Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)
Fenomena meningkatnya jumlah anak muda Indonesia yang memilih untuk bekerja atau magang di luar negeri kini semakin nyata. Lewat program SDUWHV Australia, tercatat hampir 27 ribu pemohon ikut memperebutkan kesempatan langka ini pada 15 Oktober 2025 meski antusiasme besar itu juga diikuti banyak kendala teknis. Data resmi juga menunjukkan, hingga Desember 2023, sebanyak 74.387 peserta magang Indonesia berada di Jepang angka yang meningkat lebih dari 60% dibanding tahun 2022. Di Kamboja, jumlah WNI meroket tajam: dari 2.330 pada 2020 menjadi 19.365 pada 2024. KBRI Phnom Penh bahkan mencatat 166.795 kedatangan WNI ke Kamboja selama tahun 2024, naik sebelas kali lipat dalam lima tahun.
Baca juga : Prabowo Tegaskan Generasi Emas Sebagai Penjaga Nilai Pancasila
Angka-angka ini bukan sekadar statistik migrasi kerja ini adalah sinyal keras bahwa banyak anak muda kehilangan harapan pada ekosistem kerja di dalam negeri. Istilah “kabur aja dulu” menjadi semacam refleksi mentalitas baru: bukan karena tidak cinta tanah air, tetapi karena merasa Indonesia tidak memberi cukup ruang untuk berkembang secara profesional.
Deindustrialisasi Prematur dan Krisis Peluang Kerja bagi Generasi Muda
Salah satu penyebab utamanya adalah deindustrialisasi prematur. Ketika banyak negara di Asia Tenggara sedang menguatkan basis industrinya, Indonesia justru kehilangan arah. Pabrik manufaktur yang dulu menjadi tumpuan lapangan kerja kini makin sedikit, sementara sektor informal tumbuh tanpa mampu memberi kepastian masa depan. Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi bahkan S2 terpaksa bekerja serabutan atau pindah ke luar negeri mencari karier yang lebih jelas.
Dosa Ekonomi Orde Baru, Mobilitas Global Anak Muda, dan Tantangan Menciptakan Alasan untuk Pulang
Akar masalah ini tidak muncul tiba-tiba. Kita bisa menelusurinya kembali ke keputusan-keputusan ekonomi era Orde Baru. Pada 1973, Indonesia sebenarnya memiliki peluang emas ketika perusahaan teknologi Fairchild Semiconductor ingin mengembangkan industri teknologi tinggi di tanah air. Pemerintah kala itu menolak, dengan alasan klasik: investasi canggih akan mengurangi lapangan kerja padat karya. Keputusan itu menjadi “dosa ekonomi” yang mahal. Fairchild akhirnya pindah ke Malaysia dan dari situlah ekosistem industri elektronik di Asia Tenggara mulai bertumbuh. Indonesia tertinggal, kehilangan kesempatan untuk menjadi pusat industri chip dan elektronik dunia.
Kini, puluhan tahun kemudian, generasi muda menanggung akibatnya. Mereka tidak menemukan jenjang karier yang jelas di dalam negeri karena struktur industri kita tak pernah matang. Ironisnya, anak muda Indonesia harus pergi ke Jepang atau Jerman untuk belajar teknologi manufaktur yang seharusnya bisa tumbuh di sini sejak lama.
Namun fenomena ini juga menyimpan sisi positif: semangat mobilitas global generasi muda menunjukkan bahwa mereka adaptif, berani, dan haus akan kemajuan. Tantangannya adalah bagaimana negara mampu memanfaatkan energi ini bukan dengan menahan mereka pergi, tetapi dengan menciptakan ekosistem ekonomi yang membuat mereka ingin pulang.
Indonesia punya banyak anak muda pintar, berani, dan bermimpi besar. Tapi mimpi saja tidak cukup jika negaranya tidak memberi lahan untuk tumbuh. Jika deindustrialisasi terus dibiarkan, maka “kabur dulu” akan terus terdengar bukan karena mereka ingin pergi, tetapi karena negeri ini belum cukup siap menampung mimpi mereka.
Redaksi Energi Juang News



