Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta– Setiap tahun, ribuan mahasiswa merayakan kelulusan dengan toga dan ijazah di tangan, penuh harapan akan masa depan yang cerah. Namun setelah euforia itu reda, banyak dari mereka justru menghadapi kenyataan pahit: sulit mendapatkan pekerjaan. Ironis, sebab gelar yang seharusnya menjadi tiket menuju karier justru terasa seperti beban. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan universitas mencapai 6,3%, lebih tinggi dibanding lulusan SMA maupun SMP. Angka ini menjadi alarm keras: kita sedang menghadapi fenomena pengangguran terdidik.
Apa sebenarnya yang keliru dalam sistem kita? Jawabannya bukan sekadar soal minimnya lapangan kerja, tetapi lebih kepada ketidaksesuaian antara kemampuan lulusan dengan kebutuhan pasar kerja. Dunia kerja berkembang sangat cepat, sementara sebagian besar institusi pendidikan tinggi masih berjalan dalam ritme yang lambat, mengandalkan teori, dan kurang membuka ruang praktik. Akibatnya, banyak lulusan yang tidak siap secara keterampilan, bahkan untuk pekerjaan yang tersedia.
World Economic Forum (2023) memperkirakan bahwa 44% keterampilan tenaga kerja global perlu diperbarui dalam lima tahun ke depan. Ini seharusnya menjadi alarm bagi lembaga pendidikan tinggi untuk lebih gesit dan adaptif terhadap kebutuhan industri. Sayangnya, masih banyak kampus yang menawarkan jurusan dengan prospek kerja terbatas atau tanpa dukungan pelatihan praktis yang kuat.
Di sisi lain, dunia industri tak kekurangan lowongan kerja. Coba tengok job portal seperti Karirhub Kemnaker, Diploy, Jobstreet, hingga Linkedin. Ada ribuan posisi terbuka di bidang teknologi digital, energi bersih, industri kreatif, dan sektor hijau. Namun, mayoritas lulusan tidak bisa mengisi posisi itu karena mereka belum memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Terjadi gap yang nyata antara potensi dan kesiapan.
Masalah ini tentu tak bisa hanya ditimpakan kepada individu pencari kerja. Tapi bukan berarti kita tidak bisa berbenah. Setiap lulusan perlu menyadari bahwa dunia kerja bukan menunggu kita, melainkan kita yang harus mengejarnya. Langkah pertama adalah memperbarui keterampilan baik lewat kursus daring, pelatihan teknis, atau sertifikasi profesional. Magang juga penting, karena tak hanya memberi pengalaman kerja tetapi juga memperluas jaringan dan meningkatkan kepercayaan diri.
Lebih dari itu, mahasiswa dan lulusan juga perlu mengubah pola pikir. Bukan hanya menjadi job seeker, tapi berani menciptakan peluang menjadi job creator. Dunia kewirausahaan menawarkan alternatif yang menjanjikan jika disertai dengan ketekunan dan inovasi. Bahkan dalam keterbatasan, banyak anak muda membuktikan bahwa bisnis kecil bisa tumbuh besar dengan strategi dan keberanian.
Namun, tentu pemerintah juga punya peran penting. Program pelatihan kerja, job fair, inkubator bisnis, hingga kemitraan pendidikan-industri harus terus diperluas dan disinergikan. Jangan sampai potensi generasi muda kita terbuang hanya karena sistem yang tak mampu menyiapkan mereka untuk realita dunia kerja.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan titik awal. Gelar memang penting, tapi tanpa keterampilan dan kemauan untuk terus belajar, ia tak akan membawa jauh. Maka saat ini, yang lebih dibutuhkan bukan sekadar ijazah, tapi kemampuan beradaptasi dan semangat untuk terus berkembang.
Redaksi Energi Juang News



