Energi Juang News, Jakarta– Jepang mengeluarkan peringatan keras kepada Israel terkait masa depan two state solution atau solusi dua negara sebagai jalan damai Palestina–Israel. Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, menegaskan Tokyo siap menjatuhkan sanksi jika Israel mengambil langkah yang meruntuhkan fondasi perdamaian tersebut.
“Jika terjadi perkembangan yang benar-benar menghancurkan fondasi solusi dua negara, Jepang akan mempertimbangkan semua opsi, termasuk sanksi terhadap Israel atau pengakuan negara Palestina,” kata Iwaya seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (8/10/2025).
Jepang Desak Israel Hentikan Langkah Sepihak
Iwaya menekankan prioritas utama saat ini adalah menghentikan tindakan sepihak Israel dan segera menyepakati gencatan senjata berkelanjutan. Ia juga menuntut pembebasan sandera serta percepatan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
“Semua pihak harus bertindak sesuai dengan rencana perdamaian yang sudah diusulkan. Jepang menegaskan kembali dukungannya pada prinsip two state solution,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa Jepang tidak akan pasif menghadapi konflik yang berkepanjangan.
Bukan Lagi Pertanyaan “Jika”, Tetapi “Kapan”
Sebelumnya, dalam konferensi PBB di New York pada September 2025, Iwaya menyebut pengakuan Palestina oleh Jepang “bukan masalah apakah, tetapi kapan”. Ia menegaskan Tokyo siap mengambil langkah-langkah baru jika Israel terus menghalangi realisasi solusi dua negara.
“Jepang sepenuhnya mendukung aspirasi rakyat Palestina untuk memiliki negara merdeka mereka sendiri. Jika Israel menghalangi proses ini, maka Jepang akan terpaksa memperkenalkan respons baru,” tegasnya.
Tekanan Diplomatik Asia terhadap Israel
Sikap Jepang menambah daftar negara Asia yang mulai bersuara keras soal krisis Gaza. Selama ini, Jepang dikenal berhati-hati dalam isu Timur Tengah, tetapi perang berkepanjangan dan meningkatnya korban sipil di Gaza membuat Tokyo mengambil posisi lebih tegas.
Pernyataan Iwaya berpotensi memicu ketegangan baru dalam hubungan Jepang–Israel. Namun, langkah ini juga memperlihatkan upaya Jepang membangun citra sebagai mediator internasional yang tidak hanya netral, tetapi juga berani memberikan tekanan politik.
Redaksi Energi Juang News



