baca juga :  Proyek Vila Pulau Padar: Komersialisasi Yang Merusak Alam

Maka, pengibaran bendera Bintang Daud oleh Merince Kogoya maupun orang-orang Papua lainnya sebaiknya tidak hanya dilihat dari sudut pandang politik saja. Apalagi, sudut pandang itu berbasiskan keberpihakan ‘hitam-putih’ dalam konflik Israel dan Palestina.

Keyakinan Merince dan banyak orang Papua, beserta segenap manifestasinya, harus juga dicerna dari perspektif sosio-kultural serta agama. Hal ini penting agar terhadap pandangan kebudayaan masyarakat lain, kita tak semata bisa menghakimi, tapi juga mampu memahami serta bertoleransi.

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments